FOKUS

Mengenang Ustad Jeffry Albuchori

Muda dan tampan. Ceramah agamanya mencerahkan banyak orang.

ddd
Jum'at, 26 April 2013, 20:31
Pipik Dian Irawati, istri Almarhum Ustadz Jeffry Al Buchori atau yang biasa disapa Uje memeluk foto almarhum.
Pipik Dian Irawati, istri Almarhum Ustadz Jeffry Al Buchori atau yang biasa disapa Uje memeluk foto almarhum. (ANTARA/Muhammad Iqbal)

VIVAlife – Wanita berjilbab itu histeris. Menangis sejadi-jadinya. Didekapnya bingkai itu. Bingkai bergambar sang suami. Air matanya seperti tidak kunjung surut. Sesekali dengan suara parau, ia menyebut nama sang suami. Pipik Dian Irawati. Istri Ustad Jeffry Albuchori ini sungguh terpukul dengan kepergian mendadak ayah dari keempat anaknya. Baru kemarin bersenda gurau. Jumat pagi 26 April 2013 itu pulang tak bernyawa.

Ustad Jeffry Albuchori, yang akrab disapa Uje itu, mengalami kecelakaan motor sepulang dari ceramah di Kemang Jumat dini hari.  Motor kawasaki E650 yang dikendarainya menabrak pohon. Nahas itu terjadi di kawasan Pondok Indah Jakarta Selatan. Sekitar pukul 1 dini hari.

Helm half face yang melindung kepala terlepas. Kepalanya membentur pohon. Motor terpental sejauh 3-4 meter. Motor dengan cc besar itu rusak parah di bagian kiri. Setang kirinya naik ke atas sampai membentuk huruf L. Motor besar ini tampaknya agak babak belur. Lampu depan dan belakang bagian kiri ikut hancur. 

Pertolongan sesungguhnya sudah diberikan. Melihat kondisi Uje yang kritis, sang pengawal, sekuriti perumahan dan pemilik warung di dekat lokasi langsung melarikan sang ustad ke Rumah Sakit Pondok Indah. Namun, nyawa Uje sudah tidak tertolong. "Saat ditemukan, posisi beliau telungkup," ujar Kepala Subdit Pembinaan dan Pengakan Hukum Ditlantas Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Sudarmanto.

Kematian Uje tak hanya ditangisi keluarga dan handai taulan. Ribuan orang turut mengantar jasadnya hingga liang kubur.  Tua, muda, rela berdesak-desakan mengiringi jenazah dari rumah duka, Masjid Istiqlal, sampai Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak. Di situs jejaring sosial, ucapan duka cita juga mengalir tiada henti.

Lahir 12 April 1973, sosok Uje memang lekat mendalam dibenak masyarakat Indonesia. Sebagai ustad, ia kerap wara-wiri di berbagai stasiun televisi memberi dakwah. Gayanya yang ceplas-ceplos dan santai, membuat Uje lekas disukai. Dari masyarakat biasa, selebritas, hingga orang dipucuk negeri ini.

Banyak kalangan memintanya berceramah. Dari berbagai daerah. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bahkan pernah meminta Uje untuk ceramah di Istana. Demi urusan ceramah itu, dia juga terbang jauh ke Belitung Timur. Yang mengundangnya saat itu adalah Bupati Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang saat ini menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta. “Saya suka banget khotbahnya, enak sekali didengar. Bagus sekali. Indonesia kehilangan satu pemuda yang luar biasa," kenang Ahok soal sang ustad.

Uje adalah salah seorang ustad yang karismatik. Tak sedikit juga yang menyebutnya sebagai ustad gaul karena kerap menggunakan bahasa yang akrab dengan anak muda saat berdakwah. Tak ada kesan menggurui.  Setidaknya itulah pengakuan salah seorang pesinetron sekaligus sahabat Uje, Ramzi.

Uje, kenang Ramzi, merupakan sosok ustad yang ceramahnya sangat efektif dan mengena.  Uje juga sangat jujur mengenai perjalanan hidupnya yang tidak sempurna. "Cerita Uje bukan hanya pepesan kosong. Karena saat menyampaikannya, ia juga pernah mengalaminya dan merasakan dalam hidupnya," kata Ramzi.

Bangkit dari Masa Suram

Ya, sebelum menjadi ustad, Uje muda memang pernah terjerumus dalam lembah hitam. Minuman keras sempat mewarnai hidup pria kelahiran Jakarta itu.  Meski mendapat pendidikan agama yang kuat saat kecil, Uje remaja justru dikenal nakal. Mengeyam pendidikan di sekolah Islam, tidak langsung membentuk Uje berperilaku sesuai ajaran di sekolahnya. Kala itu, ia sering kabur dari pesantren dan menonton film di bioskop. Berkali-kali bolos, Uje pun sempat dikeluarkan dari pesantren.

Kenakalan Uje semakin menjadi di kala menjadi mahasiswa broadcasting. Dia sering dugem, bergaul dengan pemakai narkoba. Bahkan Uje tidak bisa menyelesaikan kuliahnya. Kehidupannya tak  jelas. Sering nongkrong di klub. Bahkan Uje pernah menjadi dancer di salah satu klub. Uje akhirnya menikah dengan Pipik Dian Irawati, seorang model gadis sampul pada tahun 1999.

Semuanya mulai berubah sesudah menikah itu. Gaya hidupnya berubah total saat Uje diajak umroh oleh ibu dan kakaknya. Dia mendapat pencerahan dari tanah suci itu. Dia menyadari, kehidupan yang dijalaninya selama ini adalah semu belaka. Uje pun bertobat.

Pada masa awal pertobatannya itu, Uje mendapat amanah dari kakak tertuanya Ust. H. Abdullah Riyad, untuk melanjutkan dakwah sang kakak di Jakarta. Namun, perjalanan Uje sebagai pendakwah tak semudah membalikkan tangan. Saat menjadi imam, beberapa jamaah justru pergi meninggalkannya.

“Begitu saya shalat, shaf lumayan banyak karena salat maghrib biasanya sampai 3-5 shaf. Begitu selesai, itu tinggal beberapa orang saja,” kisah Uje dalam acara Satu Jam Lebih Dekat di stasiun televisi TVONE, beberapa waktu lalu.

Penolakan dari lingkungan tidak membuat Uje mundur. Ia justru menilai, kejadian tersebut sebagai sebuah proses pembalikkan. Adalah wajar, ujarnya, jika orang-orang tidak langsung mempercayainya. “Nah akhirnya dari situ saya punya semangat bahwa berubahnya saya bukan untuk mereka. Saya niat berubah untuk Allah dan untuk kebaikan diri saya,” kata pria yang pernah membintangi sinetron Pendekar Halilintar tersebut.

Tidak kenal menyerah itulah yang membentuk Uje di kemudian hari. Dia dikenal sebagai ustad yang ceramahnya mudah dicerna. Cerdas dan mengena dengan kehidupan para pendengar. Dia juga sangat bersahabat dengan banyak orang. Kemampuan itulah yang membuatnya diundang banyak orang berceramah.

Firasat Anak Sulung

Kematian Ustaz Jeffry Al Buchori mengejutkan banyak orang termasuk keluarga. Namun, sebelum kepergiannya, anak sulung Uje, Adiba Khanza Az-Zahra sempat mengalami peristiwa tak biasa dan dirasa sedikit aneh. Remaja yang masih duduk di bangku SMP itu terakhir bertemu dengan ayahnya, Minggu lalu. Saat itu, ia merasa sang ayah seperti berpamitan padanya.

"Kan Abi (panggilan untuk ayahnya) lagi sakit. Abi sebelumnya bilang sakitnya kliyengan gitu, pusing. Tiba-tiba aku disuruh ke toilet, katanya ada temannya. Aku masuk ke dalam, tapi nggak ada apa-apa," ceritanya saat ditemui di rumah duka. Ia pun menyampaikan pada sang ayah, tidak menemui siapa pun, kecuali pantulan cahaya. Namun, Uje tetap memaksanya masuk ke toilet lagi.

“Abi bilang, 'Kenalin, itu Om yang suka jaga Abi'. Akhirnya aku kenalan saja, tapi nggak ada siapa-siapa," lanjut Diba mengenang peristiwa dengan ayahnya sepekan sebelum meninggal.

Di matanya, sang ayah merupakan sosok yang sangat baik, perhatian, dan peduli. Uje katanya, sangat menyayangi anak-anaknya. "Marah pernah, tapi nggak sering. Kalau salah saja marahnya," katanya mengenang sang ayah.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com