FOKUS

Harga Kedelai Melonjak, Tahu Tempe Pun Langka

Dampak melemahnya rupiah. Importir bersedia menurunkan harga.

ddd
Senin, 9 September 2013, 21:13
Perajin menyelesaikan pembuatan tahu di daerah Mampang, Jakarta.
Perajin menyelesaikan pembuatan tahu di daerah Mampang, Jakarta. (VIVAnews/Anhar Rizki Affandi)
VIVAnews - Harga kedelai kian melambung. Di tangan perajin, harga komoditas itu telah menyentuh Rp9.000-12.000 per kilogram. Lebih tinggi dibanding harga normal Rp7.000-8.000 per kilogram.

Kenaikan harga ditengarai karena pengaruh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Komoditas kedelai yang mayoritas diimpor telah memengaruhi harga di pasar.

Catatan Kementerian Pertanian menyebutkan, konsumsi kedelai Indonesia pada 2012 mencapai 2,5 juta ton. Padahal, produksi kedelai di dalam negeri rata-rata hanya 700-800 ribu ton per tahun.

Kurangnya pasokan dari dalam negeri itu memaksa pemerintah mengimpor kedelai 70-80 persen dari kebutuhan, atau sekitar 1,9 juta ton.

Namun, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suryamin, memperkirakan, produksi kedelai akan meningkat tahun ini. Menurut angka ramalan, produksi bakal mencapai 847,16 ribu ton biji kering kedelai untuk 2013.

Angka ini, menurut Suryamin, naik 0,47 persen dibandingkan data produksi kedelai 2012 sebanyak 843,15 ribu ton. "Ini diperoleh dari perhitungan BPS bersama Kementerian Pertanian," kata Suryamin.

Meski produksi naik, Direktur Budidaya Aneka Kacang dan Umbi-umbian Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Maman Suherman, pesimistis Indonesia bisa kembali swasembada kedelai seperti 1992. Karena, regulasi impor yang dikeluarkan pada 1998 menjadi faktor penghambat.

"Petani akhirnya lebih tertarik tanam jagung dan padi. Saat panen raya, harga kedelai bisa jatuh hingga Rp3.000-4.000 per kilogram. Padahal, harga produksi Rp5.000 per kilogram," ujar Maman.

Nilai keekonomian yang rendah itu, dia melanjutkan, ikut membuat petani kurang terangsang menanam kedelai, karena dinilai tidak menguntungkan.

Namun, Direktur PT FKS Multi Agro, Kusnarto, membantah, impor yang marak sejak regulasi dibuka pada 1998 menjadi penyebab swasembada sulit terwujud.

Kusnarto menjelaskan, produksi kedelai berkurang justru karena pemerintah kurang banyak berperan. "Tanam kedelai kan sekarang sudah tidak ada sisi keekonomiannya," kata importir kedelai itu.

Pada era pemerintahan Presiden Soeharto, Kusnarto menambahkan, para petani diberikan insentif yang berlimpah jika menanam kedelai. Nilai jualnya pun telah ditetapkan 1,5 kali dari harga yang ditetapkan.

Mogok produksi
Lonjakan harga kedelai itu berimbas pada kelangkaan produk tempe dan tahu di pasar. Perajin tempe dan tahu yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) akhirnya merealisasikan ancamannya untuk mogok produksi pada Senin 9 September 2013 hingga tiga hari ke depan.

Ketua Gakoptindo, Aip Syarifudin, mengatakan, mogok produksi dilakukan lantaran harga kedelai sudah melambung tinggi. Gakoptindo meminta agar pemerintah dapat lebih fokus dalam mengendalikan harga kedelai.

Menurut Aip, lonjakan harga kedelai sebagai bahan baku telah membebani
ongkos produksi yang dikeluarkan perajin tempe dan tahu. Sudah banyak pula perajin yang merugi, bahkan sampai mengurangi jumlah karyawan.

"Sudah ribuan perajin yang mengurangi produksi, dan banyak pegawai yang diberhentikan," ujar Aip.

Menurut Aip, pemerintah seharusnya dapat lebih menstabilkan harga kedelai. Sepanjang sejarah, harga kedelai saat ini merupakan yang tertinggi.

Aip menambahkan, ada sekitar 4,5-5 juta orang yang nasibnya bergantung pada industri ini. Terdiri atas 11.500 perajin kecil dengan 1,5 juta pegawai yang rata-rata mempekerjakan keluarganya. Karena itu, kenaikan harga kedelai ini terasa sebagai hantaman keras pada kesejahteraan perajin.

Beberapa perajin yang mogok produksi pada Senin kemarin itu di antaranya dari Depok, Jawa Barat. Sejumlah pabrik tahu dan tempe memilih tak beroperasi alias tutup selama tiga hari.

Akibatnya, makanan khas Indonesia ini pun langka di sejumlah pasar tradisional kota tersebut.

Agung, salah satu perajin tahu di kawasan Kemirimuka, Beji, mengatakan, dia telah melakukan aksi mogok kerja sejak dua hari lalu. Aksi ini direncanakan berlanjut hingga tiga hari ke depan. Aksi ini menyusul tingginya harga bahan baku pembuatan tahu dan tempe.  

"Dari pimpinan diminta tak beroperasi, ya kami hanya bisa pasrah. Katanya tiga hari mogok. Ya, kalau begini, kami nggak bisa memasok tahu ke pasar," ujarnya kepada VIVAnews.

Saat ini, harga kedelai melonjak hingga menembus Rp10.000-12.000 per kilogram dari harga normal Rp7.700-8.000 per kilogram. Dalam sebulan, perajin tahu dan tempe di Kota Depok membutuhkan 1.600 ton kedelai.

"Jadi, dapat dihitung, berapa lonjakan biaya yang harus dikeluarkan," tuturnya.

Hitungan Gakoptindo, Depok, dengan kenaikan harga kedelai menjadi Rp9.000 per kilogram, biaya produksi pun bertambah sekitar 40 persen. Kondisi itu, sangat menyulitkan perajin tahu, jika harga kedelai tidak distabilkan.

Aksi mogok juga dilakukan produsen tempe dan tahu di Cilegon. "Dari pemantauan di lapangan, pedagang tempe dan tahu tidak berjualan," kata Kepala UPTD Pasar Baru Kota Cilegon, Rojali.

Menurut Rojali, berdasarkan data, harga kedelai di Cilegon mencapai Rp11.000 per kilogram. Sebelumnya, harga bahan baku tempe dan tahu itu Rp9.500 per kilogram.

Ratusan perajin tahu dan tempe dari sentra produksi di Kartasura, Sukoharjo, Surakarta, bahkan menggelar aksi demo di Tugu Pancasila, Bundaran Kartasura. Mereka juga mogok produksi selama tiga hari hingga menunggu penurunan harga kedelai.

Aksi demo itu dilakukan di jalur utama penghubung Solo-Yogya maupun Solo-Semarang. Akibat aksi ini, arus lalu lintas terhambat. Perajin tahu dan tempe membawa beragam poster yang bertuliskan tuntutan maupun kecaman terhadap kenaikan harga kedelai.

Di luar kontrol pemerintah
Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, pun angkat tangan soal keluhan perajin tahu dan tempe yang meminta pemerintah mengontrol kenaikan harga kedelai itu.

"Bukan karena kurangnya stok kedelai sebagai bahan baku perajin tahu tempe," ujar Gita di Gedung DPR RI, Jakarta, kemarin. Dia menjelaskan, kekhawatiran perajin semestinya bukan karena stok. Tetapi, karena gejolak nilai tukar yang memengaruhi harga di pasar.

Karena kebutuhan kedelai Indonesia saat ini didominasi impor, menurut Gita, pelemahan rupiah yang terjadi berdampak terhadap harga. Dia pun menyoroti tidak maksimalnya peningkatan produksi kedelai guna mencukupi kebutuhan dalam negeri.

"Karena mayoritas dari luar negeri, problemnya saya rasa produksi nasional. Kalau produksi nasional cukup, tentu tidak perlu terganggu dengan nilai tukar," tegasnya.

Guna meningkatkan produksi nasional, Kementerian Perdagangan, menurut dia, telah menetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) khusus kedelai. Upaya tersebut guna merangsang para petani untuk menanam komoditas tersebut.

Dia pun memastikan, persediaan kedelai cukup hingga akhir Oktober. Keran impor juga dibuka lebar guna memastikan kebutuhan hingga akhir tahun dapat terpenuhi.

Badan Urusan Logistik (Bulog), menurut dia, juga dilibatkan guna stabilisasi harga. "Bulog sudah dapat izin impor 100.000 ton. Jadi, itu sesuai aspirasi mereka. Sebanyak 315.000 ton cadangan di luar Bulog juga disiapkan," ungkapnya.

Sementara itu, Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), Syarifuddin Hasan, juga telah melobi importir kedelai guna menurunkan harga impor yang dijual saat ini. Menurut dia, importir sudah sepakat untuk menurunkan harga kedelai impor menjadi Rp8.000 per kilogram.

Syarif menjelaskan, importir bersedia menurunkan harga tanpa ada embel-embel apa pun atau kompensasi dari pemerintah.

"Mereka siap untuk melepas stok di harga segitu (Rp8.000). Jauh di bawah harga pasaran Rp9.000-an per kilogram. Dan saya minta langsung disalurkan ke perajin," ujarnya.

Namun, terkait permintaan Gakoptindo untuk menekan harga kedelai hingga Rp7.000 per kilogram, menurut Syarif, hal tersebut tidak bisa dilakukan.

"Depresiasinya juga sudah 15 persen dari pelemahan rupiah. Lalu, transportasinya kan juga naik, jadi dengan harga ini sudah bagus," ujar Syarif.

Syarif memastikan Gakopti telah menyepakati patokan harga Rp8.000 per kilogram itu. "Mereka setuju dan menerima kesepakatan tersebut," tuturnya.

Dengan kesepakatan itu, dia berharap, aksi mogok produsen tahu tempe segera diakhiri, sehingga tidak ada yang dirugikan. "Karena semua rugi, termasuk mereka. Ini kepentingan bersama," dia mengimbau. (np)


© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
samasaja
10/09/2013
Mau makan apa kami?. Telor, ayam, daging, beras, kedele, jagung, bawang, sayur, cabe, bbm, biaya sekolah, biaya rumah sakit, obat2an, biaya penguburan, biaya ktp-sim, semua naik semua mahal. Buat apa ente jadi presiden?Utk apa ada perindag, menperin, BI??
Balas   • Laporkan
ritoloveindinesia
10/09/2013
Tobat - tobat, pemerintah melakukan pembiaran bahan impor masuk ke indonesia. Pagi ini saya tidak bisa makan tahu, karena penjualnya tidak keliling. trus kita disuruh makan apa? KFC,MCD?? Bangkrut lah!! Bisa kerja gak sih pemerintah ni?
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com