FOKUS

Rusia - Ukraina di Ambang Perang Terbuka

Perbandingan kekuatan militer dua negara itu sangat timpang.

ddd
Senin, 3 Maret 2014, 21:39
Pasukan Rusia tanpa identitas berpatroli di Crimea, wilayah Ukraina yang mayoritas penduduknya pro-Moskow
Pasukan Rusia tanpa identitas berpatroli di Crimea, wilayah Ukraina yang mayoritas penduduknya pro-Moskow (REUTERS/Baz Ratner)
VIVAnews - Konflik di Ukraina kian membara. Perang terbuka Ukraina dengan tetangga besarnya, Rusia, siap meletus kapan saja. Bagi massa demonstran anti-pemerintah di Ukraina, menggulingkan kekuasaan Presiden Viktor Yanukovych - yang lolos ke Rusia - ternyata menimbulkan masalah baru.   

Rusia marah besar atas tergulingnya Yanukovych, sekutu dekat Presiden Vladimir Putin, lewat revolusi rakyat. Sejak akhir pekan lalu, Rusia mengirim pasukan ke Semenanjung Crimea, wilayah otonomi khusus di Ukraina demi, "Melindungi kepentingan dan rakyat Rusia di sana," ujar Putin kepada parlemen.

Crimea berhasil dikuasai secara cepat oleh Rusia. Selain Moskow masih punya barak militer di kota pelabuhan Sevastopol, mayoritas penduduk Ukraina di Crimea berbahasa Rusia dan tentu saja sangat mendukung langkah cepat Moskow mengirim pasukan saat pemerintahan pusat masih sangat rapuh setelah tergulingnya Yanukovych.

Menurut kantor berita Reuters, gerombolan pria bersenjata dan berseragam namun tanpa emblem menguasai bandara dan pusat-pusat strategis di Crimea. Mereka diduga pasukan Rusia yang dikerahkan dari pangkalan militer dan juga dibantu oleh milisi-milisi setempat yang pro-Moskow. Di perbatasan, Rusia sudah menyiagakan 150.000 tentara dan pekan lalu telah menggelar latihan militer di sana. Namun, mereka tidak langsung merangsek masuk. 
 
Ukraina pun, di bawah pemerintahan baru yang masih rapuh, berupaya menyiagakan diri. Kementerian Pertahanan, Minggu kemarin, mengeluarkan perintah mobilisasi massal. Semua laki-laki berusia hingga 40 tahun harus siap bela negara, walau minim senjata dan logistik. 

Namun, Ukraina tampak sangat tidak siap atas manuver cepat dari Moskow. Beberapa kota sudah digerogoti dari dalam oleh tentara Rusia maupun milisi pro-Moskow. 

Bahkan, di Kota Sevastopol, para perwira angkatan laut Ukraina tidak bisa bekerja karena markas mereka sudah diduduki pasukan Rusia. Laksamana Yuriy Ilyn, yang baru-baru ini menjabat panglima angkata laut Ukraina dan sempat menjadi panglima angkatan bersenjata di bawah kekuasaan Presiden Yanukovych, mengaku bahwa kekuatan militer negaranya kini "tersandera oleh situasi."

Di Kota Donestk, Ukraina bagian timur, para mantan anggota satuan polisi anti huru-hara yang baru-baru ini dibubarkan memobilisasi diri untuk mendukung kekuatan pro-Rusia. Menyedihkannya lagi, sudah ada petinggi militer Ukraina yang membelot.

Panglima Angkatan Laut Ukraina yang baru saja dilantik Sabtu pekan lalu, Laksamana Muda Denis Berezovsky, membelot ke Crimea yang pro-Rusia. Dia meninggalkan pangkalannya dan menyerahkan diri kepada pasukan Rusia yang sudah masuk ke wilayah otonomi Ukraina tersebut.

Menurut stasiun berita BBC, Viktoria Syumar, wakil sekretaris Dewan Keamanan Rusia, mengatakan Berezovsky tidak memerintahkan perlawanan saat pasukan Rusia menyambangi pangkalan AL yang dipimpinnya di pelabuhan Sevastopol, Crimea. Tampaknya Berezovsky sudah frustasi bahwa banyak fasilitas militer dan para anak buah yang dia pimpin sudah tidak berkutik oleh gerakan Rusia. 

Di Kota Sevastopol, para perwira angkatan laut Ukraina tidak bisa bekerja karena markas mereka sudah diduduki pasukan Rusia. Laksamana Yuriy Ilyn  mengaku bahwa kekuatan militer negaranya kini "tersandera oleh situasi."

Itulah sebabnya, Perdana Menteri Ukraina, Arseniy Yatsenyuk, menuturkan, hari ini negaranya berada di ambang bencana. "Ini bukan ancaman lagi, tapi benar-benar deklarasi perang atas negara saya," kata Yatseniuk seperti dikutip kantor berita Reuters.
 
Ketegangan Ukraina-Rusia memanas setelah Yanukovych digulingkan secara paksa oleh massa demonstran. Sebagai pemimpin yang condong ke Rusia, Yanukovych mulai mengundang kemarahan rakyat Ukraina saat November lalu membatalkan kerjasama negaranya dengan Uni Eropa, yang telah diperjuangkan pemimpin sebelum dia.

Tidak Imbang
  
Sangggupkah Ukraina berkonflik terbuka dengan Rusia? Tampaknya sulit, bila melihat jumlah personel militer dan anggaran yang dikeluarkan kedua negara dalam membeli mesin-mesin perang, ungkap stasiun berita CNN dengan melihat beberapa referensi berikut.

Menurut Europa World, pada 2012 saja jumlah personel aktif Rusia sebanyak 845.000, sedangkanya Ukraina hanya 130.000. Dari segi anggaran, ungkap Jane's Defence Weekly, kocek yang dikeluarkan Rusia untuk pengadaan mesin-mesin perangnya pada 2012 sebesar US$78 miliar. Ukraina, hanya US$1,6 miliar.

Perbandingan tenaga cadangan militer kedua negara pun sangat jomplang. Menurut data World Factbook, yaitu ensiklopedi mancanegara yang diterbitkan lembaga interlijen AS, CIA, Ukraina punya 15,7 juta pria dan wanita berusia 16-49 tahun yang siap untuk dinas militer. Untuk rentang usia yang sama, Rusia punya 45,6 juta jiwa.  
 
Itulah sebabnya menteri sementara urusan pertahanan Ukraina, Ihor Tenyuh, Minggu kemarin dalam sidang parlemen menegaskan, negara mereka tidak punya kekuatan militer yang cukup untuk adu fisik dengan Rusia.

Sidang itu sebenarnya berlangsung tertutup untuk media, namun perkataan Tenyuh itu dibocorkan oleh dua anggota parlemen yang hadir. Tidak heran bila di sidang itu, ungkap pembocor, Menhan Tenyuh menekankan agar Ukraina menggunakan pendekatan diplomasi untuk menyelesaikan krisis dengan Rusia. 

Jomplangnya perbandingan kekuatan militer kedua negara ini pertanda bahwa, sebelum konfrontasi dengan Rusia, Ukraina menghiraukan modernisasi pertahanan. Seorang pakar militer, dalam suatu artikel yang dimuat pada Juni 2011, bahkan memprediksi bahwa Ukraina akan mengalami "kekosongan instrumen pertahanan" selama satu dekade bila investasi di sektor itu tidak bertambah.

Valentin Badrak, direktur lembaga pengamat kebijakan pertahanan Ukrainian Centre of Army, Conversion and Disarmament Studies (CACDS) yang dikutip harian Nezavisimaya Gazeta dan Jane's, bahkan mengatakan bahwa program pengembangan Angkatan Bersenjata Ukraina (UAF) berada dalam "level nol."
 
Menurut studi pada 2010, pemerintah Ukraina merasa tidak perlu membentuk kekuatan militer yang besar, karena ancaman utama bukan datang dari luar, melainkan dari dalam negeri. Maksudnya, sebagai negara yang belum matang dan masih berusia belasan tahun, fondasi politik Ukraina masih belum stabil dan itu sudah terbukti dengan konflik berdarah yang menumbangkan Presiden Yanukovych.

Sanksi Barat

Kalah dalam kekuatan militer, Ukraina memang berharap ada penyelesaian diplomatik. Tidak hanya itu, Ukraina pun kini harus bergantung kepada seberapa besar pihak luar mampu membantunya. Pihak luar yang dimaksud adalah negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan negara-negara Eropa lain.

Sejak akhir pekan lalu, Presiden Barack Obama dari Washington DC dan Presiden Francois Hollande dari Paris gencar melobi Putin di Moskow lewat sambungan untuk menahan diri menginvasi Ukraina sekaligus mencegah perang terbuka di sana.

Bahkan, ungkap Washington Post, Obama pun pada Sabtu waktu setempat rela berbicara selama 90 menit kepada Putin khusus untuk melobi dia agar tidak menyerbu Ukraina. Hasil lobi Obama sejauh ini belum terlihat, namun hingga Minggu kemarin belum ada aba-aba dari Moskow untuk menyerbu masuk.  

Wall Street Journal, Minggu 2 Maret 2014, memberitakan bahwa AS dan para sekutunya di Eropa bertekad akan mengisolasi Putin dan memberi sanksi ekonomi bagi negaranya, jika dia tidak menarik pasukan dari wilayah Crimea.

Pemerintah Washington sendiri telah mulai langkah awal isolasi, yaitu membatalkan perjanjian bilateral ekonomi dan perdagangan dengan Moskow. Termasuk di antaranya  menangguhkan persiapan pertemuan G8 yang rencananya akan digelar di Sochi, Rusia, Juni mendatang.

Pejabat senior AS mengatakan bahwa saat ini pemerintah telah memulai diskusi di Kongres soal kemungkinan sanksi ekonomi dan finansial terhadap perusahaan Rusia dan para pemimpin politik di negara itu.

Minggu malam kemarin, negara-negara anggota G7 telah mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam "pelanggaran kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina" oleh Rusia. Sama seperti AS, negara G7 juga menyatakan tidak akan berpartisipasi pada persiapan pertemuan G8, "sampai G8 mampu berdiskusi dengan baik."

Pejabat di AS seluruh Eropa saat ini dikabarkan tengah mencari sanksi apa yang tepat diterapkan pada Rusia. Intervensi militer terhadap Ukraina dianggap sebagai opsi yang tidak akan digunakan.

Salah satu cara yang akan digunakan adalah memberikan sanksi finansial yang akan menjatuhkan nilai mata uang Rusia, ruble. Selain itu, pejabat pemerintah AS mengatakan bahwa Presiden Barack Obama akan menerapkan sanksi ekonomi terhadap perusahaan energi, bank dan pemimpin Rusia jika Putin bergeming.

Jika kena sanksi, tidak boleh ada perusahaan Rusia yang menggunakan sistem keuangan AS. Ini adalah cara sama yang digunakan AS terhadap Iran, berhasil melemahkan ekonomi negara tersebut dalam lima tahun terakhir.

Selain tekanan ekonomi, AS dan Eropa juga akan melakukan negosiasi diplomatis. Salah satunya, penawaran strategi penarikan 6.000 pasukan Rusia dari Crimea dengan aman, tanpa mengganggu aset militer Rusia serta warga keturunan Rusia di wilayah tersebut.

Menlu AS, John Kerry, juga dijadwalkan mengunjungi Ibu Kota Kiev Selasa waktu setempat untuk menyatakan dukungannya pada pemerintah sementara negara Ukraina. Selain itu, AS juga akan memberikan bantuan dana talangan, termasuk pinjaman dengan jaminan sebesar US$1 miliar.  (umi)


© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
agus_pras
04/03/2014
Paling gampang kalo perang sama indonesia, gak perlu pake 1 peluru, cukup embargo minyak mentah dari iran, iraq, ato negara lain dan beras dari thailand, vietnam, jg bahan2 pokok lainnya pasti negara ini ekonominya kacau-balau.., gmn mau perang...???
Balas   • Laporkan
hahaha77
04/03/2014
wajar mayoritas warga ukraine gamau pemerintahnya kiblat ke russia,krn bakal setengah terkukung,krn ideologi msh setengah komunis...namanya manusia alaminya pengen hidup bebas tp bertanggung jawab..
Balas   • Laporkan
hahaha77 | 04/03/2014 | Laporkan
ideologi yg mengukung kebebasan warganya jelas bikin gerah,ky komunis,diktaktor,ato pemerintahan dgn aturan 1 agama, manusia makin pintar ga mau lah balik ke jaman "manusia purba" lagi.
perjakaku
03/03/2014
Eropa mau kasih sangsi ekonomi ke rusia? Bullshit.. coba ntar lihat apa hasilnya. Ingat kasus gas rusia yang lewat ukraina, eropa kebakaran jenggot sekarat karena gak ada gas rusia yg masuk?? Eropa itu tergantung gas murah dari rusia !
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id