FOKUS

Jalan Terjal Ruhut Menuju Kursi Ketua Komisi III DPR

Ruhut mendapat penolakan keras karena dinilai tak layak.

ddd
Jum'at, 20 September 2013, 21:14
 Ketua Komisi III I Gede Pasek Suardika (kanan) berjabat tangan dengan anggota Komisi III Ruhut Sitompul
Ketua Komisi III I Gede Pasek Suardika (kanan) berjabat tangan dengan anggota Komisi III Ruhut Sitompul (Antara/ Dhoni Setiawan)

VIVAnews - "Nanti kalau sudah Ruhut pimpin, yang nolak bakal malu sendiri." Begitulah cara politisi Demokrat Ruhut Sitompul menanggapi penolakan sejumlah legislator di Komisi III DPR. Meski ditunjuk Fraksi Demokrat duduk di kursi empuk Ketua Komisi III DPR, Ruhut mendapat penolakan keras karena dinilai tak layak.

Penolakan Ruhut ini muncul setelah Ketua Fraksi Demokrat mengumumkan rotasi kadernya di DPR, 18 September lalu. Ruhut diumumkan akan menjadi Ketua Komisi III DPR menggantikan Gede Pasek Suardika.

Misalnya, Anggota Komisi III dari Fraksi Hanura Syarifudin Suding. Dia menilai sikap beberapa legislator yang menolak Ruhut itu wajar. Apalagi, Ruhut duduk di kursi Ketua Komisi III karena Demokrat marah pada Pasek yang datang ke acara deklarasi ormas milik Anas Urbaningrum, Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI).

"Masalah internal itu masuk ranah kinerja institusi negara, saya kira itu tidak elegan," kata Suding di Gedung DPR, Jumat 20 September 2013.

Senada dengan Suding, politisi asal PKS Nasir Djamil mengaku tak pernah melihat Ruhut memimpin rapat di manapun, termasuk di Pansus DPR. "Saya meragukan kepemimpinan Ruhut, jangan sampai apa yang dikhawatirkan sebagian orang bahwa saat Ruhut jadi ketua, maka komisi III menjadi komisi badut, " kata Nasir pedas.

Kritik lebih tajam lagi datang dari Anggota Komisi III dari Fraksi PPP Ahmad Yani. Dia menilai, ada daya tolak yang kuat jika Ruhut jadi duduk di kursi ketua. Seharusnya, kata dia, Fraksi Demokrat menilai dulu orang yang akan ditempatkan di kursi ketua itu layak atau tidak.

"Fraksi harus mengirim orang yang kira-kira layak, jangan kirim kayak kucing, ayam," tukasnya.

Apalagi, lanjut Ahmad Yani, Komisi III ada komisi bergengsi dan mengawal hukum. "Bisa dibayangkan kalau memang ada pimpinan komisi yang kayak badut."

Alih-alih mendengarkan kritik itu, Ruhut malah menuding anggota Komisi III DPR itu tak nyaman pada integritasnya. "Semua tahu integritas aku. Karena semua orang tahu aku kan tidak bisa kompromi. Jangankan partai lain, satu fraksi saja kalau tidak bener, aku sikat," kata Ruhut dengan gayanya yang masih saja ceplas-ceplos.

Ketua Fraksi Demokrat Nurhayati Ali Assegaf pun tidak terima kadernya ditolak. Demi memuluskan Ruhut menjadi Ketua Komisi III, dia siap melobi fraksi lainnya. "(Ruhut) Tidak akan diganti. Itu keniscayaan dan bukan hal yang dilarang," kata Nurhayati.

Lobi-lobi itu, kata dia, akan segera dilakukan setelah dia berbicara lebih dulu dengan Ruhut. Beberapa anggota komisi III yang terang-terangan menolak Ruhut, di antaranya dari fraksi PPP, PKS, Hanura, Golkar dan lainnya. Sebagian besar merupakan partai anggota Sekretariat Gabungan (Setgab).

Menurut Nurhayati, perbedaan pendapat di anggota Setgab itu adalah hal yang lumrah, bahkan tidak hanya soal Ruhut saja. Namun, dia memastikan, masalah penolakan Ruhut ini tidak akan dibawa ke Setgab. "Masak urusan ketua komisi saja ke Setgab, berarti kemampuan saya diragukan," ujar dia.

Suding sebagai Ketua Fraksi Partai Hanura mengaku tidak akan menanggapi lobi Nurhayati itu. "Saya akan mempertimbangkan keluar dari Komisi III jika tetap Ruhut jadi ketua," kata dia.

Wakil Ketua Komisi III DPR Aziz Syamsuddin pun mengingatkan bahwa penolakan anggota komisi tersebut punya kekuatan juga, meski Fraksi Demokrat punya hak prerogatif dalam menunjuk Ruhut. "Penolakan dimungkinkan karena ada pasalnya. Tergantung pleno," kata Aziz.

Aturan yang dimaksud Aziz adalah Pasal 52 ayat (6) Undang-Undang MPR, DPR, DPD, dan DPRD yang mengatur tata cara pemilihan pimpinan alat kelengkapan DPR. Pasal itu menyebutkan: Dalam hal pemilihan pimpinan komisi berdasarkan musyawarah untuk mufakat tidak tercapai maka keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak.

"Itu (Ketua Komisi) kan harus diterima secara aklamasi. Kalau tidak bisa diterima secara aklamasi, baru kita voting," jelasnya.

Sesumbar Ruhut

Ribut-ribut soal kursi empuk Ketua Komisi III DPR yang melibatkan Ruhut ini bukan kali ini saja muncul. Agustus lalu, Ruhut pernah sesumbar akan menggantikan Gede Pasek Suardika.

Kala itu, Ruhut mengaku akan dilantik menggantikan Pasek pada tanggal 20 Agustus 2013 dan surat dari DPP Partai Demokrat akan dikirim ke Pimpinan DPR. Ruhut mengaku sudah mengantongi restu Ketua Harian PD Syarif Hasan dan suratnya akan segera dikirim ke Pimpinan DPR.

Dia pun tak ragu mengabarkan pelantikan itu ke rekan sejawatnya di Komisi III. Bahkan, beberapa legislator sempat menyalami dan mengucapkan selamat kepada Ruhut.

Entah apa yang terjadi, Ruhut 'batal' jadi Ketua Komisi III DPR. Dalam rapat 20 Agustus 2013, Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso kala itu mengumumkan bahwa tidak ada perubahan posisi Ketua dan Wakil Ketua Komisi III DPR.

Sebelum mengumumkan siapa saja yang menjadi pimpinan Komisi III, Priyo tampak berhati-hati. Sebab, ternyata, keputusan fraksi berbeda dengan isu yang sudah terlanjur berkembang bahwa Ruhut sudah ditunjuk menjadi Ketua Komisi III.

"Dari surat-surat yang ada, setelah saya berbincang dengan ketua DPR (Marzuki Alie), meskipun saya dengar bahwa ada rencana rotasi, dan bahkan secara langsung sudah mendapatkan kabar, tapi kemudian didiskusikan oleh rekan lain termasuk ke ketua. Memang tetap saya harus memilih apa yang tertera di surat resmi yang telah dikirimkan oleh fraksi-fraksi," kata Priyo berputar-putar.

Dari surat pimpinan fraksi yang masuk, kata Priyo, Fraksi Golkar tetap memilih Aziz Syamsudin sebagai Wakil Ketua Komisi III, Fraksi PAN tetap Tjatur Sapto Edi sebagai Wakil Ketua Komisi III, dan Fraksi PKS tetap memilih Al Muzzamil Yusuf sebagai Wakil Ketua Komisi III.

"Dalam surat tertanggal 19 Agustus kemarin, Fraksi Demokrat menugaskan Ketua Komisi III ialah Gede Pasek Suardika," ujar Priyo.

Ketika ditemui usai rapat itu, Ruhut mengaku tetap yakin jika partainya telah menunjuk dia sebagai Ketua Komisi III. "Nggak ada yang salah. Mungkin belum sampai suratnya. Ojo kesusu. Sabar lah," kata Ruhut kala itu.

Kesabaran Ruhut ini memang berbuah hasil karena 18 September lalu, Ruhut akhirnya benar-benar diumumkan sebagai Ketua Komisi III DPR. Tapi, jalan Ruhut masih terjal karena penolakan demi penolakan rekan sejawatnya di Komisi III DPR masih mengalir deras. Bukan tak mungkin, Ruhut harus gigit jari lagi, untuk kedua kalinya. (eh)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id