FOKUS

421 Tewas, Ikhwanul Muslimin Pantang Mundur

Kekerasan itu dikutuk AS. Arab Saudi dan Kuwait dukung militer Mesir.

ddd
Kamis, 15 Agustus 2013, 20:59
Korban tewas di Mesir pada gempuran militer membubarkan demonstran
Korban tewas di Mesir pada gempuran militer membubarkan demonstran (REUTERS/Amr Abdallah Dalsh)

VIVAnews -Lebih dari 250 jasad manusia ditaruh di sebuah masjid di timur laut Kairo pada Kamis 15 Agustus 2013 pagi waktu setempat. Mereka adalah korban demonstrasi yang berakhir dengan kekerasan, menuntut Mohamed Mursi dikembalikan ke posisinya sebagai Presiden Mesir.

Kementerian Kesehatan Mesir menyebut, total 421 orang yang tewas dalam kekerasan yang pecah pada Rabu, 14 Agustus itu. Sebagian besar menjadi korban dari penyerbuan aparat keamanan Mesir yang menyerang pendukung Mursi. Namun terdapat setidaknya 43 polisi yang tewas, dan 2.000 orang lainnya luka-luka di sejumlah kota di negeri itu.

Kekerasan terjadi tidak hanya di Kairo, tapi juga di Iskandariah, Minya, Assiut, Fayoum, Suez dan di provinsi Buhayra dan Beni Suef. Bahkan kelompok pendukung Mursi ini ada yang menargetkan gereja sehingga sejumlah gereja, rumah dan unit bisnis terbakar.

Perdana Menteri Turki Tayyip Erdogan mengimbau Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa segera turun tangan menyikapi pertumpahan darah di Mesir ini. "Mereka yang diam melihat pembantaian ini sama bersalahnya dengan yang melakukan pembantaian," kata Erdogan.

"Saya menyerukan negara-negara Barat. Kalian diam di Gaza, juga diam di Suriah ... Kalian masih diam pula di Mesir. Jadi bagaimana kalian bisa bicara mengenai demokrasi, kebebasan, nilai-nilai global dan hak asasi manusia," kata Erdogan.

PBB, AS dan negara-negara utama dunia lainnya telah berhenti menyebut penggulingan Mursi sebagai kudeta militer, sebuah tindakan yang bisa menghasilkan sanksi. Namun mereka ramai-ramai mendesak militer Mesir untuk menghindarkan aksi kekerasan menghadapi demonstrasi pendukung Mursi.

Amerika Serikat mengutuk aksi kekerasan ini. AS mendesak semua pihak untuk menahan diri, mengupayakan dialog untuk mencari solusi politik. "Rakyat Mesir di dalam dan di luar pemerintahan harus mundur selangkah, mereka harus menenangkan situasi dan menghindari korban jiwa lebih banyak," kata Menteri Luar Negeri AS, John Kerry.

Sementara itu, Ekuador menarik duta besarnya untuk Mesir setelah kekerasan ini pecah. Kementerian Luar Negeri Mesir menyatakan, rakyat Mesir telah memilih Mursi sebagai pemimpin secara konstitusional.

"Menyusul kudeta yang menggulingkan Presiden Mursi pada Juli tahun ini, rakyat Mesir telah terkungkung dalam suasana protes sipil dan represi dari pemerintahan yang de facto," kata Ekuador.

Ikhwanul Muslimin tetap aksi

Sementara itu, Kamis pagi, Ikhwanul Muslimin terus menyerukan aksi unjuk rasa besar-besaran di Kairo meski sehari sebelumnya terjadi peristiwa berdarah.

"Unjuk rasa direncanakan siang ini di Masjid Al-Iman memprotes kematian (demonstran)," kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan.

Pihak berwenang Mesir sendiri sudah menahan 84 orang di Suez termasuk petinggi Ikhwanul Muslimin. Mereka diseret ke pengadilan militer atas dakwaan pembunuhan dan pembakaran gereja. Tindakan ini dilakukan setelah pemerintah de facto menerapkan Undang-undang darurat sehingga memberikan kewenangan lebih kepada militer untuk bertindak.

Sebuah sumber di militer Mesir menyatakan, mereka tak percaya Ikhwanul akan setuju dengan kesepakatan melalui dialog. "Mereka mengatakan pada mediator satu hal dan pada pendukungnya hal lain," kata sumber itu.

Atas dasar itu, panglima militer bersama menteri dalam negeri menerapkan UU darurat untuk menghadapi demonstrasi. Wakil Presiden Mohamed El Baradei akhirnya mengundurkan diri karena tak mau bertanggung jawab atas pertumpahan darah yang mungkin muncul.

Dukungan untuk Militer Mesir

Namun ada juga negara yang mendukung aksi aparat keamanan ini. Uni Emirat Arab mendukung aksi yang disebut sebagai upaya menegakkan kedaulatan negara ini.

"Yang disesalkan adalah adanya kelompok politik ekstremis yang berkukuh dengan retorika kekerasan, kebencian, pengacauan kepentingan publik," begitu pernyataan Kementerian Luar Negeri UEA seperti dilansir kantor berita pemerintahnya, WAM.

Arab Saudi dan Kuwait juga mendukung militer Mesir karena kekhawatiran atas Ikhwanul Muslimin yang bisa menggerogoti kerajaan yang berkuasa. Bersama UEA, mereka menjanjikan bantuan dana US$12 miliar untuk pemerintahan de facto Mesir, untuk mengatasi kebutuhan bahan bakar dan kekurangan bahan pangan.(np)

Baca juga latar konflik politik Mesir di SOROT 249: Mimpi Buruk Ikhwanul Muslimin.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
samasaja
16/08/2013
Makin keliatan!!pendukung militer Mesir: Amrik, Israel, Arab Saudi, Kuwait, dan terakhir PBB. Kita sendiri semua sudah tahu kalo kita dukung PBB.. haha ha ha
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id