FOKUS

Kecelakaan Kapal Beruntun, Salah Siapa?

Lima kecelakaan terjadi dalam waktu sebulan saja. Lokasinya tersebar.

ddd
Rabu, 28 September 2011, 21:29
KMP Laut Teduh terbakar di Selat Sunda
KMP Laut Teduh terbakar di Selat Sunda (ANTARA/ Asep Fathulrahman)

VIVAnews – Hari masih pagi, matahari belum lagi penuh. Namun, suasana di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, sudah hiruk-pikuk. Api berkobar dari Kapal Motor Kirana IX yang hendak membuang sauh. Lebih dari 500 penumpang kapal itu yang awalnya siap berangkat, tampak panik dan berebut berjejalan keluar kapal. Akibatnya fatal dan tragis, 8 orang di antara mereka tewas terinjak-injak.

Ironisnya, ini adalah kecelakaan kapal kelima dalam bulan ini. Sebulan lalu, tepatnya 27 Agustus 2011, Kapal Motor Windu Karsa tenggelam di perairan Kolaka, Sulawesi Tenggara, dan menyebabkan 10 orang tewas. Pada 21 September 2011, Kapal Motor Sri Murah Rezeki tenggelam di perairan Nusa Lembongan, Klungkung, Bali, dan menyebabkan 14 orang tewas.

Hanya berselang dua hari kemudian, yaitu tanggal 24 September 2011, Kapal Motor Tunggal Putri tenggelam di perairan Pulau Raas, Kepulauan Kangean, Sumenep, Madura, dan menyebabkan 13 orang tewas. Dua hari selanjutnya, 26 September 2011, Kapal Motor Marina Nusantara tenggelam di perairan Pulau Kadap, perairan Barito, Kalimantan Selatan. Dan hari ini, lagi-lagi dua hari sesudah kecelakaan sebelumnya, giliran Kapal Motor Kirana IX yang terbakar.

Anggota Komisi Perhubungan DPR, Saleh Husin, menyesalkan terjadinya kecelakaan beruntun tersebut. Menurutnya, insiden-insiden itu menampar ‘roadmap to zero accident’ yang digembor-gemborkan oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan.

“Saya prihatin. Musibah kapal itu tidak semestinya terjadi,” kata Saleh, Rabu 28 Agustus 2011. Menurutnya, Kementerian Perhubungan harus mempertanggungjawabkan berbagai kecelakaan tersebut. Saleh menduga, ada kelalaian regulator maupun petugas di lapangan.

Komisi V DPR pun berniat untuk memanggil pihak-pihak terkait sehubungan dengan insiden kecelakaan kapal yang marak terjadi. “Kami ingin mendapatkan gambaran masalahnya untuk dianalisa,” kata dia.

Tak bisa dipukul rata?

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan, Bambang Ervan, mengatakan bahwa setiap kecelakaan kapal memiliki penyebab yang berbeda, sehingga tidak bisa dipukul rata. “Kebakaran di Kapal Kirana misalnya, kan bukan karena kapalnya sendiri yang terbakar, tapi karena terbakarnya truk yang berada di dalam kapal,” ujarnya.

Bambang menegaskan KM Kirana merupakan kapal penumpang besar jenis roro yang sudah pasti memiliki sertifikat kelayakan. Kapal roro merupakan singkatan dari roll in-roll off, yaitu jenis kapal yang bisa memuat kendaraan yang berjalan masuk ke dalam kapal dengan pergerakannya sendiri, dan bisa keluar dari dalam kapal dengan bergerak sendiri pula.

Oleh karena itu, selain untuk mengangkut penumpang, kapal roro juga digunakan untuk mengangkut mobil penumpang, truk, atau sepeda motor. Kapal jenis ini populer digunakan di Jawa, Sumatera, Madura, dan Bali. “Kapal-kapal itu umumnya sudah melalui uji kelayakan. Setiap tahun, kapal penumpang besar harus naik dok untuk diperiksa. Kapal yang lolos pemeriksaan selanjutnya akan diberi serifikat oleh Biro Sertifikasi Indonesia,” papar Bambang.

Apapun, tegas Bambang, Kemenhub tidak akan lepas tangan atas berbagai kecelakaan kapal laut yang terjadi belakangan ini. “Secara nasional, Kemenhub memang bertanggung jawab. Tapi pasti ada tanggung jawab yang juga secara berjenjang dan hierarkis, karena itu bagian dari teknis operasional,” kata Bambang.

Wakil Menteri Perhubungan, Bambang Susantono, mengatakan bahwa Kemenhub akan mengevaluasi dan menata ulang jalur pelayaran di sejumlah wilayah di Indonesia. “Alur pelayaran akan kami tata ulang. Selama ini, kecelakaan yang terjadi di perairan diduga akibat minimnya pengawasan di sekitar lokasi,” kata dia.

Budaya keselamatan

Kasub Komite Laut Komite Nasional Keselamatan Transportasi, Hermanu Karmoyono, menyoroti budaya keselamatan masyarakat Indonesia yang masih rendah. “Dari beberapa kali investigasi KNKT, terdapat indikasi kuat bahwa kecelakaan-kecelakaan kapal tersebut disebabkan oleh budaya keselamatan masyarakat yang rendah,” kata Hermanu.

Menurutnya, persoalan kecelakaan kapal adalah masalah bersama yang harus ditangani bersama pula oleh semua pihak. “Kami tidak boleh menyalahkan siapa pun. Yang pasti, budaya keselamatan harus dijunjung tinggi oleh seluruh pihak, termasuk penumpang kapal sendiri,” kata Hermanu.

Ia lantas mencontohkan kecelakaan Kapal Kirana yang disebabkan oleh truk yang terbakar dalam kapal. Di bagian kabin truk tersebut--di mana api berkobar paling besar--ditemukan botol parfum, sementara truk itu sendiri memuat bawang bombay.

“Parfum kan mengandung alkohol yang mudah terbakar. Bisa jadi itu bersenyawa dengan zat kimia yang ada dalam bawang,” ujar Hermanu. Namun dia tidak mau menyimpulkan apapun sebelum ada hasil pemeriksaan resmi dari Laboratorium Forensik Mabes Polri Cabang Surabaya.

Intinya, jelas Hermanu, hal-hal berbahaya seperti itu kadang kurang diperhatikan oleh masyarakat, termasuk supir truk yang juga menjadi penumpang kapal. Padahal, kata dia, truk-truk yang menumpang dalam kapal memang kerap membawa bahan-bahan yang–disadari atau tidak–tergolong berbahaya.

“Misalnya gas, minyak cat, plastik. Bila berinteraksi dengan senyawa yang mudah terbakar pada suhu tertentu, bahan-bahan itu mudah terbakar. Bahan-bahan itu bisa memicu uap yang menyebabkan kebakaran, atau justru menjadi awal api,” papar Hermanu.

Bahan-bahan tersebut, lanjutnya, bisa menjadi lebih berbahaya apabila ada orang merokok di dekat situ. “Jangan salah, meski di dek kendaraan dilarang merokok, tapi ada saja orang yang merokok di situ,” kata Hermanu. Menurutnya, dalam hal ini, kesadaran dan kedisiplinan masyarakat juga diperlukan dalam mencegah kecelakaan semacam itu.

Hermanu pun mengimbau agar pengamanan di pelabuhan diperketat, termasuk dalam memeriksa muatan truk-truk yang masuk ke kapal. Ia juga meminta supir-supir truk untuk bersikap jujur, demi keamanan penumpang dan diri mereka sendiri.

“Jangan sampai kejadian, karena muatan truk dianggap berbahaya dan truknya dilarang naik kapal, supir-supir truk itu lantas menghajar pengawas pelabuhan,” ujar Hermanu. Sayangnya, imbuh dia, kejadian semacam itu masih banyak di banyak pelabuhan, terutama di pelabuhan-pelabuhan di bagian timur Indonesia.

Apapun, Hermanu tak mau menyalahkan dan menuduh pihak mana pun. “Kami tidak boleh menyalahkan siapa pun. Yang pasti, budaya keselamatan harus dijunjung tinggi oleh seluruh pihak, termasuk penumpang kapal sendiri,” kata dia.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
kromo
29/09/2011
semua resources kita dibandingkan kebutuhannya serba nanggung tetapi roda harus tetap berputar, begini deh jadinya....
Balas   • Laporkan
yanto
29/09/2011
Sudah saatnya Pemerintah membentuk Lembaga Komite Pemantau Jasa Transportasi yang memiliki wewenang didalam pengawasan, pengendalian dan pemberantasan kinerja buruk baik yang dilaksanakan oleh departemen maupun swasta terhadap pelayanan angkutan
Balas   • Laporkan
rois-almastar
29/09/2011
Tolong deh Pak Menteri, segera sebar luaskan juklak keselamatan agar cepat membudaya di semua sektor layanan penumpang, dari angkutan udara, laut dan darat, bahkan sampai ke angkot-angkot. Kendaraan umum yang sudah tidak laik jalan wajib dimusnahkan.
Balas   • Laporkan
felix borneo
29/09/2011
Salah siapa? Gx perlu saling menyalahkan.. Yang benar saling kerja sama buat memecahkan permasalahan yang terjadi.. Dan jangan kebnyakan ngomong, ntar sling menyalahkan yah nggak tuntas2 deh ne masalah..
Balas   • Laporkan
felix borneo
29/09/2011
Salah siapa? Gx perlu saling menyalahkan.. Yang benar saling kerja sama buat memecahkan permasalahan yang terjadi.. Dan jangan kebnyakan ngomong, ntar sling menyalahkan yah nggak tuntas2 deh ne masalah..
Balas   • Laporkan
din
28/09/2011
Musibah terus melanda di negeri pertiwi ini. innalillahi wa innailaihi rajiun.
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com