FOKUS

Asap Riau Kian Gawat, Malaysia Status Darurat

BNPB melaporkan hotspot bertambah dari 13 titik menjadi 92 titik.
Minggu, 23 Juni 2013
Oleh : Siti Ruqoyah, Santi Dewi
Riau diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan.
VIVAnews - Hingga hari ini, Minggu 23 Juni 2013, api masih membakar hutan di Riau. Asapnya pun bukan hanya menyelimuti daerah itu tetapi sampai ke negeri tetangga, Singapura dan Malaysia.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, tim gabungan telah kembali bekerja untuk memadamkan api.

"Hari ini tim udara akan mengerahkan 2 heli Bolco untuk melakukan water bombing dan 2 pesawat Hercules dan cassa untuk penyemaian awan," ujar Sutopo dalam pesan yang diterima VIVAnews.

Sutopo menjelaskan, pada operasi pemadaman kemarin, tim ini juga mengerahkan 2 Helikopter Bolco dengan kapasitas 500 liter. Petugas bekerja selama 16 kali di daerah Mandau dan berhasil memadamkan lahan seluas 100 meter.

Sedangkan penyemaian awan 2 ton dilakukan dengan pesawat Hercules di daerah Mandau, Bengkalis dan Duri. Sementara itu, operasi darat dilakukan di Bengkalis dengan mengerahkan personil dari TNI/Polri, masyarakat, manggala agni, BPBD, dan instansi lainnya.

"Kami mendapatkan laporan juga tadi terjadi hujan di desa Bukit Kapur, Dumai," kata dia.

Polda Riau sendiri, lanjut dia tengah melakukan penyelidikan ke dua perusahaan yang diduga melakukan pembakaran lahan dan hutan. Kedua perusahaan itu yakni PT. Lagam Inti Hibrida di Pelalawan dan PT. Bumi Reksa Sejati di Indragiri Hilir.

Penyelidikan ini sebagai tindak lanjut pengumuman dari Menteri Lingkungan Hidup tentang 8 perusahaan yang diduga melakukan pembakaran lahan dan hutan.

Sutopo menambahkan berdasarkan pemantauan satelit pemantau cuaca dan pendeteksi panas bumi (NOAA) 18, jumlah hotspot pada Sabtu kemarin mencapai 92 titik sedangkan Jumat ada 13 titik.

Menurut Sutopo, peningkatan jumlah hotspot tersebut disebabkan ketidakmampuan sensor satelit mendeteksi hotspot karena tebalnya asap.

"Sehingga sensor thermal dari satelit NOAA tersebut tidak dapat tembus ke permukaan tanah. Jadi ini bukan disebabkan meningkatnya aktivitas pembakaran," kata dia.

Dari 92 hotspot tersebut sebagian besar terdapat di daerah Rokan Hilir dan Bengkalis. Arah angin di Riau mengarah ke timur dan timur laut sehinggga asap dapat menyebar di wilayah Malaysia dan Singapura.

Sementara itu hotspot di Jambi 12 titik, Kalimantan Barat 18 titik dan Kalimantan Timur 18 titik.

Asap dari pembakaran hutan ini juga berdampak pada sejumlah penerbangan domestik dan internasional yang gagal berangkat. Meski demikian, tidak sedikit juga yang nekat untuk terbang, seperti yang terjadi kemarin di Bandara Internasional Sultan Syarif II Pekan Baru.

Padahal jarak pandang di Bandara ini hanya sejauh 800 meter, atau di bawah batas normal 2 kilometer. Otoritas bandara memperingatkan seluruh kru pesawat untuk berkomunikasi intensif dengan menara pengawas guna memantau perkembangan cuaca dan jarak pandang yang terganggu akibat asap kebakaran hutan Riau.

Malaysia status darurat

Kumpulan asap tebal juga masih menyelimuti Malaysia, yang terparah adalah dua distrik di bagian selatan Johor yakni Muar dan Ledang. Ketebalan asap mencapai angka 750.

Menurut World Health Organization (WHO), indeks level normal tidak boleh lebih dari angka 20. Sementara indeks level berbahaya berada pada angka 300. Level tersebut bisa menyebabkan sejumlah penyakit pernafasan, seperti penyakit paru paru dan infeksi pernafasan akut.

Kantor berita Reuters, melansir keadaan darurat itu dari akun Facebook milik sang Menteri. Di akunnya tertulis: "Perdana Menteri Najib Razak telah menyetujui untuk mengumumkan keadaan darurat di Muar dan Ledang dengan segera,". Namun saat coba dikonfirmasi mengenai pengumuman itu, baik Palanivel  maupun kantor PM Najib tidak dapat dihubungi.

Sementara juru bicara di Johor, kepada Reuters, mengatakan sedang menunggu perintah dari Dewan Keaman Nasional mengenai pengumuman keadaan darurat ini. Dia juga meminta warga untuk berada di dalam rumah sementara waktu.

Singapura serahkan ke Indonesia

Ketua Satuan Tugas Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+), Kuntoro Mangkusubroto mengatakan, ada dua perusahaan pembakar hutan yang berbasis di Singapura.

Dua perusahaan itu yakni Asia Pacific Resources International (April) dan Sinar Mas.

"Sebagian besar titik api di Provinsi Riau terjadi di lahan perkebunan dan pertanian yang dimiliki Perusahaan April dan Sinar," ujar Kuntoro.

Untuk sanksi hukumnya, pemerintah Singapura tetap menyerahkan sepenuhnya kepada Indonesia apabila mereka juga ingin menuntut secara hukum kedua perusahaan tersebut. Namun perwakilan April menolak tuduhan tersebut saat dikonfirmasi oleh BBC.

Menteri Luar Negeri dan Hukum Singapura, K Shanmugam menegaskan pemerintahnya tidak akan memberikan bantuan hukum atau perlindungan kepada perusahaan yang bertanggung jawab terhadap pembakaran hutan di Indonesia.

Shanmugam mengatakan ada keterbatasan dalam hukum perdagangan internasional, sehingga membatasi pemerintah untuk memberikan bantuan terhadap perusahaan yang beroperasi di luar negeri Singa tersebut.

Shanmugam telah meminta kepada jaksa agung untuk meneliti kasus ini. "Kami akan melakukan terbaik yang kami bisa," ujar Shanmugam.

Shanmugam menambahkan, pihaknya akan membawa isu asap ini dalam pertemuan tingkat tinggi ASEAN yang diadakan di Brunei Darussalam pada minggu depan. Polusi kabut di Singapura telah mencapai rekor tertinggi dalam sejarah.

Menurut data indeks polusi standar (PSI), pada hari Jumat siang waktu setempat PSI telah mencapai angka 401. Sementara pada Sabtu ini tingkat PSI mulai menurun tapi masih dalam angka berbahaya yaitu 326.

Akibat kabut asap ini, sekolah-sekolah di Indonesia dan Malaysia ditutup untuk sementara waktu. Pariwisata Singapura pun tak luput kena dampaknya.

PM Lee Hsieng Loong pada hari Kamis kemarin memperingatkan kabut asap masih akan terus mengancam Singapura hingga beberapa minggu ke depan.
TERKAIT
File Not Found
TERPOPULER
File Not Found