FOKUS

Investasi Dana Sedekah Ala Ustad Yusuf Mansur

Para pemberi sedekah tidak akan mendapatkan bagi hasil.
Kamis, 18 Juli 2013
Oleh : Antique, Alfin Tofler, Nina Rahayu
Ustad Yusuf Mansur
VIVAnews - Percaya tidak, dengan bersedekah Anda bisa ikut berinvestasi dan mendulang pahal berkali-kali lipat? Selain itu, dengan bersedekah secara bersama-sama atau berjamaah, maka sesuatu yang mustahil dan sukar untuk diwujudkan akan menjadi kenyataan? Misalkan saja: membangun 10 pabrik sekaligus, mengakuisisi lahan, atau membeli bank swasta nasional. Bahkan, negara Indonesia juga bisa "dibeli" dengan cara bersedekah.

Anda percaya?

Hal yang sekilas tampak musykil itu yang kini yang ditawarkan Ustad Yusuf Mansur kepada para jemaahnya, khususnya, dan umat Islam pada umumnya.

Konsep "ajaib" ini dia introdusir dengan nama "Sedekah Produktif".  

Ustad Yusuf, seperti dikutip dari situsnya, Kamis 18 Juli 2013, mengungkapkan saat ini usaha patungan yang dirintisnya masih diperkokoh dari sisi legal, sistem, dan administrasinya, agar sesuai peraturan pemerintah. Namun begitu, dia sudah terus bergerak mengajak jemaah untuk ikut serta dalam gerakan dakwah ekonomi tersebut. Dia percaya bahwa dengan berjemaah, bersatu, bersama-sama, banyak hal kecil akan menjadi sesuatu yang besar. 

Sedekah Produktif, menurutnya, adalah sedekah yang tidak langsung habis dibagikan untuk fakir miskin, warga dhuafa, anak yatim, dan kaum lainnya yang selama ini menjadi target sedekah. Dana ini diputar dulu untuk berbagai kegiatan ekonomi. Tujuannya: untuk mengangkat lebih banyak mustahik jadi muzakki.

Lewat Sedekah Produktif, nilai dana bakal membesar, jauh lebih besar dari nilai dana sedekah awal. Ini karena dana itu digerakkan, diputar, dan diusahakan. 

"Asas Sedekah Produktif adalah prudent, safe, dan tentu saja sangat diusahakan dan diperhatikan agar tidak menabrak sesuatu atau sektor-sektor usaha yang dilarang agama dan negara," ujar Yusuf Mansur. "Kita jalan pelan-pelan. Dengan langkah kecil kita, insya Allah, Allah yang akan menyempurnakannya."

Dalam sistem yang digagasnya ini, ungkap Yusuf, jemaah dituntut untuk lebih ikhlas lagi bersedekah. Jika dalam patungan usaha ada bagi hasil dan pengembalian dana, dalam Sedekah Produktif tidak ada--meski dana tersebut terus digerakkan, digulirkan, diusahakan, dan kelak semakin membesar.

"Tapi jangan kuatir. Return (pahala) dari Allah pastinya akan jauh lebih besar, dan nggak ada yang mengalahkan. Sepuluh kali lipat, hingga 700 kali lipat, dan terus bertambah, nggak cuma sekali. Terus-terusan, hingga yaumil hisab nanti. Masya Allah, dah," katanya. 

Dalam hadits riwayat Al-Bukhari dinyatakan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan seorang hamba Allah bukan hanya akan dibalas dengan satu kebaikan. Karena kemurahan Allah, itu akan dibalas dengan 10 kebaikan, bahkan bisa berlipat hingga 700 kali. 

Yusuf memberikan contoh. Dengan dana sedekah Rp20 ribu, kita bisa membeli dua gelas air mineral dan beberapa botol air mineral berukuran kecil. Bayangkan, jika 10 juta orang bersedekah berjemaah, masing-masing Rp20 ribu. Jumlahnya akan menjadi Rp200 miliar.

Nah, apa yang bisa dilakukan dengan dana Rp200 miliar tersebut?

Banyak. Bisa bikin 10 pabrik air mineral besar di 10 kota besar, lengkap dengan armada truk, lahan, dan bangunan permanennya.

"Sekarang bayangkan kalau 10 juta orang bergabung secara bulanan, berarti satu tahun bisa terkumpul dana Rp2,4 triliun. Itu bisa bikin ratusan Bank Perkreditan Rakyat Syariah di ratusan kota, atau bisa masuk sebagai pemegang saham di salah satu bank swasta nasional. Keren, dah," sang ustad berpromosi.

Bukan hanya itu, menurutnya, dengan skema ini Yusuf hakulyakin bisa membeli perusahaan minyak dan gas, asuransi, stasiun televisi, kebun teh, lahan properti, hingga pesawat terbang. Karena itulah, visi misi dari program yang digagasnya ini dia sebut juga dengan gerakan "Membeli Ulang Indonesia".

Saran Dahlan

Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan ikut mengomentari usaha pengumpulan dana Sedekah Produktif Ustad Yusuf, yang saat ini dihentikan sementara itu.

Dahlan mengatakan dia paham bahwa niat Ustad Yusuf ini sebetulnya baik. Namun, dia mengingatkan agar nama sang ustad yang sudah baik tidak menjadi buruk bila di kemudian hari ada salah jalan.

"Yusuf Mansur ini ustad yang populer. Pengikut Twitter-nya ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan. Sebagai ustad, dia dipercaya," kata Dahlan saat ditemui di Jakarta, Kamis. "Yang mempercayai kebetulan banyak orang, sehingga uang yang dikumpulkan cukup banyak."

Yang jadi soal, kata Dahlan, Yusuf tidak langsung menyalurkan dana sedekah yang terkumpul itu, melainkan menginvestasikannya. Namun, para pemberi sedekah melalui sang ustad tidak serta-merta mendapatkan hasil investasinya. Karena sudah diikhlaskan si penyumbang, Ustad Yusuf tidak berkewajiban melaporkan kepada para pemberi sedekah.

Dahlan mengingatkan, menurut aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rencana investasi itu tetap harus didasarkan pada ketentuan yang berlaku, sehingga bisa dimonitor dan dikontrol pemerintah. Karena itu, Dahlan menyarankan Yusuf untuk membentuk sebuah non listed public company. "Jadi, dana sedekah itu masuk ke dalam investasi yang akan dimiliki publik," ujarnya.

Dahlan menyarankan agar investasi dana Sedekah Produktf, seharusnya ditargetkan pada area yang memiliki risiko kecil, tapi mempunyai imbal hasil yang lumayan besar. Dia juga menekankan bahwa investasi ini harus bermanfaat untuk umat.

Beli Bank Muamalat

Menteri Dahlan Iskan juga mengungkapkan bahwa Ustad Yusuf berniat membeli saham PT Bank Muamalat. Dalam diskusi dengan Dahlan, Ustad beranggapan bahwa bank syariah ini tidak sepenuhnya dimiliki investor dalam negeri. "Masa, kita negara dengan muslim terbesar, tapi tidak punya perbankan syariah sendiri," ungkap Dahlan.

Walaupun berstatus bank syariah, Dahlan melanjutkan, ternyata sebagian besar saham Bank Muamalat merupakan milik asing. Dengan uang sedekah yang terhimpun, Yusuf Mansur berencana membeli saham mayoritas.

"Namun, hal ini memang masih akan terkendala, apakah para pemilik saham di luar negeri mau untuk melepas saham mereka," ujarnya.

Dahlan pun mengaku mengusulkan ide lainnya, yakni dengan membeli saham PT Bank Mutiara Tbk. Bank yang dulunya bernama PT Bank Century Tbk itu sejak beberapa tahun terakhir ditawarkan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk dijual. "Nantinya, bank ini akan dibeli dan diganti menjadi bank syariah," jelasnya.

Menanggapi rencana tersebut, Kepala Eksekutif LPS, Mirza Adityaswara, ditemui di tempat terpisah mengaku tidak mengetahui rencana tersebut. "LPS tidak tahu, kan sudah lewat masa penyampaian surat minat," kata dia kepada VIVAnews di Jakarta, Kamis.

Seperti diketahui, pada saat ini, LPS melaksanakan proses penjualan saham Bank Mutiara yang telah ditutup pendaftarannya pada 1 Juli 2013 lalu.
LPS telah menargetkan proses divestasi Bank Mutiara usai sebelum 20 November tahun ini dan mulai menawarkan Bank Mutiara kepada investor lokal dan asing sejak 2010.

Tahun 2013, merupakan tahun terakhir penawaran Bank Mutiara sesuai harga penyelamatannya, senilai Rp6,7 triliun. Jika hingga akhir tahun ini Bank Mutiara tidak juga laku, bank tersebut akan dilepas secara lelang kepada penawar terbaik.
TERKAIT
File Not Found
TERPOPULER
File Not Found