FOKUS

Gempa Besar Ancam Iran Lagi?

Negeri itu berada di patahan-patahan utama kerak bumi.
Senin, 13 Agustus 2012
Oleh : Renne R.A Kawilarang
Korban cedera gempa bumi di Ahar, Iran, 11 Agustus 2012

VIVAnews - Para dokter dan jururawat di suatu rumah sakit Kota Tabriz, Iran, sejak Sabtu sore hingga Minggu kemarin kewalahan menghadapi banyaknya pasien. Semua ranjang sudah terisi penuh, namun masih banyak yang berdatangan minta dirawat.

"Dari kemarin malam hingga Minggu sore ini, saat saya meninggalkan Rumah Sakit Shohada-ye Tabriz, para dokter terus menjalani bedah. Ini merupakan tragedi yang mengerikan, namun masyarakat beserta pejabat setempat berbuat yang terbaik untuk mengatasinya," kata seorang dokter di Tabriz saat dihubungi kantor berita Reuters lewat sambungan telepon.

Kegawatan serupa juga melanda rumah sakit-rumah sakit lain di Ardabil, Ahar, dan kota-kota lain di bagian barat laut Iran, tepatnya di Provinsi Azerbaijan Timur.

Rumah sakit di Kota Ahar kewalahan menangani pasien. "Semua 120 ranjang penuh. Lalu lintas jadi macet, karena jalan ke Tabriz sempit saat banyak korban luka berupaya ke rumah sakit," kata Arash, seorang mahasiswa di Ahar.

Gempa bumi dahsyat di akhir pekan itu membuat masyarakat setempat menghentikan rutinitas mereka untuk tujuan yang sama: menyelamatkan diri, keluarga, kerabat, dan tetangga sekitar.

"Warga biasa bekerja bahu-membahu dengan tim penyelamat. Mereka membawa makanan dan air bersih ke rumah sakit. Ada pula yang membawa kerabat yang terluka dengan mobil ke rumah sakit," lanjut dokter yang tidak sempat dimintai identitasnya itu saking sibuknya dia ikut memberi pertolongan.

Ketidakpastian melanda sebagian penduduk akan nasib orang-orang terdekat. Warga Tabriz bernama Ahmad mengungkapkan seorang sepupunya di suatu desa dekat Kota Ahar diketahui telah tewas. "Tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan istri dan kedua putrinya, yang masing-masing berusia 4 dan 7 tahun," kata Ahmad.

"Kami takut bila tim penolong tidak bisa langsung ke lokasi, nyawa mereka akan terancam bila masih hidup. Penduduk di desa-desa itu perlu bantuan," lanjut pria 41 tahun itu. 
 
Saat umat Muslim di kawasan barat laut Iran mulai bersiap berbuka puasa pada Sabtu sore, bumi mereka berpijak berguncang. Badan Survei Geologi AS mengungkapkan bahwa gempa pertama berkekuatan 6,4 pada Skala Richter dengan berpusat 60 kilometer di timur laut Tabriz, yang dikenal sebagai pusat perdagangan untuk produk minyak Iran dan dikenal mempunyai fasilitas nuklir.

Gempa kedua berkekuatan 6,3 SR terjadi sebelas menit kemudian di dekat Varzaghan, yang terletak 49 km dari timur laut Tabriz.
 
Lebih dari 1.000 desa juga menderita dampak gempa. "Sebanyak 130 desa menderita 70 kerusakan dan 20 persen benar-benar hancur," ungkap petugas Bulan Sabit Merah, Ahmad Reza Shaji'i kepada ISNA. Wilayah yang paling parah terjadi gempa adalah kawasan pedesaan di sekitar kota Ahar, Varzaghan, Harees, dan Tabriz. 

Ribuan warga yang selamat terpaksa tinggal di luar bangunan, karena takut mengalami gempa susulan, yang sudah terjadi berkali-kali. Banyak warga yang tidak mendapatkan tenda, karena persediaan terbatas, sehingga harus tidur sambil menahan cuaca dingin.

Akses ke sejumlah desa terputus setelah gempa terjadi, sehingga menyulitkan aliran bantuan logistik. "Penduduk di sejumlah desa sangat membutuhkan makanan dan air minum," kata Abbas Falahi, anggota parlemen mewakili Ahar dan Harees, yang dikutip kantor berita Mehr. 

Berbagai kesulitan itu membuat pihak berwenang sudah mewanti-wanti bahwa jumlah korban, baik yang luka-luka maupun cedera, bisa bertambah. Menteri Kesehatan Iran, Marziyeh Vahid Dastjerdi mengungkapkan bahwa, berdasarkan data hingga Senin pagi waktu setempat, gempa bumi itu sudah menewaskan lebih dari 300 jiwa.

"Jumlah korban yang meninggal akibat serangkaian gempa di provinsi Azerbaijan Timur itu sudah sebanyak 306 jiwa," kata Dastjerdi dalam sidang parlemen di Ibukota Tehran seperti dikutip kantor berita Fars.

Jumlah korban yang luka-luka, lanjut Dastjerdi, sebanyak 3037 orang. Jumlah ini berbeda dari yang disampaikan Kepala Badan Penanggulangan Darurat Iran, Gholam Reza Masoumi. Dia sebelumnya menyatakan jumlah korban luka bisa mencapai 5.000 orang.

Rawan Gempa

Iran memang negeri yang rawan gempa bumi. Negeri itu berada di patahan-patahan utama kerak bumi. Lempeng-lempeng itu kerap bergeser sehingga menggoyang atau merubuhkan apapun yang berada di atas permukaan tanah.

Gempa besar sering diikuti guncangan-guncangan susulan (aftershocks). Itulah sebabnya Menteri Dastjerdi mengungkapkan bahwa pihak berwenang mencatat sedikitnya terjadi 116 guncangan susulan dalam beberapa hari terakhir setelah gempa utama.

Bencana ini mengingatkan publik akan gempa bumi dahsyat yang melanda Iran sembilan tahun lalu. Terjadi pada 26 Desember 2003 di kota Bam, provinsi Kerman yang berada di Iran bagian tenggara, gempa berkekuatan 6,6 SR itu menewaskan 31.000 jiwa. Ini sama saja dengan memusnahkan seperempat dari populasi Bam, kota tua yang rata-rata bangunannya terbuat dari lumpur kering.

Kantor berita Fars juga mencatat bahwa gempa yang paling mematikan dalam sejarah Iran moderen terjadi pada Juni 1990. Berkekuatan 7,7 SR, gempa itu menewaskan 37.000 jiwa dan lebih dari 100.000 orang luka-luka.

Gempa saat itu berlangsung di Gilan dan Zanjan, dua provinsi yang terletak di Iran bagian barat laut. Bencana itu menghancurkan 27 kota dan 1.870 desa.

Pakar seismologi Iran, Bahram Akasheh, menilai bahwa gempa yang terjadi Sabtu pekan lalu itu masih tergolong "sedang." Banyaknya korban, lanjut dia, lebih karena konstruksi maupun kualitas bahan bangunan yang tidak baik dan kelalaian.

"Tidak ada tempat di dunia yang bila diguncang gempa bermagnitudo 6 membunuh begitu banyak orang. Seharusnya tidak sampai melukai lebih dari sepuluh orang," kata Akasheh kepada kantor berita Iranian Labor News Agency dan juga dikutip harian The New York Times.  

Ibukota Tehran sendiri terletak di patahan dua lempeng besar. Itu sebabnya kota yang berpenduduk 14 juta jiwa itu harus mengantisipasi gempa bumi yang bisa melanda kapan saja.

Akasheh pun sudah lama memprediksi bahwa nyawa jutaan jiwa bisa melayang bila gempa bumi sampai mengguncang Tehran. Iran perlu bersiap-siap menghadapinya. "Kita bisa mengalami gempa berkekuatan 7 SR [skala richter] atau lebih. Saya sangat khawatir," lanjut dia.

Sementara itu, sejumlah negara sudah menyatakan bela sungkawa kepada pemerintah dan bangsa Iran. Seteru Iran, AS, bahkan juga mengungkapkan simpati yang mendalam. Turki, Pakistan, Rusia, Suriah, Jepang, dan Swiss juga menyatakan ungkapan yang serupa. Begitu pula Jerman dan Pemimpin Vatikan, Paus Benediktus XVI.

Bahkan ada beberapa negara, seperti Swiss, yang menyatakan siap mengerahkan bantuan kemanusiaan ke daerah bencana di Iran. Namun, seperti diungkapkan Press TV, pemerintah Iran menyatakan untuk saat ini mereka masih bisa menanggulangi dampak bencana dan memberi bantuan bagi para korban secara mandiri.

TERKAIT
File Not Found
TERPOPULER
File Not Found