FOKUS

Bom di Hari Patriot AS: Al-Qaeda atau Sayap Kanan?

Insiden terkait kelompok sayap kanan meningkat sejak 11 September 2001

ddd
Rabu, 17 April 2013, 20:44
Tim penyelidik AS mencari barang bukti kasus bom teror di Kota Boston, 16 April 2013
Tim penyelidik AS mencari barang bukti kasus bom teror di Kota Boston, 16 April 2013 (REUTERS/Adrees Latif )

VIVAnews - Tim penyelidik Amerika Serikat setahap demi setahap menemukan petunjuk yang dapat menjelaskan hal-ihwal bom teror di Kota Boston Senin lalu, yang menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai 176 lainnya. Banyak rekaman foto dan video bermunculan demi membantu tim penyelidik gabungan pimpinan FBI mengusut kasus "Maraton Berdarah" ini.

Tim penyelidik sudah menemukan serpihan-serpihan logam yang diduga kuat berasal dari dua bom rakitan di lokasi peristiwa, yaitu di Jalan Boylston. Benda-benda itu berupa komponen panci presto (pressure cooker) bercampur dengan paku, gotri, dan lainnya.

Selain itu, pada Rabu waktu setempat atau hari ketiga penyelidikan, aparat juga mendapatkan foto yang bisa menjadi petunjuk penting. Foto itu menunjukkan seorang atau sejumlah tersangka membawa tas besar atau ransel berbahan nilon. 

Namun, mereka masih kesulitan mencari siapa pelakunya, begitu pula menentukan motif penyerangan. Ini karena barang-barang bukti yang sudah dikumpulkan masih belum menjadi petunjuk kuat. Polisi setempat masih mengharapkan kiriman informasi, kumpulan foto dan rekaman video dari warga masyarakat, yang menyaksikan teror Senin kemarin.  

Presiden Barack Obama dan para pejabat keamanan juga baru sebatas menyatakan bahwa insiden di Boston ini merupakan aksi teror yang bengis dan pengecut. "Berdasarkan apa yang kami tahu, FBI menginvestigasi kasus ini sebagai aksi teror," kata Obama.

Namun, Obama dan tim keamanannya masih berhati-hati dalam menduga siapa atau kelompok mana yang seharusnya bertanggung jawab. Dalam suatu jumpa pers, dia tidak terpancing oleh pertanyaan seorang wartawan untuk menduga-menduga. "Saya ingin tahu dulu fakta-faktanya sebelum bicara," Obama menegaskan, seperti dikutip The Washington Post.

Dalam pernyataan pers kedua setelah tragedi di Boston, dia mengulangi tekad pemerintahnya untuk menangkap dan menindak pelaku pengeboman. "Siapapun orangnya, apapun kelompoknya, akan diganjar hukuman berat," katanya.

Obama memang terpukul atas bobolnya keamanan AS dari serangan teror. Belum pernah ada aksi teror yang sampai merenggut korban jiwa selama Obama memimpin AS sejak 2009, hingga Bom Boston meledak. 

Sebelum peristiwa ini, di masa kepresidenan Obama sejumlah kasus terorisme malah berhasil digagalkan. Pertama pada 2009 saat seorang penumpang pesawat berupaya meledakkan bom di celana dalamnya di langit Kota Detroit. Namun, pelaku berhasil dibekuk sesama penumpang sebelum melancarkan aksinya. Lalu, pada 2010 pihak keamanan Kota New York berhasil menggagalkan peledakan bom mobil dan membekuk pelakunya.     

Belum mengaku

Setali tiga uang dengan sikap Obama, para penyelidik pun masih berhati-hati. Ketua tim penyelidik FBI untuk kasus Bom Boston, Richard DesLauriers, mengaku hingga Selasa waktu setempat belum ada informasi yang pasti soal pelakunya. Belum juga ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas insiden tersebut.

"Sampai saat ini belum ada yang mengaku bertanggung jawab. Estimasi pelaku dan motifnya masih terbuka sangat lebar. Kami tidak punya informasi definitif soal pelaku. Mungkin saja satu orang, atau beberapa orang," kata DesLauriers seperti dikutip kantor berita Reuters.

Menurut kalangan pengamat terorisme, ada kemungkinan pelakunya seorang diri. Kesimpulan ini diambil dari jenis peledak yang dibuat dari bahan-bahan yang sering ditemui sehari-hari. Bom jenis ini pernah diajarkan pembuatannya oleh al-Qaeda dalam majalahnya, Inspire. Tapi, para teroris sayap kanan juga kerap menggunakan bom ini untuk menciptakan kekacauan.

"Ini yang paling dikhawatirkan. Tidak ada jejak, tidak ada informasi intelijen," kata seorang penyelidik kepada CNN.

Beberapa barang bukti telah dikumpulkan oleh FBI, yaitu fragmen peledak yang terdiri dari beberapa keping kecil. Di antaranya adalah beberapa inci kabel warna merah dan hitam yang terhubung dengan kotak kecil, paku, dan ritsleting berlumuran darah.

Ada juga foto sebuah benda yang diduga bom, yaitu panci presto. Diduga, di dalam panci itulah diletakkan mesiu beserta paku, lempengan besi tajam dan bola bearing. Saat ledakan, benda-benda ini terlontar, menyebabkan luka parah pada lebih dari 170 orang.

Setelah mengumpulkan seluruh material ledakan, FBI akan mencoba merekonstruksinya kembali di laboratorium di Quantico, Virginia. Diduga, bom panci presto itu dibawa pelaku dalam back-pack hitam yang diletakkan sembarang di dekat garis finish.

DesLauriers meminta warga masyarakat melaporkan apabila pernah melihat orang yang membawa benda ini, ataupun orang mencurigakan lain. "Orang yang melakukan ini mungkin saja teman, kolega atau tetangga Anda. Pasti ada yang mengetahui siapa yang melakukan ini," kata dia.

Kecurigaan sayap kanan

Kehati-hatian Obama dalam membuat pernyataan dan bukti-bukti yang masih tergolong minim di tangan penyelidik menandakan AS tidak mau gegabah dalam menghadapi kasus pengeboman di Boston. Ini memang aksi teror, tapi siapa pelakunya masih belum jelas.

Kalangan pengamat juga menilai sejumlah indikator di atas menandakan masih terlalu dini untuk menuduh kelompok tertentu. Pelakunya bisa siapa saja, entah itu jaringan teroris internasional seperti al-Qaeda maupun kelompok militan sayap kanan anti pemerintah, seperti gerombolan Timothy McVeigh yang mengebom gedung pemerintah di Oklahoma City pada April 1995. 

Mantan Koordinator Perserikatan Bangsa-bangsa untuk al-Qaeda dan Taliban, Richard Barrett--dia juga pernah berdinas di MI5, MI6 dan Kantor Luar Negeri Inggris--menyatakan waktu pengeboman pada Hari Patriot dan ukuran bom yang kecil menunjukkan ini adalah karya ekstremis dalam negeri.

"Sekilas terlihat lebih seperti sebuah insiden teroris sayap kanan daripada serangan al-Qaeda, jika melihat ukuran peralatannya," kata Barrett yang kini jadi Direktor Senior Qatar International Academy for Security Studies (QIASS), seperti dilansir Herald Sun, Australia, Rabu 17 April 2013.

Kemudian, dia menambahkan, "Pemboman terjadi di Hari Patriot, juga hari di mana rakyat Amerika sudah menyetor pajaknya dan Boston adalah semacam kota simbolis. Inilah indikator-indikator kecil itu."

Sementara Profesor Greg Barton dari Pusat Kajian Islam dan Dunia Modern Universitas Monash, Australia, menyebut "dua kemungkinan besar" pelaku penyerangan.

"Terdapat lebih dari 50 percobaan plot teror sejak peristiwa 11 September di Amerika Serikat, sebagian besar dilakukan kelompok jihad. Namun faktanya, tak ada yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan ini, yang dilakukan di Hari Patriot--hari yang menandai dimulainya revolusi Amerika di Boston--dan ciri-ciri peralatan yang mengarah pada kemungkinan keterlibatan kelompok dalam negeri, seperti Timothy McVeigh yang membom Kota Oklahoma yang juga meledakkan bom di Hari Patriot April 1995," kata Barton kepada Radio 3AW di Melbourne.

Prof. Barton yang juga dikenal sebagai Indonesianis itu menyatakan bom itu "secara esensial adalah granat buatan rumah".

Prof Barton menyatakan seseorang yang pernah mendapat latihan militer, kelompok jihad, atau kelompok sayap kanan ekstrem dapat dengan mudah membuatnya. Ada banyak manual pembuatan alat semacam itu di Internet, katanya.

Barrett menyatakan jumlah insiden terkait kelompok sayap kanan meningkat sejak 11 September 2001. Dari 2002 ke 2007, sembilan orang anggota kelompok sayap kanan didakwa karena pembunuhan. Antara 2008-2012, jumlahnya meningkat jadi 53 berdasarkan data dari Yayasan Amerika Baru.

Namun sebelum periode itu, seorang teroris domestik bernama Eric Rudolph menyerang sejumlah lokasi di Centennial Olympic Park, Atlanta, atas nama agenda anti aborsi dan anti gay. Di tahun 1995, Timothy McVeigh meledakkan sebuah truk berisi bom di depan Gedung Alfred P. Murrah di Kota Oklahoma, membunuh 168 orang dan melukai lebih dari 800 orang.

Barrett mengatakan serangan al-Qaeda umumnya melibatkan teroris yang dilatih dengan manual dari Internet atau kamp pelatihan, sehingga mudah bagi aparat untuk melacak mereka. Sementara teroris domestik bergerak secara terisolasi atau dalam sekelompok orang dan seringkali mengarahkan aksi mereka ke target-target berskala kecil.

"Itu sebab teroris al-Qaeda mudah dicegah. Mereka terlalu ambisius," kata Barrett. (kd)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
abdulmrza
18/04/2013
sotoy banget loe
Balas   • Laporkan
brendha
18/04/2013
Tidak ada jejak, tidak ada informasi intelijen," kata seorang penyelidik. Mungkinkah pelakunya intelijen sendiri...? atau respon atas kebijakan obama yg memangkas anggaran bagi CIA..?
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id