FOKUS

BI: Sukses Redenominasi, RI Bisa Tiru Turki

Turki berhasil karena melakukan sosialisasi yang baik ke masyarakat.
Jum'at, 6 Agustus 2010
Oleh : Amril Amarullah
Logo Bank Indonesia

VIVAnews - Direktorat Riset dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI) telah melakukan kajian redenominasi atau penyederhanaan penyebutan mata uang rupiah selama dua tahun.

"Secara ekonomi jangka panjang, redenominasi rupiah akan berdampak efisiensi dalam sistem pembayaran," kata peneliti Direktorat Riset dan Kebijakan Moneter BI, Yudha Agung, dalam workshop wartawan bertema Korelasi Stabilitas Moneter dan Sistem Keuangan di Bandung, Jumat 6 Agustus 2010.

Redenominasi adalah penyederhanaan penyebutan satuan harga maupun nilai mata uang. Maksudnya, pecahan mata uang disederhanakan tanpa mengurangi nilai dari uang tersebut. Nilai mata uang tetap sama meski angka nolnya berkurang. Misalnya, Rp1.000 menjadi Rp1, sedangkan Rp1 juta menjadi Rp1.000.

Yudha menegaskan, redenominasi hanya mengubah nominal mata uang dan tidak terhadap nilai uang tersebut. Secara fundamental, redenominasi rupiah tidak mempengaruhi ekonomi Indonesia.

BI, menurut Yudha, telah melakukan kajian selama dua tahun dengan berbagai metode seperti survei dan studi banding. Hasilnya, BI harus menekankan kepada pentingnya pemahaman publik dalam masa transisi dari uang lama ke uang baru.

Menurut Yudha, Indonesia dapat belajar dari negara Turki yang telah berhasil melakukan redenominasi. Turki berhasil karena melakukan sosialisasi yang baik ke masyarakat.

Yudha yakin, jika sosialisasi berlangsung baik, proses redenominasi rupiah akan berlangsung selama 3-5 tahun ke depan.

"Berlakukan mata uang lama dan baru secara bersamaan disertai dengan sosialisasi, maka dalam 3 hingga 5 tahun ke depan berlangsung mulus," ujarnya. (art)

Laporan: Iwan Kurniawan | Bandung

TERKAIT
File Not Found
TERPOPULER
File Not Found