FOKUS

Senjata Kimia Renggut Nyawa Rakyat Suriah

Mereka terlihat sangat nyenyak, padahal mereka tidur untuk selamanya.
Kamis, 22 Agustus 2013
Oleh : Denny Armandhanu
Bocah korban serangan senjata kimia rezim Bashar al-Assad di Ghouta, Suriah

VIVAnews - Wanita, anak-anak dan beberapa orang pria terlihat terlelap di pembaringan mereka saat Abu Nidal mendobrak masuk ke rumah di wilayah Erbin, Suriah, itu. Nidal mengatakan, mereka terlihat sangat nyenyak dan damai, padahal mereka tidur untuk selamanya.

"Kami memasuki satu rumah dan semuanya masih tertata rapi. Semua orang masih ada di tempatnya. Mereka berbaring di tempat yang seharusnya. Mereka seperti tertidur. Tapi nyatanya mereka semua mati," kata Nidal kepada Reuters melalui Skype.

Orang-orang dalam rumah itu adalah sebagian dari 1.300 korban tewas akibat serangan senjata kimia yang diduga dilancarkan rezim Bashar al-Assad, seperti disampaikan Koalisi Nasional untuk Suriah dalam pernyataannya. Serangan terjadi di Ghouta, terutama distrik Joubar, Zamalka, Ain Tarma, dan Moadamiya.

Seluruh kesaksian ini belum bisa dikonfirmasi kebenarannya. Namun video-video dan foto-foto di lokasi setidaknya memberikan gambaran gamblang. Mengiris hati saat dalam video, bocah-bocah itu meregang nyawa, kejang-kejang, mulut berbusa lantaran sesak nafas. Belasan foto lainnya menampilkan mayat-mayat bocah yang tidak berdosa ini, dideretkan, menunggu untuk dikafani.

Abu Nidal melanjutkan, serangan itu mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, jet tempur Assad itu menjatuhkan rudal pada dini hari, antara pukul 2.20 dan 2.40 pagi, saat warga sedang terlelap. Syrian Observatory for Human Rights yang berbasis di Inggris, dikutip Mirror mengatakan rudal itu memiliki hulu ledak gas beracun.

"Kami melihat beberapa tersungkur di tangga dan pintu masuk. Sepertinya mereka mencoba masuk ke dalam rumah dan membantu, tapi malah ikut terkena dampaknya. Beberapa mereka tewas," kata dia.

Salah seorang korban selamat, Farah al-Shami, di Mouadamiya, awalnya tidak percaya rumor di Facebook yang mengatakan bahwa mereka diserang dengan senjata kimia. Menurutnya, tempatnya tinggal dekat dengan kamp militer, sehingga aman.

"Di saat yang sama, PBB sedang ada di sini. Mustahil. Tapi lalu saya merasa pusing, tercekik dan mata panas. Saya lalu lari ke klinik lapangan terdekat. Beruntung, tidak ada di keluarga saya yang terluka. Tapi saya melihat sekeluarga terkapar di lantai," kata wanita 23 tahun ini.

Sebuah aktivis Suriah diberitakan CNN mengatakan, kemungkinan Assad menggunakan senjata kimia jenis "Agent 15" atau yang bernama lengkap 3-quinuclidinyl benzilate, disingkat BZ. Senjata jenis ini pernah digunakan oleh tank-tank Suriah saat menggempur kota Homs, Desember tahun lalu.

Sumber lainnya mengatakan bahwa senjata yang digunakan adalah sarin. Menurut seorang dokter di lapangan, gas beracun ini tidak berbau, tidak berasap, sama sekali tidak berbentuk. Tapi tiba-tiba, seseorang bisa langsung jatuh sakit bahkan tewas jika menghirupnya.

"Tidak berbau, berasap atau apapun yang mengindikasikan gas beracun. Lalu gejalanya muncul. Mereka batuk parah. Mata serasa terbakar. Pupil menciut, pandangan kabur. Lalu mereka sulit bernafas. Bahkan yang paling ekstrem, mereka muntah dan kehilangan kesadaran," ujarnya.

Serangan kali ini adalah yang paling banyak memakan korban dalam sehari selama dua tahun konflik Suriah. Namun, ini bukan kali pertama senjata kimia dijatuhkan. Menurut data BBC, ini adalah kali keenam rezim Assad dituduh menggempur warga dengan gas beracun sejak Maret lalu.

Membantah

Pemerintah Suriah membantah tudingan tersebut. Di kantor berita Sana, mereka malah balik menuduh serangan itu dilakukan oleh pihak yang mereka sebut teroris pemberontak. Rezim Assad mengatakan, tuduhan itu tidak logis dan dibuat-buat.

Pemerintah Suriah boleh berkata apapun. Namun fakta membuktian bahwa Suriah adalah salah satu penyimpan senjata kimia terbesar di dunia, di antara yang terbanyak adalah mustard gas dan sarin.

Hal ini diakui sendiri tahun lalu oleh Suriah. Namun mereka menegaskan tidak akan menggunakannya terhadap rakyat sendiri, hanya untuk ancaman dari luar.

Laporan CIA berkata lain. CIA meyakini Suriah tengah mengembangkan senjata kimia yang lebih berbahaya dan beracun, seperti gas VX.

Laporan Analis Pertahanan dan Keamanan India yang mengutip intelijen Turki, Arab dan Barat mengkalkulasi, Suriah menyimpan 1.000 ton senjata kimia, disimpan di 50 kota berbeda. CIA mengatakan, senjata-senjata kimia ini bisa dipadupadankan dengan berbagai senjata, seperti roket udara, artileri, dan rudal balistik.

Suriah bukanlah anggota Konvensi Senjata Kimia (CWC), sebuah traktat yang melarang penggunaan senjata kimia, sehingga tidak boleh ada komunitas internasional manapun yang menyelidiki kadar atau kepemilikan senjata kimia Suriah. Sehingga, jumlah pasti senjata mereka masih misteri.

Menurut Koalisi Nasional Suriah, pada serangan ke Ghouta Rabu lalu, Assad menembakkan senjata kimia dari tank di wilayah Joubar dan Moadamiya. Menurut mereka, ini dilakukan untuk merebut wilayah tersebut Ghouta yang dikuasai pejuang Suriah.

Selain itu, serangan dilakukan di tengah kedatangan tim penyidik senjata kimia PBB pimpinan Ake Sellstrom. "Langkah untuk membuat situasi semakin ruwet ini diharapkan tidak mengalihkan tujuan utama misi tim inspeksi PBB," lanjut koalisi ini.

Mereka menyerukan tim PBB untuk datang ke Ghouta, segera menyelidiki penggunaan senjata kimia oleh Assad. "Tim PBB harus mengunjungi tempat ini, yang letaknya hanya beberapa kilometer dari mereka tinggal di Damaskus, dengarkan kesaksian warga dan kumpulkan barang bukti," lanjut kelompok oposisi Suriah ini.

Langkah PBB

Seruan yang sama datang dari Amerika Serikat dan konco-konconya dari Barat. Peristiwa ini terjadi tepat setahun setelah Presiden Barack Obama menetapkan batasan kesabaran AS jika Suriah menggunakan senjata kimia.

"Amerika Serikat sangat prihatin adanya laporan ratusan warga sipil Suriah terbunuh dalam serangan oleh pemerintah Suriah, termasuk penggunaan senjata kimia, dekat Damaskus. Hari ini, kami secara resmi meminta PBB segera menyelidiki tuduhan ini," kata Josh Earnest, wakil juru bicara Gedung Putih, dalam pernyataannya.

Hal ini didukung oleh pernyataan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon yang disampaikan wakilnya, Jan Eliasson. Menurut Eliasson, Ban sendiri terkejut dengan banyaknya korban yang jatuh. "Kami melihat perlunya investigasi secepatnya, apapun kesimpulannya, ini adalah pelanggaran kemanusiaan sangat serius," ujarnya.

Hal ini juga diamini oleh 35 negara anggota PBB, termasuk AS, Inggris dan Prancis, yang  menyerukan tim PBB di Suriah tidak hanya memeriksa tiga lokasi yang ditentukan, namun segera melipir ke Ghouta. "Kami berharap insiden ini menyadarkan para pendukung rezim Assad untuk menyadari pembunuhan dan sifat barbar yang dianutnya," kata Menteri Luar Negeri Inggris William Hague.

Namun, rencana ini sepertinya akan sedikit terjegal karena suara bulat tidak tercapai di Dewan Keamanan PBB. Lagi-lagi Rusia dan China yang jadi batu sandungan. Dalam pertemuan tertutup selama dua jam, Rusia mengatakan bahwa serangan ini dilakukan oleh para pemberontak untuk mendiskreditkan Assad.

Kedua negara ini menolak pernyataan resmi DK PBB yang menyerukan penyelidikan terhadap Suriah. Dalam draft pernyataan PBB yang diterima Reuters, Rusia dan China keberatan dengan kata-kata "menyerukan PBB untuk segera mengambil langkah yang diperlukan untuk menyelidiki serangan yang terjadi hari ini."

Memang Suriah tidak termasuk dari CWC sehingga tidak boleh ada yang menyelidiki mereka sebelum mendapat persetujuan. Namun Sekjen PBB Ban Ki-moon akhirnya menggunakan kekuasaannya.

Dia menetapkan situasi penyelidikan khusus senjata biologis yang tertuang dalam peraturan PBB tahun 1987 menyusul penggunaan senjata kimia di Irak.

Situasi khusus bernama "Mekanisme Sekretaris Jenderal untuk Investigasi Dugaan Penggunaan Senjata Kimia dan Biologi" ini memungkinkan sekjen memerintahkan penyelidikan terhadap sebuah negara dengan permintaan dari anggota PBB. Keputusan ini didukung oleh Presiden Prancis dan Menteri Luar Negeri Inggris, serta negara-negara Liga Arab.

Belum diketahui apakah penyelidikan akan segera dilakukan atau setelah mendapatkan izin dari pemerintahan Assad. Namun menurut lembaga think-tank Council of Foreign Relation, tim penyidik harus segera dikirim jika tidak ingin bukti-buktinya hilang.

Pasalnya, residu dari agen kimia bisa hilang dalam beberapa hari. Selain itu, tim penyidik juga perlu waktu untuk menutup akses ke area itu, untuk melindungi dari kontaminasi atau manipulasi.

Penyidik juga akan mengumpulkan sampel tanah, puing atau tanaman. Mereka juga akan mewawancara saksi, dan melakukan pemeriksaan terhadap korban selamat, tes urine, darah dan uji lainnya. Selain itu, tim perlu bernegosiasi dengan keluarga korban agar diizinkan mengautopsi kerabat mereka yang tewas.

Apapun langkah yang akan diambil nanti, dunia sudah seharusnya tidak tinggal diam menyaksikan pembantaian lebih banyak orang lagi di Suriah. Koalisi Nasional untuk Suriah menegaskan, sikap berdiam diri adalah bentuk pengkhianatan terhadap kebebasan.

"Atas nama rakyat Suriah yang bebas, Koalisi Suriah menyerukan dunia segera bertindak untuk menghentikan kekerasan oleh rezim Assad dan menghentikan serangan tidak berperikemanusiaan terhadap desa-desa dan kota-kota di Suriah," tulis pernyataan koalisi ini.

"Kami memohonkan ampun pada Allah untuk orang-orang yang mati syahid, kesehatan untuk mereka yang terluka, dan kebebasan bagi yang ditahan. Panjang umur Suriah dan rakyatnya, kebebasan dan bermartabat." lanjut mereka lagi.

TERKAIT
File Not Found
TERPOPULER
File Not Found