FOKUS

Rupiah Terus Melemah, Ini Dampaknya

Pelemahan rupiah mengganggu pertumbuhan ekonomi.

ddd
Rabu, 24 Juli 2013, 19:49
Rupiah terus melemah terhadap dolar AS.
Rupiah terus melemah terhadap dolar AS. (VIVAnews/Muhamad Solihin)
VIVAnews - Nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat terus tergerus dan bertahan di atas level Rp10.000 dalam sepekan terakhir. Bahkan, sudah mendekati posisi di Rp10.300 per dolar AS.

Pelemahan nilai tukar di atas Rp10.000 tersebut, berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia tercatat, terjadi sejak 15 Juli 2013. Di mana, rupiah terkoreksi di level Rp10.024 per dolar AS dari sebelumnya Rp9.980. 

Hingga perdagangan Rabu 24 Juli 2013, mata uang Indonesia ini masih melemah terhadap dolar AS di posisi Rp10.262.

Pemerintah, dalam hal ini Bank Indonesia, tentunya tidak tinggal diam dan terus berusaha melakukan berbagai cara untuk meredam pelemahan rupiah tersebut. Misalnya, menaikkan suku bunga acuan BI Rate. Sebab, jika terus melemah akan mengganggu pertumbuhan ekonomi.

Ekonom Universitas Gajah Mada, sekaligus Komisaris Independen PT Bank Permata Tbk, Tony Prasetiantono mengatakan bahwa dampak dari pelemahan rupiah itu akan membuat pertumbuhan kredit melambat hingga 19 persen dari posisi saat ini di kisaran 22 persen. "Kemudian, hal itu berdampak pula ke perlambatan ekonomi kita," kata dia kepada VIVAnews

Pertumbuhan ekonomi Indonesia, menurut Tony, akan bergeser ke kisaran 5,9-6,0 persen, dari yang ditargetkan pemerintah sebesar 6,3 persen pada tahun ini.

Untuk itu, Tony menyarankan agar Bank Indonesia kembali mengeluarkan kebijakannya, termasuk menaikkan suku bunga BI Rate. "Saya sarankan BI Rate dinaikkan lagi ke 6,75 persen, karena saya duga suku bunga acuan belum menemukan equilibrium nya yang lebih tepat," ujarnya.

Sedangkan Chief Economist Strategy & Performance Management Division PT Bank Tabungan Negara Tbk, A. Prasetyantoko berpendapat, kalau rupiah terus melemah terhadap dolar AS, likuiditas domestik semakin berkurang. 

"Karena untuk memperoleh likuiditas biayanya makin mahal, ekspansi kredit tidak akan maksimal. Dan tentunya, pertumbuhan ekonomi akan terkoreksi," ujarnya kepada VIVAnews di tempat terpisah. 

Pengaruhnya lainnya, tambah Prasetyantoko, yaitu bisa melalui jalur inflasi. Barang-barang semakin mahal, sehingga mengerus daya beli dan tingkat konsumsi masyarakat. "Ya, dampaknya sama, yaitu pertumbuhan ekonomi tergerus," tuturnya.

Rupiah mencari titik keseimbangan 
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Mandiri, Destry Damayanti, menilai bahwa saat ini rupiah sedang menuju titik keseimbangan baru setelah menembus level Rp10.000 per dolar AS. 

Dia memprediksi, pelemahan rupiah akan semakin dalam karena fundamental rupiah masih sangat berat. "Untuk jangka panjang iya, rupiah kita masih melemah. Tetapi paling tidak tahun depan rupiah akan kembali membaik," katanya kepada VIVAnews.

Destry memaparkan berbagai faktor membuat rupiah melemah. Dua penyebab utama adalah tingginya impor bahan baku yang mencapai 77 persen dari total impor dan repatriasi hasil dividen.

Indonesia, katanya, tidak bisa berharap banyak dengan ketersediaan dolar AS di dalam negeri mengingat kondisi perekonomian global yang belum stabil. Permintaan dolar AS yang tinggi di pasar domestik tidak diimbangi dengan pasokan. Untuk itu, BI harus bekerja keras untuk menjaga pergerakan nilai tukar. 

A. Prasetyantoko juga menuturkan ada dua penyebab rupiah terus melemah. Pertama, mengenai fundamental ekonomi dalam negeri, yaitu tingkat ekspor dan impor. Di mana tercatat, kita kini lebih banyak mengimpor dibandingkan mengekspor. "Tentunya, hal itu menyebabkan banyaknya uang yang keluar dari sini," ujarnya.

Kedua, yaitu mengenai melemahnya laju inflow atau arus dana asing yang masuk ke dalam negeri. "Saat ini terlihat, investasi tidak segencar sebelumnya," kata Prasetyantoko.

Namun, dirinya mengaku bahwa pertumbuhan ekonomi global turut memengaruhi laju kurs rupiah terhadap dolar AS. "Ya, puncaknya September nanti. Jika ekonomi global pulih, kemungkinan rupiah akan bergerak stabil," ujarnya.

Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, dalam penjelasan tertulisnya di Jakarta, menegaskan, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh tingginya permintaan valas oleh nasabah korporasi dan ritel, termasuk untuk repatriasi dividen.

Agus menjelaskan, jika dibandingkan dengan posisi awal 2013 (year to date), nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 5,71 persen. Kondisi ini masih searah dengan depresiasi mata uang negara-negara lain di kawasan.

"Dalam beberapa hari terakhir, pergerakan rupiah mulai konvergen ke level keseimbangan baru, yang mencerminkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia," jelas Agus.

Agus melihat, pasar valuta asing semakin bergairah dengan mekanisme pasar yang bekerja dengan lebih baik. Untuk itu, BI meminta agar masyarakat dan pelaku pasar tetap tenang.

"BI akan selalu ada di pasar dan tetap melakukan pemantauan secara cermat, serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai kondisi fundamental perekonomian dengan mekanisme pasar yang berjalan dengan baik," ungkap Agus.

Jurus Bank Indonesia
Bank Indonesia mengeluarkan sejumlah jurus untuk meredam pelemahan rupiah, termasuk menaikkan suku bunga Fasilitas Simpanan Bank Indonesia (Fasbi rate) atau deposit facility sebesar 25 basis poin menjadi 4,25 persen.

Fasbi adalah fasilitas yang diberikan kepada bank untuk menempatkan dananya di Bank Indonesia dalam rupiah.

Agus mengatakan kebijakan itu untuk menjaga stabilitas kondisi moneter, seiring pelemahan nilai tukar rupiah akhir-akhir ini. "Bank Indonesia siap melakukan langkah-langkah yang diperlukan," ujar mantan menteri keuangan itu.

Selain itu, dia menjelaskan, Bank Indonesia tetap akan memenuhi kebutuhan likuiditas valas dan rupiah di pasar. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya preemptive dalam menjaga stabilitas moneter.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menambahkan bahwa BI juga mengeluarkan kebijakan melelang swap valas atau FX Swap yang dilakukan setiap minggu untuk menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing tanpa khawatir ada resiko yang muncul. "Tentu saja ini akan menambah jumlah cadangan devisa kita, yang jelas saya tidak melihat adanya suatu resiko," kata dia.

FX Swap adalah salah satu mekanisme operasi pasar terbuka, di mana BI akan menjadi pihak yang melakukan lelang, dan pihak bank yang membutuhkan valas menjadi peserta lelang dengan mengajukan penawaran harga.

Perry menjelaskan, saat ini pergerakan rupiah jauh lebih stabil. Beberapa bulan lalu cadangan devisa Indonesia tertekan oleh arus modal asing yang keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar US$4,1 miliar. "Sekarang outflow sudah tidak ada, bahkan terjadi inflow dan itu akan nambah cadangan. Apalagi dengan berbagai instrumen yang baru kita keluarkan, tentu saja akan menambah devisa," tegasnya.

BI, katanya, akan melakukan berbagai kebijakan untuk meredam pelemahan nilai tukar, salah satunya adalah penyesuaian suku bunga, deposito valas berjangka (term deposit) dan terbaru FX Swap. 

Perry menjelaskan, BI akan melakukan FX Swap setiap hari Kamis per minggunya, dengan tujuan menjamin ketersediaan rupiah dan valas di dalam negeri seiring dengan semakin banyak investor asing yang masuk.

Menurut Kepala Ekonom Bank Mandiri, Destry, langkah BI mengeluarkan instrumen FX Swap itu adalah agar bank-bank juga bisa aktif di dalamnya. Namun, ia menilai bahwa langkah BI yang menaikkan BI Rate dan Fasbi Rate untuk mengendalikan pelemahan rupiah sudah tepat.

Bahkan, dirinya meyakini BI akan meningkatkan Fasbi Rate lagi sebesar 50 basis poin untuk memperkuat nilai rupiah.

Pelemahan rupiah masih baik
Ekonom Universitas Gajah Mada, Tony Prasetiantono mengatakan pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS masih relatif kecil jika dibandingkan dengan negara kawasan yang lain seperti Malaysia dan Korea.

"Depresiasi rupiah dalam setahun terakhir ini masih di bawah beberapa mata uang negara-negara Asia lainnya, seperti yen, baht, rupee, won, ringgit, dan peso Filipina. Jadi, depresiasi masih dalam batas wajar," ujarnya.

Tony mengungkapkan, apresiasi dolar AS terhadap mata uang Asia dalam setahun terakhir tercatat yen 33 persen, baht 22 persen, rupee 19 persen, won 10 persen, ringgit 9 persen, peso 9 persen, rupiah 8 persen, dolar Singapura 6 persen, yuan 4 persen, dan dolar Hong Kong 0,2 persen. (sj)


© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
samasaja
25/07/2013
Trus kalo sdh begini emang bisa apa Agus?Gita?Marie Elka, CSIS, Chatib, Hatta, bisa apa? Kalo rp melemah ya melemah aja. Kagak bisa ditahan khan?. hahaaha, di bilangin ke khalayak spt di jaman suharto: Tetap tenang, fundamental ekonomi kita tetap kuat!
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id