FOKUS

Transportasi Air, Bisakah Atasi Macet Jakarta?

Dibuka jalur laut rute Muara Baru hingga Marunda waktu tempuh 30 menit

ddd
Jum'at, 1 Februari 2013, 20:01
Jalur sepeda di Kanal Banjir Timur, Jakarta
Jalur sepeda di Kanal Banjir Timur, Jakarta (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)

VIVAnews - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menghidupkan lagi transportasi air. Moda transportasi ini sempat beroperasi pada masa pemerintahan Gubernur DKI Sutiyoso. Namun gagal dikembangkan karena kondisi sungai yang tidak mendukung.

Jika dulu waterway melaju di aliran sungai Kanal Banjir Barat, kini Dinas Perhubungan DKI Jakarta memilih jalur laut dan Kanal Banjir Timur. Kapal akan menyusuri air dari KBT Marunda hingga laut Muara Baru. Rencananya uji coba akan dilakukan dalam dua pekan ke depan.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono, menjelaskan selama uji coba, penumpang tidak akan dikenai biaya alias gratis. "Nanti kalau sudah jadi bisnis, baru jalan dan bayar," kata Pristono, Jumat, 1 Februari 2013.

Dua kapal kecil dengan daya angkut 30 orang itu akan bolak balik mengantarkan penumpang. Dan pada bulan Maret akan ditambah dua lagi hingga jadi empat kapal. Dinas Perhubungan menyiapkan dana Rp15 miliar untuk membeli dua kapal baru. Adapun kapal yang akan digunakan adalah jenis kerapu.

Angkutan ini menjadi alternatif bagi warga Marunda, Jakarta Utara, yang akan menuju Muara Baru. Untuk memudahkan, dibangun sebuah dermaga di Muara Baru dan Marunda. Jarak dari rusun ke dermaga relatif dekat yakni hanya 800 meter.

Jika menggunakan transportasi darat, dari Marunda menuju Muara Baru membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Sementara dengan kapal lebih efektif yakni hanya 30 menit.

Pembukaan rute laut sepanjang 17 kilometer itu diprediksi bakal memangkas separuh perjalanan warga melalui jalur darat. Saat ini sebagian warga korban banjir Muara Baru, yang kini tinggal di rumah susun sederhana sewa Marunda, menggantungkan hidupnya dari hasil tangkapan laut yang diperjualbelikan di kawasan pelelangan ikan kawasan itu.

Selama ini warga tidak hanya berhadapan dengan macet tapi juga berjuang melawan kendaraan besar kontainer yang lewat di Tanjung Priok.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, mengatakan jika uji coba berhasil maka perjalanan akan diperpanjang lagi hingga ke sepanjang Kanal Banjir Timur Duren Sawit. Ini untuk memudahkan akses bagi warga di Jakarta Timur menuju Jakarta Utara atau Pantai Ancol.

"Diteruskan dari Kanal Banjir Timur ke Duren Sawit karena airnya cukup bagus," kata Jokowi. Nantinya akan ada empat rute yang dilalui moda transportasi, yaitu dari Duren Sawit, Marunda, lalu Ancol-Muara Baru, dan Muara Baru-Angke.

Jokowi berharap moda trasnportasi ini dapat mengurangi beban jalan raya, meski menurut Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Kanal Banjir Timur tidak dirancang untuk konsep waterway. Ahok menjelaskan, konstruksi jembatan di sepanjang KBT memiliki tiang pondasi yang berdekatan. Sehingga tidak mungkin dilewati perahu.  "Tidak hanya itu, ada beberapa badan jembatan yang turun," kata Ahok.

Agar tidak gagal

Pengamat perkotaan Yayat Supriatna, menilai 'taksi air' ini akan efektif jika didukung dengan jadwal yang teratur dan tepat waktu. Pemprov DKI juga harus memberi jaminan rasa aman sehingga warga tidak ragu untuk memanfaatkan transportasi ini. "Jam operasional harus tegas. Harus ada kepastian warga aman menggunakan itu," kata Yayat kepada VIVAnews.

Dari segi operasional, Yayat mengatakan, kapal air ini lebih mudah dibanding waterway pada era Sutiyoso. Pengelola tidak perlu menjaga permukaan air laut agar tetap stabil. Begitu juga sampah yang relatif lebih sedikit dibanding sungai.

Yayat menjelaskan, di masa pemerintahan Gubernur Sutiyoso, waterway itu tidak lagi kelanjutannya karena sampah dan ketinggian air sungai yang tidak stabil. Jika transportasi laut ini berhasil maka Jakarta akan memiliki pilihan trasnportasi.

Dengan adanya kapal ini dengan sendirinya laut yang menjadi rute perjalanan akan selalu terkontrol. Tampil lebih bersih dan indah, sehingga menambah daya tarik Jakarta sebagai daerah kunjungan wisata. Polusi pun dapat dikurangi. "Yang perlu aspek keselamatan, jangan kelebihan muatan dan jangan terlalu mahal," kata dia.

Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi Darmaningtyas, mengatakan, ada beberapa hal yang harus disiapkan oleh Pemprov DKI untuk menjalankan trasnportasi air di KBT agar tidak gagal seperti waterway Halimun–Dukuh Atas pada 2007 lalu.

Persiapan itu antara lain menjaga kestabilan debit air kali yang dipakai untuk moda angkutan air, pengerukan sedimentasi kali, dan penataan sepanjang kawasan sempadan kali.

Menurut dia memang sudah saatnya paradigma pengembangan jalan berubah. Saat ini sulit jika hanya mengandalkan pengembangan angkutan jalan. "Saatnya kembali melihat sungai sebagai potensi yang dapat dimanfaatkan," ucap dia. (sj)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
1714n
03/02/2013
bs j sc...asal kali/sungai bkn ge tong smpah raksasa..iri kdg lhat ngara" eropa..jgn eropa...thailand...ssama ngra brkembang mmpu mngembangkn transportsi air 'n mnjdi srana wisata..krna pnataan 'n kbersihan sungai ny...n bkn mmbndingkn,,tp sbg motivasi
Balas   • Laporkan
niken.arliza
02/02/2013
mudah2an nanti kalau sudah berjalan, peran serta masyarakat akan lebih baik. contoh kecilnya tidak membuang sampah sembarangan.... biaya perawatan sungainya juga jangan lupa..
Balas   • Laporkan
muhammad.makhfudz
02/02/2013
Selagi pola hidup bangsa belum berubah,transportasi air susah dijadikan pemecah kebuntuan kemacetan didarat.Karena memerlukan biaya yg sangat tinggi,karena harus dikeruk dan tak ada sampah yg bisa menghalangi angkutan air lewat
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com