FOKUS

Curi Sandal Polisi, Pantas Dibui 5 Tahun?

Posko Sandal untuk Kapolri telah berhasil menghimpun 1.000 sandal.

ddd
Kamis, 29 Desember 2011, 21:06
Sandal jepit
Sandal jepit  

VIVAnews – Entah apa yang ada di benak AAL, pelajar sebuah sekolah menengah kejuruan negeri di Palu, Sulawesi Tengah, ketika mengetahui kenakalan ‘kecilnya’ berbuntut panjang dan berbuah pahit sampai lebih dari setahun kemudian.

Suatu hari di bulan November 2010, AAL bersama kawannya melintas di depan kos seorang anggota Brimob Polda Sulawesi Tengah berpangkat Briptu. Di depan kos sang Briptu berinisial AR, AAL melihat sandal jepit tergeletak. Tanpa berpikir panjang, ia kemudian mengambil sandal jepit tersebut.

Menurut Briptu AR, selain dirinya, kawan-kawan sekosnya pun kehilangan sandal. Ia pun mempersoalkan pencurian sandal jepit itu ke pihak kepolisian tempatnya mengabdi. Enam bulan setelah peristiwa pencurian itu, polisi memanggil AAL dan kawannya. Mereka diinterogasi, bahkan dipukuli dengan tangan dan benda tumpul.

AAL menderita lebam di punggung, kaki, dan tangan, akibat kekerasan yang ia terima saat interogasi itu. Ia pun mengaku mencuri sandal. Kasus terus bergulir. Pengaduan Briptu AR soal sandalnya yang dicuri AAL diproses terus secara hukum dan akhirnya masuk ke Kejaksaan Negeri Palu.

Kasus pencurian sandal jepit ini pun sampai juga ke pengadilan, dan AAL resmi menjadi terdakwa. Jaksa menyatakan, AAL melakukan tindak pidana sebagaimana Pasal 326 KUHP tentang Pencurian. AAL pun diancam 5 tahun penjara.

Masyarakat terkejut. Betapa bocah pencuri sandal jepit bisa terancam hukuman layaknya koruptor. Nasib mirip dengan AAL pernah dialami oleh seorang nenek bernama Mina tahun lalu. Bedanya ia tidak mencuri sandal. Ia dan dua orang anaknya dituduh mencuri 2 kilogram buah randu seharga Rp12.000.

Efendi, pemilik pohon randu di lahan PT. Segayung di Desa Sembojo, Kecamatan Kulit, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, melaporkan Nenek Mina dan kedua anaknya ke Polres Batang. Nenek Mina dan anak-anaknya yang masih di bawah umur itu pun ditahan dan diancam 7 tahun penjara.

Hentikan Kasus

Kapolres Palu AKBP Ahmad Ramadhan, ketika dihubungi VIVAnews.com, mengaku heran dengan kasus bocah pencuri sandal jepit polisi itu. Ahmad yang baru menjabat Kapolres selama sebulan itu bahkan menegaskan, kasus tersebut layak dihentikan apabila terbukti mengesampingkan sisi manusiawi.

Menurutnya, pihaknya saat ini hendak memanggil Kepala Unit Reskrim (Kanitres) Polres Palu untuk mendalami kasus tersebut. “Kasus ini kan ditangani oleh Polsek. Prosedurnya, penyidikan dari Polsek dibawa ke kejaksaan,” papar Ahmad, Kamis 29 Desember 2011.

Ahmad sendiri mengaku heran bila kasus semacam ini sampai dibawa ke kejaksaan, apalagi si bocah AAL kini duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. “Kok bisa begitu? Kasus ini patut saya hentikan,” kata Ahmad.

Ia mengatakan tak habis pikir dengan Briptu AR yang ‘ngotot’ kasus tersebut dibawa ke pengadilan. “Kok polisi yang terlibat tidak punya perasaan? Jangankan sandal, sepatu, bahkan mencuri 10 sepatu pun harus diproses dengan melihat latar belakang si anak,” ujar Ahmad.

Ia sendiri mengaku pernah menghentikan kasus serupa saat dirinya masih menjabat sebagai Kapolsek Tolitoli. Ketika itu, lanjutnya, ia melepas seorang anak kecil yang kedapatan mencuri celana jeans.

“Ironisnya, kali ini orang yang membawa kasus ini ke pengadilan adalah anggota polisi Brimob. Karena kasus ini ditangani Propam Polda, maka akan saya cek apa ada unsur paksaan (terhadap si anak) di sini,” kata Ahmad.

Seribu Sandal untuk Briptu AR

Simpati publik untuk AAL pun menyeruak. Berbagai elemen masyarakat didukung oleh sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat, beramai-ramai mengadu ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Mereka bahkan membuka ‘Posko Sandal untuk Kapolri’ sebagai bentuk protes atas ketidakadilan yang menimpa bocah AAL.

Masyarakat bahkan berduyun-duyun mengumpulkan sandal jepit untuk Briptu AR guna mengganti kerugian materiil yang ia derita. “Sekarang sudah terkumpul sampai seribu sandal. Yang hilang (dicuri AAL) 3 sandal, tapi ini supaya Briptu AR puas. Supaya dia tidak perlu beli sandal seumur hidup,” kata Sekjen KPAI M. Ikhsan.

Dia menegaskan, terkumpulnya seribu sandal itu merupakan bentuk keprihatinan warga terhadap penegakan hukum di negeri ini yang hanya mengedepankan sisi prosedural tanpa mempertimbangkan sisi manusiawi. Dari segi prosedur penanganan bocah AAL pun, terang Ikhsan, polisi menyalahi prosedur, di mana perlakuan terhadap pelaku kejahatan anak-anak seharusnya dibedakan dengan orang dewasa.

“Dari segi hukum, seharusnya anak-anak dibina, dibimbing, dan dikembalikan ke orang tuanya. Jadi kasus ini jelas-jelas mengabaikan Surat Edaran Kapolri yang berisi instruksi agar kasus anak diberi perlakuan berbeda,” jelas Ikhsan.

Menurutnya, Mabes sendiri telah memberi penjelasan kepada KPAI bahwa Surat Edaran Kapolri itu telah mereka kirim ke semua Polda, Polres, sampai Polsek.

“Bisa jadi kasus ini terjadi karena penyidik lapangan belum paham penerapan Surat Edaran Kapolri di lapangan. Mabes sudah berjanji untuk menegur pelapor Briptu AR,” tutur Ikhsan.

Saat ini, lanjutnya, yang perlu diingatkan dan diawasi terkait kasus pencurian sandal jepit oleh AAL itu adalah pihak kejaksaan, utamanya Kejaksaan Negeri Palu. “Kita harus ingatkan kejaksaan, karena kejaksaan yang sekarang melakukan penuntutan,” kata Ikhsan.

Menurutnya, ada beberapa opsi yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan si bocah AAL. Pertama, kejaksaan bisa merehabilitasi si anak dengan tidak meneruskan proses hukumnya di peradilan. Kedua, AAL dapat dibebaskan dari hukuman pidana kurungan.

“Ini agar tidak menjadi preseden buruk di masa depan. Kalau tidak, bisa-bisa banyak anak masuk penjara karena kenakalan-kenakalan masa remaja,” ujar Ikhsan.

Menurutnya, tindakan AAL lebih tepat dikategorikan sebagai kenakalan masa remaja sebagai bentuk tumbuh kembang mereka di masa transisi.
“Di masa transisi itu, remaja kan cenderung melakukan tindakan menyerempet hukum,” kata Ikhsan. Oleh karena itu, KPAI berharap kejaksaan bisa mempertimbangkan sisi psikologis anak.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
bangnapi79
03/01/2012
aparat polisinya memang keparat, mosok cuma nyolong sendal jepit dipukuli hingga lebam dan diancam 5th??? emangnya dia koruptor??? koruptor aja paling dihukum 2th.... harusnya mereka dibimbing bukan dihukum karena masalah sepele sandal jepit
Balas   • Laporkan
hura.hura
30/12/2011
buat briptu ar ..tega banget kau keparat , dah tau anak kecil nyolong hanya buat makan ,malah kau hajar dan kau pidanakan pula..polisi macam apa kau ni .pantaskah sebagai pengayom bangsa tapi nalarmu tak lebih hina dari sebuah sandal yang kau pidanakan
Balas   • Laporkan
feryhartanto
30/12/2011
sintiiiing,,,,!!!!
Balas   • Laporkan
5777
30/12/2011
kalau gitu enakan jadi koruptor ketimbang mencuri sandal jepit hukumannya lebih ringan dan bisa bebas lagi karna banyak duit pake bayar yg bantuin biar bebas. bener bener bobbrok hukum dinegri kita ini.
Balas   • Laporkan
bangnapi79 | 03/01/2012 | Laporkan
setuju gan... malah enakan koruptor nyolong 100m cuma dihukum 2thn dan bisa keluar masuk penjara pula, dasar negara bedebah
scan
30/12/2011
kalo nyolong sendal jepit dihukum 5 tahun, gmn yg korupsi milyaran rupiah bisa jadi abu dipenjara.
Balas   • Laporkan
5777 | 30/12/2011 | Laporkan
kalau jaman sekarang koruptor gak jadi abu malahan jadi raja dan ratu dipenjara dengan fasilitas yg wah karna semua bisa dibeli
bolo_sewu
30/12/2011
Pantasnya dihukum 1000 tahun untuk pencuri sandal, karena ni case nga ada dokunya gan, kalo koruptor lha baru bisa nego selamat buat briptu AR yg telah Berprestasi besar menangkap pencuri sandal semoga anda cepat menjadi komisaris atas prestasi anda.
Balas   • Laporkan
ipoey
30/12/2011
cuma sendal gitu aja sampai ke pengadilan...gak ada otak tuh polisi.....mahal kali rupanya sendal mu tuh...pak polisi kacangan.....? makin bertambah lah kebencian ku sama kepolisian negeri ini...
Balas   • Laporkan
harris.chaliboe | 04/01/2012 | Laporkan
setuju.........
fimma
30/12/2011
nih polisi kurang kerjaan aje kali yah.. kehilangan sendal jepit gitu ajah pake di bawa ke meja hijau segala... pke acara maw di hukum 5 tahun lagi... cemen banget sih berninya sama anak kecil. ...
Balas   • Laporkan
parikesitt
30/12/2011
mestinya anak itu cukup dibuat kapok saja gak perlu sampe ke pengadilan.
Balas   • Laporkan
irawan.mz | 30/12/2011 | Laporkan
Benar.. Nggak perlu diadili malah kalau ditempatku di PLG minimal satu gigi rontok utk pencuri seperti itu.
cinta__indonesia
30/12/2011
kl polisi semacam ini trs polisi yg mati tua/muda udah pensiun/belum sebaiknya jgn d layat biar keluarga dia yg mengubur sendiri.....kita rakyat kcl tinggal nonton aja.............
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id