TUTUP
TUTUP
FOKUS

Mengerikan, Angka Kematian di Jalan Lampaui Korban Perang Teluk

Tahun 2013, angkanya tercatat 25.157 orang.
Mengerikan, Angka Kematian di Jalan Lampaui Korban Perang Teluk
Peluncuran Gerakan Nasional Pelopor Keselamatan Berlalu lintas  (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

VIVAnews - Kecelakaan lalu lintas di Indonesia menjadi pembunuh terbesar ketiga. Jumlah kematian akibat kecelakaan berada di bawah penyakit jantung koroner dan tuberculosis atau TBC.

Dari catatan Kepolisian Republik Indonesia, sebanyak 25.157 jiwa meninggal pada tahun 2013. Turun dibandingkan 2012 yang mencapai 27.000 jiwa meninggal. Sementara pada 2011 jumlah korban jiwa mencapai 32.657 jiwa.

Data ini menunjukan jumlah korban jiwa yang disebabkan karena kecelakaan masih sangat tinggi. Berdasarkan angka tersebut, rata-rata korban meninggal dunia akibat kecelakaan sekitar 80 orang per hari atau sekitar empat orang per jam.

World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia mencatat, setiap tahun kejadian kecelakaan lalu lintas telah menyebabkan rata-rata 1,24 juta jiwa meninggal dunia serta 50 juta jiwa mengalami luka-luka dan cacat tetap.

Bahkan menurut catatan WHO, jumlah korban jiwa akibat kecelakaan ini lebih tinggi daripada korban perang. Dalam delapan tahun Perang Teluk dari 1980 sampai 1988 misalnya, tercatat korban meninggal 1,2 juta jiwa, atau sekitar 150.000 per tahun.

Menurut Kapolri Jenderal Sutarman, jumlah itu yang mendorong WHO mencanangkan gerakan dasawarsa keselamatan jalan raya pada 2011 hingga 2020. Targetnya, mengurangi jumlah korban mencapai 50 persen.

Atas dasar itu pula, Indonesia ikut mencanangkan Gerakan Nasional Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas (GNPKB). Kegiatan ini dilaksanakan secara serentak di sejumlah Provinsi di seluruh Indonesia mulai hari ini, Minggu, 26 Januari 2014.

Di Jakarta, gerakan ini dipusatkan di Bundaran Hotel Indonesia dan dibuka Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono, Wakil Presiden Boediono dan istri, Herawati Boediono. Tampak hadir juga Mensesneg Sudi Silalahi, Menpora Roy Suryo dan Kapolri Jenderal Sutarman.

Dalam sambutannya, Kapolri Jenderal Sutarman menyatakan, Polri masih berupaya meningkatan pencegahan dan mengurangi korban jiwa akibat kecelakaan di jalan.

"Dengan penambahan jumlah penduduk sekitar 2 persen dan kendaraan sekitar 8 persen, jumlah korban kecelakaan berpotensi mengalami peningkatan," katanya.

Berbagai upaya terus dilakukan, antara lain mendorong pengetahuan kepada masyarakat melalui sekolah dan kampus tentang keselamatan di jalan raya. Mekanisme pembuatan surat izin mengemudi juga menjadi konsentrasi Polri.

Memperbaiki analisis data-data mengenai kecelakakan, kerjasama dengan berbagai stakheholder dan penyusunan modul lalu lintas, juga dilakukan untuk menekan jumlah korban jiwa.

Selain penegakan hukum, ada lima hal penting yang juga menjadi perhatian Polri. Manajemen keselamatan jalan, jalan yang berkeselamatan, kendaraan yang berkeselamatan, perilaku pengendara yang berkeselamatan dan yang tak kalah penting adalah penanganan pra dan pasca kecelakaan.

Kakorlantas Polri, Inspektur Jenderal Pudji Hartanto menambahkan, peningkatkan kualitas pemohon SIM akan terus dilakukan untuk meningkatkan budaya tertib berlalu lintas. Pemohon SIM diharapkan dapat mengikuti aturan yang ada dan tidak mencari jalan singkat. "Peningkatan mekanisme ini akan menekan angka kecelakaan," katanya.

Instruksi Presiden SBY

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak seluruh komponen masyarakat berpartisipasi mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas yang sudah menjadi perhatian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"Saya mengajak seluruh rakyat Indonesia, komponen bangsa, dan masyarakat dengan sungguh-sungguh dengan daya upaya sekuat tenaga untuk mencegah paling tidak mengurangi secara signifikan kecelakaan lalu lintas. Semua turut bertanggung jawab, semua ikut bertugas, berupaya," katanya.

Selain itu, melalui telewicara dengan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Tengah dan Jawa Timur, SBY menginstruksikan agar kecelakaan di jalanan bisa ditekan.

Hingga kini, kecelakaan lalu lintas masih menjadi problem yang terus dicari jalan keluarnya. Jumlah kendaraan bermotor yang meningkat dan kelalaian manusia, ikut menjadi faktor utama yang mengerek angka kecelakaan di jalan raya. Pada tahun 2013, jumlah kendaraan di Jakarta mencapai 16 juta unit.

Persoalan yang lebih memprihatinkan adalah hampir sebagian besar jumlah korban kecelakaan lalu lintas adalah warga yang berusia produktif. Mereka juga menjadi tulang punggung keluarganya.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat jumlah kematian anak muda di dunia yang berusia 10 sampai 24 tahun meningkat. Terdapat sekitar 400.000 kecelakaan yang melibatkan anak di bawah usia 25 tahun. Sementara jumlah angka kematian mencapai 1.000 setiap harinya.

Indonesia menempati posisi kelima terbesar yang mencatat korban tewas terbanyak di jalan raya setelah China, India, Nigeria dan Brasil. Sebagian besar kasus kecelakaan di negara ini terjadi pada masyarakat miskin sebagai pengguna sepeda motor, dan transportasi umum. Jumlah kendaraan bermotor yang meningkat setiap tahunnya dan kelalaian manusia, menjadi faktor utama terjadinya peningkatan kecelakaan lalu lintas.

Sepanjang 2013, sejumlah petaka di jalan raya terus terjadi. Ada bus pariwisata terguling ke dasar jurang, ada mobil pribadi yang dikemudikan anak di bawah umur, hingga kecelakan kereta rel listrik menghajar truk pengangkut bahan bakar minyak (BBM) di perlintasan kereta. Ini empat kecelakaan maut yang hebohkan Jakarta.

Perilaku pengguna jalan yang tidak disiplin menjadi pemicu jatuhnya korban jiwa. Data Korlantas Polri memperlihatkan, lebih dari setengah kecelakaan pada tahun ini dipicu oleh faktor manusia.

Sedangkan aspek utama pada faktor manusia terdiri atas dua hal, yakni perilaku tidak tertib dan aspek lengah saat berkendara. Karena itu, tahun ini menjadi tonggak penting dari aspek kebijakan pemerintah menyangkut keselamatan jalan (road safety).

Instruksi Presiden (Inpres) untuk pelaksanaan program keselamatan jalan di Indonesia sudah dikeluarkan. Dalam Inpres 'Program Dekade Keselamatan Jalan Presiden Republik Indonesia' No 4 tahun 2013 tertanggal 11 April 2013, seluruh pemangku kepentingan diminta lebih serius menjalankan program road safety.

Inpres itu keluar setelah hampir 4 tahun diterbitkannya UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang juga ditandatangani Presiden SBY. Inpres itu menginstruksikan kepada 12 menteri, Kapolri, 33 gubernur, dan ratusan bupati dan walikota agar menggelar program keselamatan jalan yang lebih terkoordinasi.

Ada lima hal penting dalam Inpres tersebut, yaitu manajemen keselamatan jalan, kondisi jalan yang aman dan kendaraan berkeselamatan. Selain itu, perilaku pengguna jalan yang berkeselamatan serta penanganan kecelakaan lalu lintas jalan.

"Kami merasa masih minim dan belum tersinergi dengan maksimal," ujar Edo Rusyanto, ketua umum Road Safety Association (RSA) Indonesia, dalam siaran pers beberapa waktu lalu.

Menurut dia, negara harus menjamin dan memberi rasa aman bagi warganya. Sudah lebih dari 300 ribu jiwa tewas sepanjang 1992-2013. Lebih dari setengah juta warga menderita luka-luka akibat kecelakaan lalu lintas.

Karena itu, memasuki 2014, RSA Indonesia menyerukan, agar para pihak terkait segera menggelar program keselamatan jalan sesuai Inpres no 4/2013. Kedua, para pemangku kepentingan bersinergi dengan maksimal. Menghapus ego sektoral. Ketiga, penegak hukum agar melakukan penegakan hukum yang tegas, konsisten, kredibel, transparan, dan tidak pandang bulu.

Jalan rusak

Meski penguatan aturan dilakukan, kekhawatiran lain muncul di kalangan pengguna jalan terkait jalan-jalan rusak akibat hujan dan banjir, terutama di wilayah Jakarta yang diguyur hujan lebat dalam dua pekan terakhir.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Nurhadi Yuwono, mengatakan, sudah diterjunkan tim untuk melakukan pendataan terkait jalan rusak yang terdapat di Jakarta. Dilantas Polda Metro Jaya kini menempatan petugas di beberapa titik jalan yang dinilai rawan.

Jalan yang dianggap rawan di antaranya Jalan Tomang Raya arah timur sebelum traffic light Biak, Jalan Balikpapan arah timur sebelum lampu merah Caringin, Jalan Biak depan ATM Panin Bank, Jalan Hasyim Ashari arah timur depan Roxy. Jalan Veteran Raya arah timur seberang Pos Lantas Harmoni.

Kemudian, Jalan Batu Ceper depan Hotel F One, Jalan Batu Tulis di lampu merah Batu Tulis depan Pospol Pecenongan, Jalan Pejambon depan Deplu dan depan Gereja Immanuel, Jalan Ridwan Rais depan Puspom, Jalan Kramat Raya TL Cepu VII, Jalan Suprapto arah timur dan Jalan Kyai Mas Mansyur.

Dari catatan Dinas PU, total jalan yang ada di Jakarta mencapai 47.420.701 meter persegi. Dari jumlah itu, yang saat ini kondisinya rusak berjumlah 140.398 meter persegi. Di Jakarta Pusat luas jalan 3.377.544 meter persegi, yang mengalami kerusakan seluas 3.871 meter persegi.

Jakarta Utara luas jalan keseluruhan 3.877.306 meter persegi, yang mengalami kerusakan seluas 80.557 meter persegi. Jakarta Barat total luas jalan 5.723.553 meter persegi, yang mengalami kerusakan 14.625 meter persegi.

Jakarta Selatan total luas jalan  9.090.561 meter persegi, yang rusak 16.585 meter persegi. Sedangkan wilayah Jakarta Timur total luas jalan 6.482.092 meter persegi, yang mengalami kerusakan 24.760 meter persegi.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta, Manggas Rudy Siahaan mengatakan, perbaikan jalan rusak setelah banjir diperkirakan selesai dalam waktu seminggu. (umi)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP