FOKUS

Kontroversi Menentukan Awal Puasa

Metode hisab hanya memperhatikan penghitungan aritmatika.

ddd
Jum'at, 20 Juli 2012, 21:09
Melihat hilal di Pantai Loang Baloq
Melihat hilal di Pantai Loang Baloq (Antara)

VIVAnews - Pemerintah akhirnya menetapkan awal Ramadan 1433 Hijriyah pada Sabtu, 21 Juli 2012. Penetapan jatuhnya awal Ramadan ini berdasarkan laporan melihat bulan (rukyat al-hilal) yang dilakukan petugas Kementerian Agama di seluruh wilayah Indonesia.

Sejumlah organisasi massa Islam juga sepakat bahwa awal Ramadan jatuh pada Sabtu. Namun, Dewan Pimpinan Muhammadiyah, Front Pembela Islam dan sejumlah ormas Islam lain menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Jumat, Jamaah An-Nadzir di Gowa, Sulawesi Selatan mulai Rabu, dan Jamaah Naqsabandiyah di Padang mulai Selasa.

Menteri Agama Suryadharma Ali dalam pengumuman Kamis malam, 19 Juli mengatakan, hampir semua petugas yang berasal dari seluruh Kantor Wilayah Kementerian Agama dan Kantor Kementerian Kabupaten/Kota tak melihat adanya hilal (bulan), tanda memasuki bulan suci. "Hilal tidak bisa dilihat, karenanya 1 Ramadan jatuh pada Sabtu 21 Juli," katanya.

Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama Ahmad Jauhari menjelaskan bahwa dari hasil peneropongan hilal pada Kamis pukul 11.24 WIB, posisi hilal berada 0 sampai 1 derajat di atas ufuk. Ini merupakan hasil rukyat dari 38 tempat, seperti Papua Barat, NTB, Bali, Kalimantan Tengah dan Timur, Sulawesi Tengah, Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Sukabumi.

Pengamatan di Observatorium Boscha, Lembang, Bandung, juga memperlihatkan hilal masih berada di bawah dua derajat.

Ketua Umum Asosiasi Dosen Falaq Indonesia Ahmad Izzudin mengatakan, Saat maghrib, Kamis, 19 Juli atau bertepatan dengan 29 Sya'ban, tinggi hilal di seluruh Indonesia berdasarkan hisab astronomis muktabar (kontemporer) posisi hilal masih di bawah 2 derajat, sehingga hilal sangat tidak mungkin dilihat. Hilal baru bisa dilihat bila sudah lebih dari 2 derajat di atas ufuk. "Jadi Ramadan jatuh pada 21 Juli," katanya saat dihubungi VIVAnews melalui sambungan telepon, Jumat malam.

Dia mengatakan, sebagian jamaah menetapkan Ramadan hanya berdasarkan perhitungan (hisab), sehingga ada sebagian umat muslim yang mulai awal Ramadan Jumat.

Metode hisab rentan tidak akurat karena hanya memperhatikan penghitungan aritmatika bahwa perputaran bulan terhadap bumi 29,5 hari, sehingga bulan Hijriyah selalu 29 dan 30 hari. Metode ini tidak memperhatikan dinamika bulan yang sesungguhnya.

Karena itu, dosen ilmu falaq Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang ini mengatakan, rukyat al-hilal penting untuk memverifikasi hisab yang sudah ada. "Itu sebabnya pemerintah melakukan pengamatan hilal," katanya.

Sementara itu argumentasi Muhammadiyah menetapkan Ramadan jatuh pada Jumat tak lain karena pergantian bulan telah terjadi pada Kamis siang, 19 Juli 2012. Ini sesuai hisab hakiki wujudul hilal yang dipakai Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Menurut hisab hakiki, ijtimak jelang Ramadan terjadi pada hari Kamis, 19 Juli pukul 11.25.24 WIB. Ijtimak atau disebut pula konjungsi geosentris adalah peristiwa dimana bumi dan bulan jika diamati dari bumi berada di posisi bujur langit yang sama.  Ijtimak terjadi setiap 29,531 hari sekali, atau disebut pula satu bulan sinodik.

Selain itu, laman resmi PP Muhammadiyah juga menyatakan, tinggi bulan pada saat matahari terbenam di Yogyakarta adalah 1 derajat 38' dan 40" di atas ufuk alias hilal sudah wujud. "Di seluruh wilayah Indonesia pada saat matahari terbenam bulan berada di atas ufuk," tulis keterangan resmi itu. Dengan demikian, Jumat sudah masuk 1 Ramadan sebagai awal bulan puasa.

Jangan diperbesar
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidan meminta masyarakat tidak mempermasalahkan perbedaan awal Ramadan. Masyarakat harus saling menghormati perbedaan penafsiran ini. "Kami minta kepada masyarakat jangan dipertajam, jangan dibesar-besarkan," kata Amidan saat berbincang dengan VIVAnews, Kamis.

Menurut Amidan, penentuan awal Ramadan memiliki dasar hukum dan metode masing-masing, sehingga perbedaan mungkin saja terjadi. "Jangan sampai merasa paling benar, karena semua ada dasar hukumnya," ujarnya.

Pemikir muda bidang keislaman Dr. Zainul Adzfar menilai agama hanyalah metode menuju Tuhan, bukan tujuan, sehingga perbedaan penafsiran tentu hal lumrah. "Perbedaan puasa bukan barang aneh, sudah dari dulu seperti itu," katanya. Apalagi, katanya, Tuhan tidak mungkin didekati hanya dengan sesuatu yang pasti, sehingga perbedaan pasti muncul.

Gerakan Pemuda Ansor juga meminta perbedaan awal Ramadan tidak diperuncing. Menurut dia, ini hanya masalah keyakinan. GP Ansor menghormati warga Muhammadiyah yang mengawali puasa Ramadan terlebih dulu dari umat Islam lainnya.

"Ibadah itu masalah keyakinan," kata Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid, Kamis.

Bagi Nusron, perbedaan pendapat dan keyakinan dalam beragama, apalagi hanya menyangkut penetapan awal Ramadan dan Lebaran merupakan hal yang biasa. Menurut Nusron, antara NU, Muhammadiyah, dan umat lainnya mempunyai metodologi dan paradigma masing-masing.

"Inilah bagian dari konsep Islam yang rahmatan li al-alamin. Semua pasti ada hikmah dan manfaatnya," kata Nusron Wahid yang juga anggota Fraksi Partai Golkar ini.

Karena itu, Ansor berharap masalah perbedaan ini tidak dibesar-besarkan dan ditafsirkan yang berlebihan. Masing kelompok punya pendapat dan hak menafsirkan. Jangan jadikan masalah ini memperuncing problem keumatan di bawah. "Ini masalah biasa," kata dia. (sj)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
anaking
22/07/2012
pusing mikirin awal puasa... ngapain repot2.. kalian aja belum tentu puasa.... puasa utk di jalani bkn utk di debatkan... mo urusin jum'at or sabtu gmn keyakinan masing2.....gtu aja kok rpot
Balas   • Laporkan
swalayanfitnes
22/07/2012
SAYA SETUJU METODE yang dipakai Muhammadiyah 1000 tahun akan datang bisa ditentukan awal puasa dan lebaran, metodenya spt penanggalan sekarang aja, bulan januari berapa hari,februari sampai des, buktinya INDONESIA beda terus sama Mekkah,Pdhl Kiblat
Balas   • Laporkan
warikmalacung | 22/07/2012 | Laporkan
iya om.. walapun sama2 punya kekurangan, metode perhitungan jelas lebih akurat... Dari pandangan saya sebagai awam, kita menentukan waktu sholat aja kan mesti pakai perhitungan,, mana ada yang harus lihat2 posisi matahari secara manual lagi.. trus kenapa
dekwis
21/07/2012
Masalah ini jgn terlalu dibesar-besarkan!!!. Yg perlu dibesar2kan adalah KEnapa Pengadaan QURAN di korupsikan ??? . Kenapa cara pandang thd LADY GAGAllllll tdk bisa dihargai.???
Balas   • Laporkan
yayak94
21/07/2012
Tak perlu kontroversi Kebenaran alam bersifat pasti! ini akibat atribut intelek spt Boscha, ITB, Muji Raharto, Thomas LAPAN memanipulasi data. Tahun 2011 mereka jg berlebaran sendiri!
Balas   • Laporkan
izulthea
21/07/2012
Aj, Quran aja dikorupsi, beuh,,,,
Balas   • Laporkan
tantokw
21/07/2012
Kalo bukan hal yg pokok dan tdk mendatangkan dosa kenapa tdk bersatu...ini hanya masalah EGO sekelompok orang saja merasa SOK PINTAR dan KERAS KEPALA,kalo begini kasihan umat jadi bingung,lagipula lebaran jadi tdk syahdu dan hikmat karena beda-beda hari.
Balas   • Laporkan
punyaku | 21/07/2012 | Laporkan
tul om, saya dengan mertua saya bisa beda hari raya
punyaku | 21/07/2012 | Laporkan
betul om
bambang6274
21/07/2012
Mohon kepada para ulama, hendaknya berpikir terbuka. Metode rukyat menurut saya harus dilihat dari konteks jaman nabi pada waktu itu yang masih terbatas tehnologinya dan konteks posisi geografis wilayah arab.
Balas   • Laporkan
frezkiana | 21/07/2012 | Laporkan
bener banget, pas tahun baru islam barengan, lebaran haji barengan, tapi kok awal puasa beda y???
1x2x3x4x5x | 21/07/2012 | Laporkan
setuju mas ..
bambang6274 | 21/07/2012 | Laporkan
Rotasi bulan secara astronomi dapat dilakukan perhitungan, sebagaimana rotasi matahari. lagian kalau memang waktu ramadhan dan idul fitri berbeda, mestinya hari2 besar islam yang lain juga berbeda. Saya yakin, unsur ego politis masih ada dibenak para ulam
dingdong-dingdong
20/07/2012
jika dari hisab diketahui hilal dibawah 2 derajat, bukankah berarti bln syaban sdh berakhir dan terjadi hari baru dari bln ramadhan? jika hilal tdk terlihat krn mendung, apakah hari tsb jadi bagian dari bln syaban yg sdh selesai atau bagian bln apa?
Balas   • Laporkan
naskeleng
20/07/2012
ngga bisa mengerti...Bulan satu Matahari satu...kok ngeliatnya jadi beda...kalau alam sihh ngga mungkin error..mata manusia yang error....dan tiap Ramadhan kok silang pendapat...apa ngga malu sama Agama lain...?????
Balas   • Laporkan
dekwis | 21/07/2012 | Laporkan
bhineka tunggal ika tan hana dharma mangruwa. Berbeda-beda tetapi tetap satu tak ada dharma( kebenaran) yang mendua.
jendhol | 21/07/2012 | Laporkan
Hehehe.. ngapain malu


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com