FOKUS

Kemelut UI Belum Usai Juga, Dekan FK Dicopot

Ratna Sitompul adalah Ketua "UI Bersih" yang gencar menuding Rektor UI
Selasa, 10 Juli 2012
Oleh : Anggi Kusumadewi, Oscar Ferri, Arry Anggadha
Dekan FKUI Ratna Sitompul diberhentikan dari jabatannya dan dikembalikan ke Kementerian Kesehatan.

VIVA – Rektor Universitas Indonesia secara mengejutkan memberhentikan DR. Dr. Ratna Sitompul SpM(K) dari jabatannya selaku Dekan Fakultas Kedokteran UI pada Senin, 9 Juli 2012. Ratna pun dikembalikan UI ke instansi asalnya di Kementerian Kesehatan RI.

Namun, pemberhentian Ratna ini dibayang-bayangi oleh perang dingin antara dirinya dan Rektor UI Prof. Dr. der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri. Ini terkait jabatan Ratna sebagai Ketua “UI Bersih”, sebuah gerakan di kampus UI yang gencar melancarkan perlawanan terhadap kebijakan Gumilar.

Kemelut di UI pun kembali menyeruak. Ratna tak menerima pemberhentian dirinya begitu saja. Dia menuding Rektor Gumilar menyalahi kesepakatan dan aturan soal pergantian dekan di UI.

“Saat ini ada lima dekan lain di UI yang juga sudah habis masa kerjanya. Namun mereka semua tidak diberhentikan karena memang sudah ada kesepakatan dan aturan mengenai itu,” kata Ratna dalam konferensi pers di FKUI, Salemba, Jakarta Pusat, Selasa 10 Juli 2012.

Yang dimaksud adalah kesepakatan antara Majelis Wali Amanat (MWA) UI, Rektor UI, dan Mendikbud pada Desember 2011. Gumilar juga dia tuduh menyalahi arahan Dirjen Dikti Kemendikbud pada Januari 2012, melanggar ketetapan MWA Maret 2012, dan menyalahi arahan Ketua Tim Transisi UI Anwar Nasution.

Rangkaian teguran

Sebelum diberhentikan, Ratna yang merupakan dekan wanita pertama FKUI itu menerima serangkaian surat dari Rektor Gumilar, termasuk surat teguran. Surat pertama tertanggal 26 Juni 2012, berisi instruksi Rektor bahwa FKUI harus segara melaksanakan proses pemilihan Dekan FKUI periode 2012-2016. FKUI diminta sudah harus menyampaikan tiga nama calon dekan yang baru paling lambat tanggal 3 Agustus 2012.

Namun, terhadap instruksi ini, Tim Transisi UI lewat surat tertulis meminta Rektor Gumilar mencabut dan membatalkan surat itu. Mereka menilai perintah itu bertentangan dengan arahan Ketua Tim Transisi UI Prof. Anwar Nasution yang menetapkan pergantian dekan baru akan dilakukan sesudah pergantian Rektor UI pertengahan Agustus 2012.

Tim Transisi UI dibentuk berdasarkan hasil mediasi dan kesepakatan bersama antara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Rektor UI, dan Majelis Wali Amanat (MWA) UI untuk mengatasi kisruh yang lama membelit kampus jaket kuning. Salah satu tugas utama Tim Transisi UI itu adalah membantu proses pemilihan rektor baru UI.

Surat teguran kedua dari Rektor UI untuk Ratna dikeluarkan tanggal 28 Juni 2012. Isinya serius. Ratna disebut melanggar rahasia jabatan karena kerap mengumbar pernyataan di depan publik. Surat ini ditembuskan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Kesehatan, Ketua Majelis Wali Amanat, dan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi.

Surat ketiga dilayangkan Rektor UI pada 6 Juli 2012. Kini ditujukan kepada Menteri Kesehatan. Isinya menjelaskan bahwa masa tugas Ratna yang berstatus Dosen Luar Biasa FKUI itu telah berakhir sejak 22 April 2012 sehingga dia dikembalikan ke Kementerian Kesehatan.

Dan pada Senin kemarin, 9 Juli 2012, vonis pun dijatuhkan. Surat Rektor Gumilar kepada Ratna menyatakan, “Tugas Saudari selaku Dekan dan Plh. Dekan FKUI telah berakhir.” Di hari yang sama, Gumilar menerbitkan surat penugasan kepada dr. Prijo Sidipratomo SpRad(K) untuk menjadi Pelaksana Harian Dekan FKUI.
UI Bersih

Gerakan UI Bersih yang diketuai Ratna tak pelak ikut menolak keputusan Rektor Gumilar. “Kami menganggap langkah Rektor ini jelas menunjukkan ketiadaan niat baik Gumilar untuk memperbaiki keadaan di UI dan konflik berkepanjangan yang menyertainya,” ucap Dosen Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI, Ade Armando, yang tergabung dalam gerakan ini.

Lebih jauh, Ade menuduh pemberhentian Ratna merupakan bagian dari upaya menamengi Rektor dari gugatan yang dilayangkan UI Bersih terhadap berbagai bentuk mismanajemen dan praktik korupsi. Tak tanggung-tanggung, UI Bersih menuding kepemimpinan Gumilar selama empat tahun terakhir telah merugikan negara puluhan milyar rupiah. Tak hanya itu, Ade juga bercuriga Ratna dipecat “dalam rangka memuluskan jalan Gumilar untuk terpilih kembali sebagai Rektor UI masa jabatan lima tahun berikutnya.”

Bantahan UI

Berbagai tudingan itu dibantah Kepala Kantor Komunikasi UI, Siane Indriani. “Pemberhentian Dekan FKUI tidak ada kaitannya dengan itu semua. Pemberhentian ini karena masa jabatan yang bersangkutan sudah selesai sejak 22 April 2012,” kata Siane.

Siane menjelaskan Ratna menjabat sebagai Dekan FKUI sejak 22 April 2008. Selama di UI Ratna diperbantukan pada FKUI sebagai Dosen Luar Biasa. Ratna selanjutnya mendapat tambahan jabatan sebagai Dekan FKUI periode 2008-2012.

Kini UI mengembalikan Ratna ke Kementerian Kesehatan selain karena jabatannya di UI telah berakhir, juga “agar masa kerja dan tugasnya di Kementerian Kesehatan RI tidak terhambat,” ujar Siane.

Untuk mengisi kekosongan kursi dekan itu, Rektor Gumilar telah mengangkat Prijo Sidipratomo sebagai Pjs Dekan FK UI. Pemilihan dekan baru dijadwalkan akan digelar di pertemuan Senat Akademik Fakultas. Hingga saat ini, kata Siane, telah terjaring tiga nama calon.

Rektor Gumilar sendiri telah membantah tudingan korupsi itu. Menurutnya, laporan keuangan dan tata kelola UI sangat transparan dan akuntabel. “Sejak tahun 2008 hingga 2010, keuangan UI telah diaudit oleh akuntan publik yang ditunjuk oleh Majelis Wali Amanat melalui proses tender terbuka,” kata Gumilar.

Soal penolakan pemilihan kembali Gumilar sebagai rektor, Sekretaris MWA UI, Achir Yani, menyatakan tak ada yang salah dengan pencalonan itu. “Majunya Gumilar tidak melanggar aturan karena dia baru menjabat satu kali masa bakti. Dalam aturan, baru tidak boleh maju lagi jika sudah dua kali menjabat,” katanya. (kd)

TERKAIT
File Not Found
TERPOPULER
File Not Found