FOKUS

Membuka Kembali "Perjanjian Batu Tulis" Gerindra-PDIP

PDIP: “Perjanjian itu masa lalu. Sebaiknya kita move on”
Rabu, 5 Maret 2014
Oleh : Anggi Kusumadewi, Nur Eka SukmawatiFajar Sodiq (Solo)
Prabowo dan Megawati di kediaman Mega pada 14 April 2009.

VIVAnews – Prabowo Subianto. Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra ini sudah diniatkan partainya maju menjadi calon presiden sejak Pemilu 2009. Namun konstelasi politik saat itu membuat Gerindra harus mengalah dengan mitra koalisinya yang mengantongi perolehan suara lebih besar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Pada Pemilu 2009 itu, setelah bernegosiasi selama tiga hari di Batu Tulis, Bogor, Gerindra bersedia mendukung Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden dan menempatkan Prabowo sebagai calon wakil presiden. Namun sebagai imbal balik, PDIP harus mendukung Prabowo sebagai calon presiden pada Pemilu 2014.

Itu adalah isi Perjanjian Batu Tulis yang dibeberkan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo di Solo, 4 Maret 2014. “Perjanjian Batu Tulis berisi 7 butir kesepakatan. Poin yang menyatakan PDIP akan mendukung pencalonan Prabowo sebagai Presiden 2014 ada di butir terakhir, nomor 7,” kata Hashim.

Namun Hashim tak membuka seluruh poin dalam perjanjian yang diteken tanggal 15 Mei 2009 itu. Hashim merupakan salah satu konseptor Perjanjian Batu Tulis. “Perjanjian tidak hanya berlaku pada 2009. Jelas disebut bahwa perjanjian tetap berlangsung hingga 2014,” ujar adik Prabowo itu.

Hashim menyatakan, Perjanjian Batu Tulis bukan bualan atau omong-kosong. “Saya melihat ketika perjanjian itu ditandatangani oleh Ibu Megawati. Saya juga tahu orang yang berdiri di dekat Ibu Mega merupakan tokoh PDIP yang namanya masuk dalam daftar kabinet  bayangan PDIP,” kata dia. Tokoh yang dimaksud Hashim adalah Pramono Anung yang ketika itu menjabat Sekretaris Jenderal PDIP.

Dalam pertemuan di Batu Tulis itu, menurut Hashim, perwakilan Gerindra yang hadir antara lain dia, Prabowo, Wakil Ketua Umum Fadli Zon, dan anggota Dewan Pembina Martin Hutabarat. Sementara dari PDIP ada Megawati, Puan Maharani, Pramono Anung, Sabam Sirait.

Perjanjian Batu Tulis ini kembali diungkit Gerindra menjelang Pemilu 2014, di tengah hasil survei sejumlah lembaga yang menempatkan Joko Widodo sebagai calon presiden dengan elektabilitas tertinggi.

(Baca Survei Pol-Tracking: Jokowi Masih Capres Pilihan Publik) Ada pula survei yang memprediksi Jokowi dan Prabowo akan berhadap-hadapan pada Pemilihan Presiden 2014.

Sampai saat ini, nama Jokowi santer disebut sebagai capres paling potensial. Meski belum ditetapkan PDIP sebagai capres, Jokowi kerap bepergian bersama Megawati. Andai Jokowi benar-benar diusung partai banteng menjadi capres, sudah tentu Prabowo terancam.

PDIP cuek

Gerindra berkukuh menuntut PDIP menepati isi Perjanjian Batu Tulis. “Bila diperlukan, saya akan memperlihatkan perjanjian itu,” kata Hashim. Ia menyesalkan PDIP yang terkesan berupaya menghindari dari perjanjian tersebut. Gerindra bertekad terus menagih janji PDIP.

PDIP pun agak sengit dengan sikap Gerindra. “Gerindra tidak pernah bicara langsung ke PDIP (soal permintaan dukungan untuk Prabowo). Ya lihat sajalah nanti bagaimana,” kata Ketua Dewan Pimpinan Pusat PDIP Puan Maharani di Jakarta, 5 Maret 2014.

“Pak Hashim kan Gerindra, kami PDIP. Kok ngomongin rumah tangga orang lain? Fokus saja pada rumah tangga sendiri-sendiri untuk pemenangan pemilu legislatif 9 April ini,” ujar putri Megawati Soekarnoputri itu.

Soal dukung-mendukung capres ia nilai baru tepat dibicarakan setelah pemilu legislatif 9 April 2014 usai. “Setelah itu, kita bisa rembukan lagi bagaimana agar bangsa ke depannya lebih baik,” kata Puan.

Secara terpisah, Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristianto menyatakan, Perjanjian Batu Tulis hanya berlaku bila Megawati menang jadi presiden pada Pemilu 2009. Nyatanya Megawati-Prabowo kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono. “Perjanjian itu masa lalu. Sebaiknya kita move on,” kata Hasto.

Jika berpegang pada Perjanjian Batu Tulis, ujar Hasto, artinya jabatan-jabatan menteri juga harus dipenuhi. “Maka daripada memikirkan itu, lebih baik kita berpikir ke depan,” katanya.

Ia tak mau berspekulasi apakah PDIP dan Gerindra akan kembali berkoalisi pada Pilpres 2014 atau tidak. “Koalisi dibangun oleh tradisi berkeadaban, bukan saling jegal. Koalisi harus menciptakan nilai tambah satu sama lain, dan kerjasama dibangun melalui komunikasi,” ujar Hasto.

Gerindra tetap berharap bisa bersama-sama PDIP mewujudkan Perjanjian Batu Tulis. “Kalau Gerindra bergabung dengan PDIP, akan jadi kekuatan besar. Tak ada yang menyangsikannya,” kata Ketua Umum Gerindra, Suhardi.

Beberapa waktu lalu, politisi senior PDIP Sabam Sirait yang ikut meneken Perjanjian Batu Tulis justru mengatakan, tak ada butir soal dukungan PDIP ke Prabowo sebagai capres 2014 dalam perjanjian itu. “Hanya capres dan cawapres 2009, bukan 2014. Hanya mencantumkan kerjasama antara PDIP dan Gerindra untuk pencalonan Megawati sebagai capres dan Prabowo sebagai cawapres 2009,” ujarnya.

Entah versi mana yang benar soal Perjanjian Batu Tulis antara PDIP dan Gerindra itu. (np)

TERKAIT
File Not Found
TERPOPULER
File Not Found