FOKUS

Lampung Selatan Berdarah, Siapa Salah?

Konflik berdarah terjadi lagi. Sebanyak 14 orang tewas.

ddd
Selasa, 30 Oktober 2012, 21:14
Bentrok antar warga di Lampung Selatan
Bentrok antar warga di Lampung Selatan (Antara/Kristian Ali)

VIVAnews - Konflik berdarah terjadi di Lampung Selatan. Sebanyak 14 orang tewas dalam bentrok yang terjadi dalam kurun waktu tiga hari antara warga Desa Agom, Kecamatan Kalianda dengan warga Desa Balinuraga, Kecamatan Way Panji.

Perang antar warga itu pertama kali terjadi Sabtu, 27 Oktober 2012, pukul 23.00 WIB. Berbagai senjata tajam, termasuk senjata api rakitan digunakan untuk menyerang satu sama lain.

Bentrokan itu bermula ketika dua orang gadis asal Desa Agom yang tengah mengendarai sepeda motor diganggu oleh pemuda asal Desa Balinuraga hingga jatuh dan luka-luka.

Kepala Desa Agom dan Balinuraga sebetulnya telah mengadakan perjanjian damai atas kejadian tersebut. Namun, keluarga kedua gadis tidak terima. Mereka lantas mendatangi Desa Balinuraga untuk menemui pemuda yang mengganggu itu.

Namun, saat tiba di Desa Balinuraga, keluarga dan beberapa warga Desa Agom langsung diserang dengan senjata api. Akibatnya, satu orang tewas tertembus timah panas.

Bentrokan kembali terjadi, Minggu 28 Oktober 2012 pukul 10.00 WIB. Pada bentrok kali ini, jumlah korban lebih banyak. Enam orang tewas mengenaskan akibat dihajar  senjata tajam. Tak hanya menelan korban jiwa yang lebih banyak, bentrok kali ini menghanguskan 6 rumah.

Polisi langsung berupaya mendamaikan kedua kubu. Tokoh masyarakat dari kedua warga dipertemukan.

"Pihak kami telah melakukan upaya perdamaian sejak kemarin dengan menghadirkan para tokoh adat. Pembicaraan upaya perdamaian terus dilakukan hingga hari ini," ungkap Kapolres Lampung Selatan, AKBP Tatar Nugroho di Lampung.

Upaya perdamaian ini dipimpin langsung oleh Kapolda Lampung. Selain itu, polisi juga langsung mendatangi kelompok-kelompok warga untuk memberikan imbauan damai. "Kami datangi kedua kampung agar warga tidak saling serang kembali," tutur Tatar.

Rupanya, pertemuan antar pemimpin kedua desa tidak berpengaruh. Aksi serang antar warga kembali terjadi, Senin, 29 Oktober 2012, pukul 14.00 WIB.

Sekitar 1.000 aparat kepolisian dan TNI sudah dikerahkan ke lokasi. Namun, warga yang jumlahnya ribuan itu, tak dapat ditangani hingga akhirnya warga berhasil masuk ke Desa Balinuraga melalui jalan perkebunan dan persawahan.

Dalam aksi penyerangan ini 7 orang tewas. Kebanyakan korban tewas tergeletak di areal perkebunan dan persawahan dengan kondisi tubuh rusak akibat dicabik-cabik. Setelah beberapa jam kemudian, warga penyerang meninggalkan Desa Balinuraga yang hancur lebur.

Total korban tewas sejak bentrok Sabtu hingga Selasa sebanyak 14 orang. Empat orang dari Desa Agom dan 10 orang dari Desa Balinuraga. Belasan orang lainnya mengalami luka-luka akibat senjata tajam.

Sebanyak 166 unit rumah warga di Desa Balinuraga dan Sidoreno dibakar massa, 11 unit sepeda motor dibakar, 1 mobil minibus dan 2 mobil jeep dibakar, serta sebuah gedung sekolah juga dibakar massa.

Ribuan orang mengungsi
Konflik antar warga di Lampung Selatan menyebabkan penderitaan bagi warga lainnya. Ketakutan akan serangan balasan, menyebabkan ribuan orang takut keluar rumah.

Sejak Senin kemarin, ribuan warga Desa Agom terpaksa mengungsi untuk menghindari serangan balasan dari warga Desa Balinuraga.

Kabid Humas Polda Lampung, AKBP Sulityaningsih, mengatakan, sebanyak 192 orang diungsikan ke Sekolah Polisi Negara (SPN) Kemiling. Ribuan lainnya mengungsi ke Mapolres Lampung Selatan.

Para pengungsi tersebut kebanyakan perempuan, orangtua dan anak-anak. Mereka berduyun-duyun membawa bungkusan pakaian. Wajah-wajah mereka menunjukan rasa cemas, takut akan keselamatannya.

Mereka kemudian menggelar tikar di sekitar Mapolres. "Kami dengar ada serangan balasan, dan akan menyerang warga Kalianda juga, padahal jaraknya jauh dari lokasi bentrokan. Saya takut dan langsung mengungsi ke Mapolres ini," ujar seorang warga, Asih, sambil menggendong bayinya.

Selasa dinihari, 30 Oktober 2012, ratusan warga pria berjaga-jaga di jalanan Kota Kalianda. Dengan memegang berbagai senjata tajam seperti, tombak, parang, dan bambu runcing. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi isu adanya serangan balik dari Desa Balinuraga.

Isu serangan balasan itu berhembus sejak Senin malam, dan membuat seluruh warga Kota Kalianda yang juga ibukota Lampung Selatan, panik. Suara pengumuman agar seluruh warga waspada berkumandang dari pengeras suara di masjid-masjid.  

Kondisi di lapangan tampak lengang. Sebagian warga tidak berani keluar untuk beraktivitas seperti biasa. Mereka memilih untuk tetap di dalam rumah. Sebagian lagi masih bertahan di lokasi pengungsian. "Keluarga masih kami ungsikan. Takut ada serangan balasan," kata seorang warga Desa Agom.

Persoalan sepele
Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo menyatakan, bentrok antarwarga yang terjadi di Lampung Selatan sesungguhnya berawal dari masalah sepele.

Timur mengatakan, akar persoalan dapat dirunut "mulai dari kelompok yang mengganggu kegiatan pemudi." Dua gadis asal Desa Agom yang mengendarai sepeda motor diganggu oleh pemuda asal Desa Balinuraga hingga jatuh dan mengalami luka-luka.

"Masalah sepele ini mempengaruhi dan melatarbelakangi semua," kata Kapolri. Lalu masalah itu kemudian berkembang dengan isu pelecehan seksual, hingga terjadi bentrokan.

Oleh sebab itu Kapolri meminta tokoh-tokoh masyarakat Lampung, ulama setempat, dan pemerintah daerah, bisa ikut meredam bentrok antarwarga di Lampung.

Kapolri mengakui peristiwa bentrok antarwarga di Lampung Selatan bukan terjadi kali ini saja. "Ini sudah terjadi berkali-kali. Artinya kita harus lebih keras lagi, terutama dalam membina dan mengelola wilayah itu. Masyarakat, tokoh, ulama, dan pemda harus bersinergi," ujar Timur.

Oleh karena itu, Kapolri meminta kepala daerah berperan aktif dalam mengatasi konflik yang terjadi di Lampung Selatan. "Tentu saja kami akan kedepankan pemerintah daerah. Kami akan tegas demi hukum," kata Timur.

Bukan hanya di Lampung, konflik yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia juga harus diselesaikan secara bersama-sama. Penegak hukum dan pemerintah daerah. "Tentu saja ada ciri khas masing-masing daerah. Ciri khas itulah yang harus dikedepankan masyarakat untuk tindakan preventif," kata Kapolri.

Instruksi Presiden SBY
Peristiwa berdarah itu langsung disikapi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sebelum bertolak ke Inggris, untuk menghadiri pertemuan puncak The Asia-Europe Meeting (ASEM). Presiden meminta segenap pemangku kepentingan turut bertanggung jawab mengatasi aksi kekerasan horisontal yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia, termasuk di Lampung Selatan.

Dia minta tanggung jawab itu tidak hanya dibebankan kepada aparat kepolisian dan TNI tetapi juga pemangku kepentingan lainnya.

"Saya menyerukan semua pihak harus ikut bertanggung jawab, semua pihak peduli, semua pihak bekerja," kata SBY di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa 30 Oktober 2012.

Pencegahan optimal tidak bisa hanya diserahkan pada kepolisian dan TNI. "Jangan, sekali lagi, hanya menyerahkan kepada aparat kepolisian dan komando teritorial TNI. Hanya dengan cara itu kita bisa mencegah secara optimal dan efektif," kata SBY.

Pernyataan presiden itu kemudian diperjelas oleh Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto. Djoko mengatakan, maksud presiden itu adalah agar seluruh pemangku kepentingan seperti kepala daerah, tokoh masyarakat dan masyarakat sipil ikut bersama-sama mencegah.

"Poinnya adalah jangan semua diserahkan kepada TNI dan Polri. Semua tokoh masyarakat, pemda, gubernur, bupati, itu juga ikut dalam konteks itu," kata Djoko.

Kini, ratusan anggota polisi dari Polda Lampung, Brimob Polda Banten dan Sumsel diterjunkan menuju lokasi. Sebanyak 700 anggota TNI juga dikerahkan untuk mengamankan lokasi bentrokan. (eh)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
awan89
01/11/2012
INI JELAS2 KARENA FAKTOR KEBENCIAN TERHADAP KEPERCAYAAN LAIN + DALAM AJARANNYA ITU ADA ISTILAH HALAL MINUM DARAH KAFIR (COBA FIKIR MANUSIAWI KAGAK??) DIMANA_MANA PASTI BIKIN RUSUH MULAI DARI ASALNYA HINGGA INDONESIA JUGA SAMA(GAK HERAN)
Balas   • Laporkan
catz
01/11/2012
Wooeee., Ini berita apaan.,?? Baca pernyataan resmi di SITUS POLRI.,!!!
Balas   • Laporkan
wong_martopuro
31/10/2012
yang salah warganya yg ikut perang, ngapain pada perang kalau masalahnya cuma sepele, kenapa enggak diselesaikan P to P (people to people)secara damai,
Balas   • Laporkan
juniorsoftware2001
31/10/2012
Yang salah adalah yang slalu bertanya2 "Siapa yang salah ?" tanpa ada tindakan dan solusi :D {kalau bgt yg bikin berita ini dunk :P} hehehe
Balas   • Laporkan
kajima
31/10/2012
yg salah adalah provokator krn masyarakat skrg ini sdh sensi shgg issu apa saja akan mdh meledak ingat kalau terus2an selalu saja mereka yg kena teror lama2 juga mereka akan mempertahankan diri bila diserang sbg upaya mempertahankan diri alias jihad
Balas   • Laporkan
bliut
31/10/2012
" ANDA ETNIS MANA??.." itulah pertanyaan yg paling gue benci.. pertanyaan sampah itu..!!! salah satu biang kerok prahara. Dan juga pernyataan.. " AKU ORANG.. (dari etnis tertentu).." ald pernyataan SAMPAH..!! AKU ORANG INDONESIA, I'M INDONESIAN..!! TITIK.
Balas   • Laporkan
awangelap
31/10/2012
sepertinya koq seneng sekali ya berkelahi dengan saudara sendiri. sadar donk...
Balas   • Laporkan
oryza.sativa.1426
31/10/2012
BUDAYA APA YANG TELAH MERASUK RAKYAT INDONESIA, DI LUAR INDONESIA DIKENAL KERAMAHTAMAHANNYA, SOPAN SANTUN, SUKA BERTOLERANSI ANTAR SUKU BANGSA DAN AGAMA. SEKARANG PERMASALAHAN KECIL BISA MENJADI BESAR, MENYESALAH WAHAI PARA PELAKU KERUSUHAN..
Balas   • Laporkan
oryza.sativa.1426
31/10/2012
kepada seluruh komponen bangsa, mbok ya jangan mudah terprovokasi hal seperti itu siapa yang diuntungkan justru malah bikin susah..please dong ciptakan hidup tenang
Balas   • Laporkan
Perlu di susun sgera draft uu ANTI TANAKER (tawuran,anarkisme dan kerusuhan ) dan diupayakan pembentukan DATASEMEN KHUSUS ANTI TANAKER..krena tindakan itu adalah kriminal...terkadang ada hall2 yg dperlukan ketegasan..jangan dgn alasan ham,TDK TEGAS
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id