FOKUS

Usai Lebaran, Mengapa Harga Daging Masih Tinggi?

Normalnya harga daging sapi dipatok Rp70 ribu hingga Rp80 ribu.

ddd
Senin, 12 Agustus 2013, 19:43
Pedagang daging sapi di Pasar Senen
Pedagang daging sapi di Pasar Senen (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)

VIVAnews - Meski lebaran usai namun harga daging sapi masih tetap saja tinggi. Operasi pasar yang dilakukan pemerintah ternyata tidak mampu mengendalikan harga.

Harga daging sapi di sejumlah pasar tradisional masih bertengger di atas Rp100 ribu. Normalnya harga daging sapi dipatok Rp70 ribu hingga Rp80 ribu.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Srie Agustina, Senin 12 Agustus 2013, mengatakan harga daging sapi di pasaran mengalami sedikit penurunan dibanding jelang lebaran lalu.

Di Pasar Senen, Pasar Kranji, Pasar Cakung, Pasar Rawabadak dan Pasar Karang Sembung di Cirebon misalnya, pada 7 Agustus 2013 harga daging sapi mencapai Rp120 ribu per kilogram. Pada 10 Agustus turun menjadi Rp100 ribu per kilogram atau turun sebesar 16,7 persen.

Kemudian di Pasar Grogol, Pasar Kebayoran Lama, Pasar Klender, dan Pasar Cinde di Palembang, turun dari Rp110 ribu menjadi Rp100 ribu per kilogram.

Tapi, kata dia, di beberapa pasar ada yang sudah turun hingga mencapai di bawah Rp100 ribu per kilogram. Di Pasar Cipete harga daging sapi per tanggal 10 Agustus turun menjadi Rp94 ribu dan di Pasar Ciputat Lama Rp95 ribu per kilogram.

Sedangkan harga daging sapi di pasar ritel modern sudah di bawah Rp100 ribu per kilogram. "Di Giant Jakarta, harga daging sapi saat ini sebesar  Rp99.990 per kilogram. Sedangkan di Hypermart Jakarta Rp92.450 per kilogram. Hypermart di Palembang, harga daging sapi bahkan mencapai Rp85.000 dan di Carefour Jakarta Rp84.900 per kilogram," kata dia.

Sebelumnya Menteri Perekonomian Hatta Rajasa memperkirakan harga daging sapi akan turun usai Lebaran. Sebab, permintaan daging akan menurun. Hatta juga menyesalkan harga daging yang melonjak beberapa waktu terakhir. Padahal, Kementerian Perdagangan sudah mengantisipasi dengan mengimpor daging.

Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, menyalahkan Rumah Potong Hewan (RPH) yang tutup jelang lebaran sebagai penyebab harga daging sapi di pasar tradisional Jabodetabek masih mahal.

"Memang rumah potong hewan (RPH) masih ada yang tutup," kata Gita. Untuk beberapa daerah, ia mengakui harga daging masih sangat tinggi akibat adanya kelangkaan daging karena sulitnya distribusi.

Mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ini mengatakan pemerintah akan memasok sapi-sapi impor sebanyak 25 ribu ekor hingga bulan Agustus tahun ini.
 
Impor sapi ini dilakukan karena pasokan sapi lokal tidak mencukupi kebutuhan nasional. Menurutnya, sapi yang dipotong oleh RPH saat ini 80 persen merupakan sapi impor dan hanya 20 persen sapi lokal.

Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krishnamurti, mengungkapkan masih tingginya harga daging sapi di pasaran karena aksi ambil untung yang dilakukan oleh para penjual daging. "Kami catat, itu lebih merupakan aksi profit taking dari pedagang," kata Bayu.

Bayu menyebut para pedagang sengaja memanfaatkan momentum ibu rumah tangga yang banyak berbelanja daging jelang lebaran, sehingga mereka masih menaikkan harga.

Dia mengaku Kemdag ingin menerapkan sistem menyeluruh untuk mencegah supaya harga daging tidak lagi naik jelang hari raya seperti Idul Fitri.

"Program yang kemarin ini kan hanya berlangsung sampai dua minggu setelah lebaran. Sementara kami berpikir ke depannya setelah lebaran, sejak September-Desember ini bagaimana program menstabilkan harga daging sapi," ujar Bayu.
 
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Bachrul Chairi, menambahkan pada 7 Agustus 2013 lalu sebanyak 8.990 ekor sapi impor siap potong masuk ke Indonesia.

"Pengapalan terakhir untuk sapi siap potong ini adalah tanggal 23 Agustus 2013, sehingga nantinya keseluruhan sapi impor siap potong mencapai jumlah 24.750 ekor," kata Bachrul.

Bachrul mengatakan sapi yang telah dipotong sampai dengan tanggal 7 Agustus 2013 berjumlah 2.590 ekor. Pemotongan sapi tersebut dilakukan di beberapa Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di wilayah Jabodetabek.

"Untuk daging sapi segar yang telah dipotong telah didistribusikan ke beberapa pasar, di DKI Jakarta dan Jawa Barat-Banten," kata dia.

Sapi siap potong yang diimpor sekitar 25.000 ekor terdiri dari tiga kategori, yaitu jenis sapi bakalan yang bobotnya melebihi 350 kg, sapi betina dan sapi bull jantan yang sudah tua. Sapi-sapi ini diberikan makanan dari rumputan, sehingga menghasilkan lemak yang warnanya kekuningan dan lebih tebal daripada sapi yang dibesarkan di penggemukan.

Bachrul mengungkapkan, ada sedikit kendala dalam penjualan daging sapi berlemak tebal tersebut. Jelang lebaran, banyak pekerja penjagalan yang seharusnya bertugas memisahkan daging dan lemak sapi, pulang mudik.

"Itu menyebabkan sulit menjual daging sapinya, meskipun ada beberapa RPH tidak keberatan menjual daging yang berlemak kuning dan tebal, misalnya RPH Pulo Gadung," kata dia.

Sapi impor kurang diminati

Sementara itu, ada pihak yang menilai operasi pasar untuk menurunkan harga daging sapi tidak efektif. Ketua Komisi IV DPR RI yang membidangi pertanian M Romahurmuziy, menyatakan ada beberapa hal yang mengakibatkan operasi pasar itu tidak efektif.

Menurut Romi, pedagang tidak terbiasa dengan daging sapi impor. Fasilitas lemari pendingin untuk menyimpan daging sapi beku yang diimpor itu tidak dimiliki sebagian besar pedagang. "Kebanyakan daging yang diimpor ukurannya terlalu besar. Pedagang kesulitan untuk memasukannya ke dalam freezer," ujar Romi.

Para pedagang yang terbiasa menjual daging segar, akan kesulitan untuk menjual daging impor, karena daging impor relatif lebih banyak mengandung air. Sedangkan untuk daging impor yang berbentuk daging beku, Romi menilai bahwa daging jenis tersebut tidak cocok untuk dijual di pasar 'becek'.

Untuk lebih menekan harga daging sapi, menurut Romi, salah satu cara yang paling efektif adalah dengan melakukan intervensi kepada para pengusaha penggemukan sapi. "Memaksa pengusaha penggemukan sapi untuk melepas stok mereka yang berjumlah 109 ribu ekor itu," kata Romi.

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, harga bahan pokok sebenarnya tergantung kepada produktivitas. Sehingga, jika ada bahan pokok yang harganya melambung, pemerintah seharusnya lebih fokus untuk meningkatkan produksi.

"Apakah beras, cabe, daging. Kita tidak boleh berdebat impor atau tidak impor," kata Jusuf Kalla di Jakarta.

Seharusnya, kata, Kalla, Indonesia sanggup swasembada beras dan daging sapi. Kata dia, Indonesia pernah mencapai prestasi itu. "Daging itu mudah. Waktu itu, Indonesia butuh tiga tahun untuk swasembada daging. Sanggup kita," ucapnya.

Jika bahan pokok itu masih tetap kurang, dia menilai impor adalah satu-satunya pilihan. Kurangnya daging di pasaran saat ini, akibat ekonomi masyarakat yang meningkat. Pola makan masyarakat akibat ekonomi naik juga ikut berubah. "Dulu orang jarang makan daging. Sekarang karena ekonomi meningkat menunya berubah," kata dia. (eh)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id