FOKUS

Ratusan Prajurit TNI di Papua Terserang AIDS

Sekitar 144 prajurit terinfeksi lewat hubungan seks. Empat tewas, 15 ribu masih diperiksa.

ddd
Kamis, 12 Agustus 2010, 23:30
 
  (ANTARA/R. Rekotomo)

VIVAnews - Sedikitnya 144 personel TNI dari jajaran Kodam XVII Cenderawasih Papua, positif terinfeksi virus mematikan, HIV/AIDS. Panglima Kodam XVII Cenderawasih, Mayor Jenderal Hotma Marbun menyatakan jumlah ini tertinggi dibandingkan Kodam lain di wilayah Indonesia.

Menurut Hotma, para prajurit TNI terinfeksi HIV/AIDS sebagian besar tertular melalui hubungan badan. "Anggota yang terkena virus mematikan itu adalah mereka yang nakal, melakukan hubungan seks secara sembarangan,'' ujarnya.

Jumlah penderita tentu mengejutkan mengingat yang terkena adalah anggota militer, suatu organisasi berdisiplin tinggi. "Harus diingat, personil TNI juga manusia biasa," ujar anggota Komisi I DPR Agus Gumiwang dalam perbincangan dengan VIVAnews, Kamis 12 Agustus 2010, menanggapi kabar buruk dari Papua itu.

Sejauh ini, ada empat personil TNI yang melayang jiwanya akibat penyakit ini. Sementara 15 ribu prajurit masih diperiksa.

Agus menilai perlu ada perhatian khusus bagi prajurit yang ada di pelosok, dan perbatasan saat mereka off duty karena ini bukan masalah sepele. "Apa saja yang mereka lakukan selama off itu. Ini harus dipelajari betul," kata dia.

Saat tak bertugas, kata Agus, prajurit pasti berinteraksi dengan penduduk sipil di sekitarnya. "Dan harus diingat, penyebaran HIV AIDS di Papua pun tergolong tinggi," ujar Agus.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah kasus AIDS kumulatif 19.973 kasus sampai 31 Desember 2009. Sebanyak 2808 berasal dari Papua. Jumlah ini termasuk tinggi mengingat penduduk Papua masih sedikit. Angka penderita HIV/AIDS Papua itu tak beda jauh dengan provinsi berpenduduk banyak, 2828 penderita.

"Saya kira memang ada hubungan dengan epidemi virus ini di Papua," kata Agus.

Dia menambahkan, TNI dan negara memang seharusnya memberikan fasilitas bagi prajurit yang bertugas di pedalaman dan perbatasan. "Buku atau peralatan olahraga. Kalau prajurit di pulau Jawa masih lebih enak banyak hiburan, dekat sanak saudara," kata dia. Sehingga, sambungnya, hal-hal yang 'mengganggu pikiran' prajurit saat tak bertugas bisa diminimalisir.

Meski demikian, dia mengakui anggaran TNI untuk fasilitas ini begitu minim. "Tapi, saya kira gaya hidup masyarakat Papua tidak mempengaruhi profesionalitas TNI."

Agus mengatakan sosialisasi betapa bahayanya penyakit HIV/AIDS menjadi pekerjaan rumah TNI sebagai institusi. Pasalnya, kata dia, prajurit yang sudah terjangkit tentu tak bisa bertugas semaksimal prajurit sehat. "Pusing dan sakit kepala saja bisa mengganggu tugas." 

Sementara itu, infeksi HIV/AIDS bahkan sudah terdeteksi sejak seleksi calon prajurit. Komandan Batalyon Infantri (Yonif) 751/Berdiri Sendiri Letkol Inf. Tatang Subarna mengatakan dalam setiap penerimaan calon prajurit, ada saja yang terinfeksi virus penggerogot kekebalan tubuh itu. Rata-rata jumlahnya 5-7 orang.

"Bahkan jumlahnya bisa 10 persen dari total yang mendaftar yakni rata-rata 300 orang. Itu pun baru pendaftar Jayapura," ujar Letkol Tatang di markas Yonif 751, Sentani, Papua.

Padahal, calon prajurit itu masih dalam usia potensial, 17-21 tahun. "Kami prihatin, dalam usia yang masih sangat muda dan begitu potensial, sudah terkena virus HIV/AIDS," ucapnya. Menurut Tatang, jika ditemukan calon prajurit terinfeksi penyakit mematikan itu, pihaknya memilih untuk tidak memberitahu yang bersangkutan.(np)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com