FOKUS

"Syiah Diakui Negara Indonesia"

"Sampang diserang karena di situ merupakan kantong Syiah terkecil."
Minggu, 2 September 2012
Oleh : Anggi Kusumadewi, Dwifantya Aquina
Tokoh Syiah Indonesia, Jalaludin Rakhmat.

VIVAnews – Sepekan lalu, Minggu 26 Agustus 2012, penganut Syiah terusir dari kampung mereka sendiri di Sampang, Madura, Jawa Timur. Mereka diserang, rumah mereka dibakar, sehingga mereka terpaksa mengungsi dengan kawalan ketat aparat bersenjata. Korban jiwa tak terelakkan, dua tewas.

Ini bukan peristiwa kekerasan pertama kalinya terhadap warga Syiah di Sampang. Sekitar delapan bulan sebelumnya, Kamis 29 Desember 2011, pesantren milik kaum Syiah di Sampang juga dibakar massa. Penyerangan dua kali dalam setahun terhadap penganut Syiah pun menjadi tanda tanya besar.

Mengapa harus terjadi di Sampang? Apa sesungguhnya “Syiah” dan bagaimana perkembangannya di Indonesia? Berikut wawancara reporter VIVAnews, Dwifantya Aquina, dengan tokoh Syiah di Indonesia sekaligus Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), Jalaluddin Rakhmat.

Bagaimana awal konflik antara Sunni dengan Syiah?
Sebenarnya konflik ini sudah berlangsung sejak seribu tahun lalu, dan konflik ini bukan konflik lokal atau nasional, tetapi internasional. Sama halnya dengan konflik antara Protestan dengan Katolik.

Bagaimana dengan kondisi konflik yang terjadi di Indonesia?
Kalau konflik Syiah di Indonesia baru muncul belakangan, baru sekarang ini.

Sejak kapan Syiah masuk ke Indonesia?

Ada beberapa teori, salah satunya menyebut ada tiga gelombang masuknya Syiah ke Indonesia. Gelombang pertama melalui para penyebar Islam awal. (Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) Pak Said Aqil Siradj mengatakan menemukan beberapa kuburan yang mencerminkan kuburan Syiah. Selain itu tradisi ziarah dan tahlilan adalah tradisi Syiah yang awal-awal datang ke Indonesia.

Bahkan ada yang menduga sejak zaman Dinasti Abbasiyah, ada orang Syiah yang berangkat ke Indonesia untuk berdakwah. Syiah pertama kali datang ke Aceh. Tapi kemudian pada zaman Syeikh Nuruddin Ar-Raniri (ulama Aceh terkenal yang merupakan penasehat Kesultanan Aceh pada masa Sultan Iskandar Tsani), kekuasaan dipegang oleh ulama Ahli Sunnah (Sunni). Saat itu orang Syiah bersembunyi, tak menampakkan diri sampai muncul gelombang kedua masuknya Syiah ke Indonesia, yaitu setelah revolusi Islam di Iran.

(Sebagai catatan, Ahli Sunnah Waljamaah yang lebih sering disingkat dengan sebutan Sunni ialah pengikut Islam yang berpedoman pada Alquran dan hadits sahih. Sekitar 90 persen umat Islam di dunia merupakan kaum Sunni, sedangkan sisa 10 persennya merupakan penganut aliran Syiah. Syiah sendiri adalah pengikut Islam yang berpedoman kepada ajaran Nabi Muhammad dan Ahlul Bait atau keluarga Nabi Muhammad, yaitu Ali bin Abi Thalib – sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad, Fatimah az-Zahra – putri bungsu Nabi Muhammad dari istri pertamanya Khadijah, Hasan bin Ali dan Husain bin Ali – cucu Nabi Muhammad dari Ali dan Fatimah).

Pada gelombang pertama masuknya Syiah ke Indonesia itu, Syiah kebanyakan dipelihara di kalangan habib (keturunan Nabi Muhammad), tapi khusus di keluarga tertentu, misalnya Al Mukhdor. Sementara keluarga-keluarga lainnya bergabung dengan Sunnah (Sunni).

Dalam kamus Al Munjid (kamus Arab yang dianggap paling lengkap dan komprehensif sehingga dijadikan kamus utama di berbagai universitas Islam dan pondok pesantren tradisional maupun modern di seluruh dunia) cetakan lama, disebutkan penduduk Hadramaut (negeri asal Nabi Hud dan Nabi Saleh yang terletak di sebuah lembah di Yaman) bermahzab Syafii, padahal sebetulnya mereka bermahzab Syiah. Sebagian dari mereka kemudian masuk ke Indonesia untuk menyebarkan agama Islam dan menurunkannya kepada para habib. Oleh karena itu sangat mengherankan belakangan ini para habib juga ikut menyerang Syiah yang merupakan aliran nenek moyangnya.

Lalu datanglah gelombang kedua masuknya Syiah ke Indonesia, yaitu setelah revolusi Islam di Iran (revolusi yang mengubah Iran dari monarki di bawah Shah Mohammad Reza Pahlevi, menjadi Republik Islam di bawah pimpinan Ayatullah Agung Ruhollah Khomeini). Ketika itu orang Syiah mendadak punya negara, yaitu Iran. Dengan biaya negara Iran, Syiah lantas disebarkan ke seluruh dunia.

Di Indonesia muncullah orang-orang yang mula-mula tertarik bukan dengan paham Syiah-nya, melainkan dengan pemikiran Syiah, misalnya pemikiran revolusioner dari Ali Syariati (sosiolog Iran yang terkenal dan dihormati karena karya-karyanya di bidang sosiologi agama). Karya-karya Ali Syariati dibaca di kampus-kampus. Pada saat itu Indonesia berada di akhir Orde Baru, di mana banyak mahasiswa kembali ke masjid-masjid.

Oleh karena itu kelompok Syiah gelombang kedua di Indonesia umumnya merupakan intelektual universitas. Saya sama sekali tidak bermaksud menyebut diri saya intelektual, tapi saya dari universitas yang kemudian menjadi cikal bakal IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia). Jadi ini semua berasal dari universitas. Di beberapa daerah, cabang-cabang IJABI pun dipimpin oleh para guru besar di universitas-universitas daerah.

Sementara itu gelombang ketiga masuknya Syiah ke Indonesia berakar dari para habib yang belajar sebelum revolusi. Mereka kemudian kembali untuk mengajar di kalangan yang sangat terbatas. Setelah muncul, kelompok-kelompok intelektual mereka mulai berdakwah dengan pendekatan berbeda.

Jika kelompok Syiah gelombang kedua umumnya tertarik Syiah karena pemikiran revolusionernya, kelompok gelombang ketiga ini datang dengan membawa paham fiqihnya. Saat itu sudah muncul kelompok Syiah yang mempelajari fiqih Syiah-nya. Saat itu pula mulai terjadi benih-benih konflik. Saat kami berada pada tahap pemikiran, tak ada konflik dan semua sepakat. Tapi saat berpada pada tahap fiqih, mulai terjadi perbedaan paham.

(Sebagai catatan, fiqih adalah salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang secara khusus membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat, maupun kehidupan manusia dengan Tuhannya.)

Berapa banyak jumlah penganut Syiah di Indonesia?
Ada beberapa perhitungan, salah satunya versi pemerintah atau kepolisian. Dari data penelitian yang sudah ada, populasi Syiah berkisar 500 ribu di seluruh Indonesia. Itu perkiraan terendah. Jika perkiraan tertinggi sekitar 5 juta. Tapi menurut saya, perkiraan moderat ada sekitar 2,5 juta.

Hanya, sebagian besar orang Syiah itu tidak tampak sebagai Syiah karena mereka menyembunyikan identitas demi memelihara persatuan. Banyak di antara mereka yang menjadi ustad-ustad di masjid-masjid. Jadi yang tahu tentang Syiah itu hanya orang Syiah itu sendiri. Oleh sebab itu sebetulnya yang harus melakukan penelitian yaitu orang Syiah sendiri. Saya sudah meneliti juga, tapi tidak akan saya beritahukan berapa jumlah persis pengaut Syiah di Indonesia.

Daerah mana saja di Indonesia yang memiliki populasi penganut Syiah terbesar?

Kantong penganut Syiah berdasarkan rangking: nomor satu di Bandung atau Jawa Barat, nomor dua di Makassar, nomor tiga di Jakarta.

Kenapa selalu di Sampang yang terjadi konflik?
Karena di sana merupakan kantong Syiah terkecil. Karena orang umumnya berani kepada yang lemah. Coba kalau mereka menyerang Syiah di Bandung?

Berapa jumlah populasi penganut Syiah di Sampang sebagai kantong Syiah terkecil di Indonesia?
Sekitar 700 orang.

Apakah warga Syiah di Sampang harus direlokasi agar konflik tak lagi terjadi?
Tidak, karena begitu dilakukan relokasi, ada sebuah preseden. Nantinya seluruh orang Syiah akan diganggu dan disuruh pindah semua. Padahal itu hak mereka untuk tinggal di suatu tempat. Mengapa hanya karena perbedaan agama, mereka lantas harus direlokasi?

Relokasi adalah tahap kedua sebelum genosida, sebelum dibunuh. Paling tidak relokasi menunjukkan secara tegas bahwa they must not be here. Oleh karena itu kami akan anjurkan agar orang Syiah tidak boleh direlokasi. Mereka harus tetap tinggal di tempat mereka berada saat ini.

Apa solusi terdekat yang harus diambil atas konflik Sampang?
Pemerintah bertindak tegas. Pelaku kekerasan harus dihukum, siapa pun. Kalau tidak begitu, mereka tidak akan jera. Bayangkan seandainya ada sebuah perusahaan besar yang mau menggali minyak di daerah yang dihuni oleh orang-orang Syiah. Agar minyak bisa digali, sudah saja timbulkan konflik agama agar orang-orang Syiah direlokasi dari daerah itu. Pemerintah pun tidak perlu ganti rugi. Nah, kalau sampai terjadi seperti ini kan bisa repot urusannya.

Bagaimana cara penganut Syiah melakukan ibadah? Apakah secara terbuka atau tertutup?

Terbuka. Tapi umumnya kaum Syiah di Indonesia tidak punya masjid. Tidak ada kan masjid-masjid Syiah di sini. Banyak juga khatib-khatib Syiah yang berkhotbah di masjid-masjid Ahli Sunnah (Suni) tanpa diketahui bahwa mereka Syiah. Kami memang sengaja tidak membangun masjid-masjid. Kalau pun sekarang ada masjid orang Syiah di Jakarta, itu punya Iran yang ada di ICC (Islamic Cultural Center). Itu pun sebetulnya lebih sekedar sebagai tempat pertemuan saja.

Mengapa kami tidak membangun masjid? Saya memang menganjurkan kepada IJABI untuk tidak membangun masjid. Bukan karena kami tidak punya uang, tapi karena beberapa alasan. Satu, karena takut dibakar. Kedua, karena khawatir dianggap memprovokasi orang-orang. Kami lebih mencintai persatuan ketimbang masjid.

Ada sebuah lagu berjudul Using Things and Loving People dari BJ Thomas. Jadi kalau “things” itu kami “use”, kalau orang itu “we  love.” Jadi bukannya “we do not love masjid,” karena masjid itu “thing.” Yang kami cintai itu “people.” Maka daripada bertengkar, lebih baik kecintaan ini kami lebur, lebih baik kami tidak dirikan masjid dan kami bergabung dengan mereka.

Dengan banyaknya kesimpangsiuran tentang ajaran Syiah di masyarakat awam, apa yang sebenarnya ingin Anda luruskan tentang ajaran ini?
Saya minta bantuan media untuk menjernihkan masyarakat dari tuduhan-tuduhan palsu. Tapi masalahnya kan kadang masyarakat lebih percaya kepada berita-berita yang dibawa oleh para ulamanya. Jadi yang bisa kami sampaikan, tolonglah kalau ada berita atau opini tentang Syiah yang bersifat menghujat, jangan dimuat. Sebab umumnya hal tersebut berdasarkan fitnah, bukan data. Itu mungkin imbauan yang bisa kami sampaikan.

Bagaimana hubungan Syiah sendiri dengan pemerintah Indonesia?
Sebetulnya baik, paling tidak secara politis. Saya misalnya pernah dikirim Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai wakil Syiah untuk ke luar negeri. Kemudian bila Kementerian Luar Negeri mengirim perwakilan Syiah, saya juga yang dikirim. Artinya, Syiah sesungguhnya diakui. Kami punya organisasi yang diakui secara resmi oleh negara. Kami juga terdaftar di Kementerian Dalam Negeri.

Jadi secara politik, kami sama seperti kelompok-kelompok lain. Kami mempunyai hak yang sama sebagai Warga Negara Indonesia. Saya ingat, sekitar satu atau dua tahun lalu, pernah ada para ulama mengirim surat kepada Presiden untuk membubarkan Syiah. Surat itu mendarat dulu di Sekretariat Negara, kemudian Setneg memanggil kami. Kami memberi penjelasan tentang Syiah, dan alhamdulillah pihak pemerintah mendukung kami.

Tapi kenapa pemerintah saat ini lemah menyikapi konflik Sampang?
Mungkin pertanyaan kenapa pemerintah lemah bukan hanya dalam hubungan antara Sunni dengan Syiah, tapi dalam semua hal. Kelemahan pemerintah misalnya tampak ketika kadang kepentingan kelompok bisa mengambil alih kepentingan negara secara keseluruhan. Maaf, saya harus memberikan contoh, dan ini misalnya dalam kasus penggunaan isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) dalam kampanye Pilkada DKI Jakarta.

Sebenarnya belum pernah dari dulu orang mengungkit masalah agama orang yang jadi gubernur. Tapi sekarang kok muncul? Kenapa bisa muncul begitu? Dan kenapa itu jadi menunjukkan negara lemah? Karena hal itu ternyata dibiarkan oleh pemerintah. Malah bukan hanya dibiarkan, tapi bahkan dibebaskan. Padahal ini akan menjadi preseden buruk ke depannya. Jadi boleh saja di kemudian hari kita menuding orang itu Cina, rasis, atau beragama seperti ini itu, karena bicara seperti itu tidak dianggap melanggar konstitusi.

Hubungan Syiah dengan Iran sebenarnya bagaimana?
Sebetulnya Syiah dengan Iran cuma punya hubungan ideologis. Iran negara Syiah, tapi sesungguhnya Iran hampir tidak pernah membantu orang-orang Syiah di Indonesia. Boleh tanya ke orang Syiah mana pun. Tidak ada bantuan Iran di sini.

Saya misalnya pernah protes ke Kedutaan Iran karena ketika saya mendirikan sekolah-sekolah di berbagai tempat, orang lantas memuji itu sebagai bantuan Iran, menyebut saya dapat bantuan dari Iran. Maka saya bilang ke Kedutaan Iran, saya yang susah-payah mengumpulkan uang untuk membangun sekolah, kamu yang dapat pujian, apa kamu tidak malu?

Sampai sekarang ini tidak ada bantuan Iran, kecuali bantuan-bantuan seperti buku atau seminar. Bantuan macam itu pun masih sering nombok, misalnya mereka kasih biaya Rp60 juta, ternyata biaya yang diperlukan Rp150 juta. IJABI sekarang mulai kapok juga bekerja sama Iran karena lebih sering rugi daripada untungnya.

Tapi secara ideologi, Syiah memang sama dengan Iran?
Ya, secara ideologi sama, yaitu mereka menganut paham agama Syiah Itsna Asyariyah (mempercayai 12 orang pemimpin, dengan pemimpin pertama adalah Ali bin Abi Thalib, dan pemimpin terakhir adalah Imam Mahdi Al-Munthazar atau Imam Mahdi yang Ditunggu untuk menghancurkan kezaliman dan menegakkan keadilan di bumi sebelum datangnya kiamat). Paham Syiah Itsna Asyariyah  itu dicantumkan dalam Undang Undang Iran.

Kami di sini juga menganut Syiah Itsna Asyariyah. Ada juga Syiah lainnya di Indonesia, yaitu Syiah Ismailiyah. Mereka ada di Bali dan Sulawesi, kebanyakan orang-orang keturunan India dan Pakistan. Yang membedakan Syiah Itsna Asyariyah dengan Syiah Ismailiyah adalah jumlah imamnya. Asyariyah imamnya ada 12, sedangkan imam Ismailiyah tidak terbatas. Asyariyah tidak punya imam-imam baru, dari dulu tetap 12, sementara imam Ismailiyah bisa berkembang sesuai perkembangan zaman.

Anda pernah mengatakan sikap Syiah berbeda dengan Ahmadiyah, karena jika pengikut Ahmadiyah diserang, maka membalas dengan senyuman. Namun ketika Syiah diserang, maka sewaktu-waktu akan melawan. Bisa dijabarkan?
Begini, kami melihat orang Ahmadiyah dibantai dan dipukuli dalam keadaan sudah tak mengenakan baju lagi. Tapi orang-orang Ahmadiyah menyambut mereka yang zalim itu dengan senyuman. Sementara Alquran mengizinkan kepada orang-orang yang diperangi untuk memerangi, to fight back. Jadi bukan untuk balas dendam, tapi untuk kami melindungi diri sendiri.

Masak kami diserang, diserbu, rumah dibakar, lalu kami tersenyum dan berkata “You are so good and so kind to me?” Selama ini saya menganjurkan kepada pengikut Syiah untuk tidak melakukan tindak kekerasan, kecuali kalau dalam keadaan terdesak. Seperti saat ini, ketika mereka mau dibunuh. Maka mereka terpaksa melawan. Kalau mereka tidak melawan, semua mati dong.

Tapi kami melarang mereka menyerang lebih dulu karena itu diharamkan. Sepanjang sejarah, belum pernah ada cerita tentang kaum Syiah yang menyerang Sunni, kecuali dalam dongeng-dongeng ulama di Sampang dan cerita para majelis ulama di televisi. Mereka bilang itu ada berdasarkan data di lapangan, tapi sesungguhnya itu hanya ada dalam imajinasi mereka.

Apa Anda selama ini pernah mendapat ancaman teror sebagai tokoh intelektual Syiah?
Saya sekarang ini berambut gondrong bukan karena ingin tampak lebih muda, tapi karena saya sedang membuat disertasi di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. UIN diprotes oleh serombongan orang karena saya orang Syiah. Mereka minta saya dipecat dari kandidat Doktor.

Mereka menuntut, kalau pihak UIN tidak mengharamkan Jalaludin Rakhmat sebagai kandidat Doktor, maka mereka akan menghalalkan darah saya. Saya diancam, kalau nanti saya ujian akhir Doktor, mereka akan menumpahkan darah saya. Tapi UIN mempertahankan saya karena mereka menentukan kandidat Doktor berdasarkan pertimbangan ilmiah, bukan berdasarkan mazhab. UIN Makassar menyatakan tidak apa-apa jika nanti mereka dipanggil polisi.

Disertasi saya soal “Pergeseran dari Sunnah Nabi kepada Sunnah Sahabat Nabi.” Maksudnya, kita kan beragama Islam berdasarkan sunnah Nabi. Padahal sebetulnya menurut hipotesis saya, yang kita jalankan bukan Sunnah Nabi, tapi sunnah Sahabat. Sunnah Nabi malah ditinggalkan. Itulah yang menimbulkan kemarahan beberapa ulama di sana yang tergabung dalam kelompok Wahdah Islamiyah.

Oleh karena itu mereka menuntut saya untuk dihukum mati. Mereka juga pernah melaporkan saya ke polisi untuk ditangkap, tapi tidak digubris. Saya sebenarnya bisa menuntuk balik karena mereka mengancam nyawa saya. Saya pernah dianjurkan oleh Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM untuk berhubungan dengan Mabes Polri supaya saya dapat perlindungan keamanan, karena ancaman kepada saya sudah riil.

Kompas juga waktu itu pernah memberitakan, pernah datang rombongan teroris dari Mindanao ke sebuah pesantren di Flores. Dikatakan mereka akan menyerang santri-santri Syiah dan membunuh tokoh-tokoh Syiah di Indonesia. Menurut berita lain, disebutkan nama-nama tokoh itu, antara lain Jalaludin Rakhmat.

Perlakuan diskriminasi seperti apa yang pernah diterima oleh orang-orang Syiah di Indonesia?

Macam-macam, bisa dikriminasi sosial, politik, maupun ekonomi. Diskriminasi sosial misalnya, ada kawan saya yang disuruh segera menceraikan istrinya karena diketahui bahwa dia Syiah. Ini baru terjadi dua minggu lalu. Terjadi hanya karena diketahui bahwa suaminya itu Syiah. Lalu banyak sekali keluarga saya yang bercerai karena dipaksa oleh tuntutan sosial. Ada juga yang mau menikah, tapi diminta segera dibatalkan.

Sementara diskriminasi ekonomi, bisa jadi ketika orang berdagang lalu diketahui dia Syiah, maka perdagangannya dibatalkan. Mengenai diskriminasi politik, saat ini banyak orang Syiah di lembaga legislatif. Sekiranya ketahuan Syiah, maka sudah pasti dipecat. (eh)

TERKAIT
File Not Found