FOKUS

Misterius, Bom Buku 'Pancasila' untuk Japto

Bom yang dikirim ke Japto sama dengan paket bom untuk Ulil Abshar Abdalla dan kantor BNN.

ddd
Rabu, 16 Maret 2011, 20:52
Polisi berusaha menjinakkan bom di Utan Kayu.
Polisi berusaha menjinakkan bom di Utan Kayu. (twitter@KBR68H)

VIVAnews - Lima mobil yang ditumpangi polisi dan Gegana merapat di rumah mewah, Jalan Benda, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa malam, 15 Maret 2011, pukul 21.00 WIB. Rumah itu milik Ketua Umum Pemuda Pancasila Japto S. Soerjosoemarno. Dari rumah itu, Gegana mengamankan paket buku berisi bom. Polisi datang ke rumah Japto setelah mendapat laporan dari penghuni rumah yang curiga mendapat kiriman bom.

Bom yang dikirim ke Japto diduga sama dengan paket bom yang ditujukan ke aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla di Komunitas Utan Kayu, Jakarta Timur dan Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN), Cawang, Jakarta Timur. Tak seperti bom di Utan Kayu, yang melukai tiga  orang termasuk memutuskan tangan Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Timur Komisaris Polisi Dodi Rahmawan. Akhirnya bom di rumah Japto diledakkan tim Gegana tanpa menimbulkan korban.

Paket bom buku bertema seputar 'Pancasila' diledakkan pukul 22.30 WIB. Ledakan terdengar hingga radius 500 meter. Buku tentang Pancasila berdasarkan keterangan Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Boy Rafli Amar. "Judulnya saya agak lupa, tapi tentang Pancasila. Yang pasti, judulnya membuat orang tertarik untuk membuka," tegas Boy

Paket bom di rumah Japto sama dengan di Utan Kayu dan BNN. Namun judul buku yang dikirim kedua tempat itu berbeda yakni "Mereka Harus Dibunuh karena Dosa-Dosa Mereka terhadap Islam dan Kaum Muslimin." Paket buku itu dikirim atas nama Drs Sulaeman Azhar, profesi penulis, dan beralamat di Jalan Bahagia, Gg Panser No 29, Ciomas, Bogor. Nomor telepon selular si pengirim 081332220579.

Meski bukunya berbeda, namun polisi sudah memastikan material bom di tiga lokasi itu sama. Boy mengatakan, material bom adalah potassium chloride dengan daya ledak rendah yang diledakkan dengan cara manual, tanpa pengaturan waktu dan detonator. Bom akan meledak bila buku dibuka. "Pengirim berharap judul buku itu dapat menarik minat targetnya dan membuka buku agar bom dapat terpicu dan meledak," ujar Boy.

Saat ini, kata Boy, polisi sedang fokus menyelidiki orang-orang yang bertugas mengirim paket bom, sambil terus melakukan identifikasi di lokasi kejadian.  Penyelidikan sementara mengungkap kurir bom Utan Kayu dan Japto berbeda. "Pengirim ke rumah Japto posturnya tinggi, agak lebih tinggi. Beda dengan Utan Kayu," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Baharudin Djafar.

Dia mengatakan, pengirim bom ke rumah Japto mengenakan helm, sehingga ciri wajahnya sulit dikenali. "Yang di (rumah) Japto diserahkan ke pos satpam," kata dia.

Lantas, bagaimana dengan pengirim paket bom ke kantor Badan Narkotika Nasional? "Tidak ada melihat siapa yang mengantar," kata dia.

Saat ini, polisi belum dapat mengambil kesimpulan apakah paket bom di tiga lokasi saling terkait. “Kami tidak berani mengaitkannya. Kami hanya bicara mengenai fakta untuk mengungkapnya," kata Baharudin.

Begitu juga dengan motifnya. Dia tidak berani memberikan penjelasan. "Kami sedang berupaya." Namun Baharudin mengatakan, dari ketiga tempat kejadian perkara sudah ada sebelas orang yang dimintai keterangan.

************

Hal tak lazim Japto menjadi sasaran bom. Mengingat sepak terjang Japto selama ini dinilai jauh dari aktivitas kelompok fundamentalis yang selama ini dikaitkan dengan terorisme.

Japto yang bernama asli Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Japto Soelistyo Soerjosoemarno, S.H. lahir di Solo, Jawa Tengah, 16 Desember 1949. Dia adalah tokoh dan pendiri organisasi Pemuda Pancasila.

Boleh dibilang, dia menjadi sentral organisasi ini selama tiga dekade. Menjabat sebagai Ketua Majelis Pimpinan Nasional Pemuda Pancasila sejak Musyawarah Besar (Mubes) III di Cibubur tahun 1981. Pada Mubes VIII Pemuda Pancasila tahun 2009 di Pondok Gede, dia kembali dikukuhkan menjadi pimpinan tertinggi hingga tahun 2014. Dari organisasi ini Japto kemudian mendirikan Partai Patriot Pancasila dimana hingga kini dia menjabat sebagai ketua umumnya.

Selain aktif di Pemuda Pancasila, dia juga aktif di organisasi Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan TNI (FKPPI). Ketika zaman Soeharto dua organisasi ini begitu "berkuasa" karena mendapat sokongan penuh dari TNI dan Pemerintah Orde Baru.

Japto sudah sejak lama dikenal dekat dengan Partai Golkar dan keluarga Cendana. Bahkan hingga kini. Itu dibuktikan ketika terjadi kisruh rebutan saham di TPI antara Hari Tanoesudibyo, dan Siti Hardiyanti Rukmana.

Ketika itu Japto mendukung Tutut dengan mau menduduki kursi direktur utama PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa tanggal 23 Juni 2010. Kisruh ini sempat diwarnai aksi pendudukan kantor TPI oleh sekelompok massa. Japto mengakui orang-orang itu adalah suruhannya. "Kami hanya bertujuh mendatangi untuk memberitahu ada keputusan baru dari Menkum HAM," ujar Japto.

Namun belakangan ini kisruh TPI mereda dan Hari Tanoe yang mengganti nama TPI menjadi MNC TV.

Rekan Japto, Yorris Raweyai, yang juga ketua DPP Partai Golkar saat ditanya soal keterkaitan bom dengan musuh politik Japto menolak berkomentar. Meski dia mengakui kenal dekat dengan Japto sejak lama. "Nggak. Gue nggak mau komentar kalau soal ini," kata Yorris saat dihubungi VIVAnews.com.

Yorris mengatakan, kasus ini sudah ditangani kepolisian sehingga tidak perlu meminta pendapatnya. "Jangan gue. Udah ada yang ngurus (polisi)," kata Yoris sembari menutup telepon. (sj)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
iron maiden
17/03/2011
yg dikirim bom buku adalah simbol2 ; pancasila (YAPTO), pluralisme n islam liberal (ULIL) dan densus 88 (GORIES pernah bertugas disana). siapa yg melakukan?, : jelas kelompok2 lama yg dipimpin oleh ' bapak teroris indonesia' yaitu ba'asyir dan antek2nya
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id