FOKUS

Jutaan Orang Terancam Kelaparan di Afrika

Oxam menilai komunitas internasional gagal mengatasi krisis yang makin tak terkontrol ini.
Kamis, 4 Agustus 2011
Oleh : Renne R.A Kawilarang, Arfi Bambani Amri
Seorang bayi Somalia menderita kekurangan gizi

VIVAnews - Ibu Hassan, begitu dia dipanggil, baru saja tiba di kamp pengungsi setelah berjalan kaki dua minggu dari rumahnya. Dia satu dari puluhan ribu orang Somalia yang menyelamatkan diri ke Kenya dari bencana kelaparan.

Masalahnya, Ibu Hassan itu baru saja melahirkan sehingga menderita pendarahan. Dia perlu segera dilarikan ke rumah sakit untuk menerima pengobatan yang layak.

Dalam artikelnya di Majalah Time, jurnalis Samuel Loewenberg menceritakan secara dramatis Ibu Hassan beserta para pengungsi Somalia lainnya dalam menyelamatkan diri untuk mendapat makanan.

Kondisi mereka pun mengenaskan "Mereka menempuh perjalanan yang begitu jauh dan berbahaya," demikian laporan Loewenberg. Penuturannya itu diperkuat data dari lembaga bantuan Medecins Sans Frontieres bahwa satu dari tiga anak Somalia yang baru tiba di kamp pengungsian di Kenya menderita kekurangan gizi akut akibat tiadanya asupan pangan yang layak.

Setiap hari, kamp itu didatangi 1.400 pendatang baru. Itulah sebabnya, sejak 2008 kamp pengungsi itu tidak mampu lagi menerima para pendatang secara layak. Jumlah pengungsi kini empat kali lipat lebih banyak dari daya tampung. Mereka yang baru datang terpaksa harus tinggal di luar kamp dengan fasilitas seadanya.

Bencana kelaparan di Somalia dan negara-negara di sekitarnya tampak sudah menjadi masalah global. Kondisi di tanduk Afrika semakin memprihatinkan. Kemarau yang memicu kelaparan ini diperkirakan akan terus memburuk sampai akhir tahun ini.

"Sungguh tragis, lebih buruk dari yang disangka banyak orang," kata Kepala Badan Bantuan Amerika Serikat (USAID), Rajiv Shah, kepada stasiun berita PBS, ketika ditanya kesannya setelah mengunjungi kamp pengungsi bagi warga Somalia di Kenya.

Lembaga bantuan asal Inggris, Oxfam, mendata bahwa lebih dari 500.000 orang mengalami kelaparan dan diperkirakan akan meningkat ke angka 3 juta orang. Kondisi ini juga berdampak pada 15 juta orang di Ethiopia, Somalia dan Kenya.

Dalam rilis yang disebar 2 Agustus 2011, Oxfam meminta pemerintah dan lembaga donor segera bertindak dengan segera untuk mencegah krisis semakin memburuk di timur Afrika ini. Lembaga ini menyatakan, komunitas internasional gagal mengatasi krisis yang makin tak terkontrol ini.

Perserikatan Bangsa-bangsa memperkirakan jumlah orang yang membutuhkan bantuan lebih dari 15 juta. Mereka butuh makanan, air dan tempat tinggal.

Jumlah uang yang dibutuhkan pun meningkat. Pekan lalu, PBB meningkatkan anggaran untuk Somalia dan Kenya sampai US$600 juta, sehingga anggaran total mencapai US$1,47 miliar.

“Afrika Timur berada di titik penting krisis kemanusiaan. Ratusan ribu orang menghadapi kelaparan kecuali jika donor melangkah maju, mencegah bencana," kata Juru Bicara Oxfam, Elise Ford.

Oxfam sendiri sudah meningkatkan programnya untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Oxfam menargetkan kerjanya menjangkau 3 juta orang di Somalia, selatan Ethiopia dan utara Kenya. Untuk itu, Oxfam butuh US$91 juta dan baru memperoleh US$36 juta.

Lembaga tersebut memperingatkan, kondisi 3-4 bulan mendatang semakin memburuk di tiga kawasan itu. Situasi tetap "darurat" sampai akhir tahun. Seluruh Somalia Selatan sepertinya akan dideklarasikan kelaparan terkait kombinasi keadaan alam, kenaikan harga makanan dan buruknya hasil panen.

Di Somalia, Oxfam menyediakan air dan sanitasi untuk lebih dari 230.000 orang di pinggiran Mogadishu. Lembaga juga membantu lebih dari 60.000 orang keluar dari zona kekeringan di Somalia Selatan.

Tidak Berdaya

Pemerintah Somalia sendiri sudah tidak berdaya. Mereka justru terus menyerukan "campur tangan internasional" untuk membantu mengatasi bencana kekeringan dan kelaparan. Bencana itu telah menyebabkan ribuan warga Somalia mengungsi ke negara-negara tetangga.

"Situasi sekarang sangat parah dan tindakan kami sangat terbatas akibat kekeringan yang ekstrem," kata juru bicara pemerintah Somalia, Omar Osman, yang dikutip stasiun berita Voice of America akhir Juli lalu.

"Pemerintah kami telah berbuat banyak dengan memobilisasi sumber-sumber yang dapat dikerahkan untuk mengamankan pasokan dari badan-badan bantuan kemanusiaan internasional ke Ibukota Mogadishu dan berharap kepada masyarakat internasional untuk membantu dan Perdana Menteri secara pribadi telah mengambil inisiatif itu," kata Omar.  

Presiden Somalia dan PBB sebelumnya telah menyatakan bahwa kelaparan menyerang dua kawasan, yaitu Bakool dan Lower Shabelle. Omar juga menuding bahwa milisi pemberontak garis keras, al-Shabab, justru menghalang-halangi misi bantuan kemanusiaan ke wilayah yang dilanda bencana kelaparan.

"Kami telah menyaksikan banyak pengungsi maupun mereka yang tidak punya tempat tinggal ramai-ramai keluar dari wilayah yang dikuasai al-Shabab ke tempat yang dikendalikan pemerintah," kata Omar.

Al-Shabab, yang digolongkan AS sebagai kelompok teroris terkait al-Qaida, mengendalikan banyak tempat di sebelah selatan dan tengah Somalia. Pemerintah hanya menguasai beberapa bagian di Ibukota Mogadishu.

Di sisi lain, al-Shahab menuding PBB telah memanfaatkan isu kelaparan sebagai alat propaganda untuk tujuan politik mereka. Kelompok itu bertekad tidak akan mengizinkan kelompok-kelompok bantuan yang dicurigai punya misi politik tertentu.

TERKAIT
File Not Found
TERPOPULER
File Not Found