FOKUS

Penumpang "Misterius" di Pesawat Malaysia Airlines yang Hilang

Keberadaan mereka di pesawat itu embuskan dugaan sabotase

ddd
Senin, 10 Maret 2014, 22:39
Dukungan dan doa bagi penumpang pesawat Malaysia Airlines yang hilang.
Dukungan dan doa bagi penumpang pesawat Malaysia Airlines yang hilang. (Reuters)

VIVAnews – Hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370 rute Kuala Lumpur - Beijing sejak Sabtu pekan lalu turut membuat resah para pejabat dan pakar keamanan internasional. Ini terkait dengan temuan bahwa ada (sedikitnya) dua penumpang yang menggunakan paspor curian, sehingga muncul spekulasi bahwa pesawat itu bisa jadi disabotase.

Pemerintah Malaysia, sebagai pemilik maskapai Malaysia Airlines, masih memprioritaskan upaya menemukan pesawat yang hilang. Keluarga para penumpang diberangkatkan ke Kuala Lumpur untuk bersama-sama menunggu pencarian dan diberitahu bahwa mereka harus siap menghadapi kemungkinan terburuk soal nasib sanak-saudara mereka di pesawat itu.

Selain memperhatikan masalah teknis, pejabat keamanan Negeri Jiran itu juga telah mempertimbangkan segala kemungkinan penyebab hilangnya pesawat, seperti dugaan sabotase yang bisa mengarah ke terorisme.

Itulah sebab Pemerintah Malaysia menggandeng Interpol dan Badan Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) untuk menyelidiki sejumlah kemungkinan yang bisa menjelaskan hilangnya pesawat itu di Laut China Selatan dalam perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Beijing, Sabtu 8 Maret 2014.

Dari total 227 penumpang di dalam pesawat jenis Boeing 777-200 itu, ada 4 orang yang dicurigai otoritas Malaysia. Dua dari 4 orang itu menggunakan paspor palsu. Untuk menyelidiki sejumlah penumpang yang mencurigakan itulah Malaysia mengaktifkan intelijennya, dan menginformasikan hal tersebut kepada unit antiterorisme di negara-negara terkait.

FBI telah mengirimkan agen dan ahli teknis mereka untuk membantu penyelidikan. Seorang pejabat Departemen Keamanan Dalam Negeri AS kepada Los Angeles Times mengatakan akan mencoba menentukan apakah tragedi hilangnya pesawat Malaysia Airlines (MAS) ada kaitannya dengan aksi terorisme.

Namun sampai 10 Maret 2014, belum ada bukti yang mendukung spekulasi terorisme di balik hilangnya MAS MH-370. Dua penumpang yang menggunakan paspor palsu tak bisa langsung disebut teroris karena mereka bisa saja membeli paspor di pasar gelap.

Paspor palsu yang digunakan dua penumpang Malaysia Airlines itu milik warga negara Austria bernama Christian Kozel, dan warga Italia bernama Luigi Maraldi. Paspor Kozel dan Maraldi dicuri tahun 2012 dan 2013 di Thailand. Luigi sekarang masih di Thailand, sedangkan Kozel sudah kembali ke Austria.

Harian Singapura, The Straits Times, melansir kedua penumpang pria yang bepergian menggunakan palsu itu membeli tiket penerbangan Malaysia Airlines melalui China Southern Airlines yang berbagi rute penerbangan dengan MAS. Tiket dibeli di Pattaya, sebuah resor pantai di selatan Bangkok, Thailand.

Menurut China Southern Airlines seperti dilansir The Telegraph, kedua penumpang berpaspor palsu itu membeli tiket Malaysia Airlines pada waktu yang sama. Itu terlihat dari nomor tiket mereka yang berurutan, yakni 7842280116099 dan 7842280116100. Belum diketahui bagaimana cara kedua pria tersebut bisa menembus pengamanan di imigrasi Malaysia.

Dua penumpang berpaspor palsu itu berencana terbang dari Kuala Lumpur ke Beijing untuk transit. Selanjutnya dari Beijing, mereka telah memesan penerbangan berikutnya ke Eropa untuk tanggal 8 Maret –pada hari yang sama dengan jadwal kedatangan Malaysia Airlines MH-370 di Beijing.

Pemegang paspor Kozel hendak melanjutkan perjalanan ke Amsterdam, Belanda, dan Frankfurt, Jerman. Sementara pemegang paspor Maraldi akan melanjutkan perjalanan ke Kopenhagen, Denmark.

Meski memegang paspor milik warga negara Austria dan Italia, kedua orang mencurigakan itu sesungguhnya berparas Asia. Wajah mereka diketahui dari rekaman CCTV bandara.

Pemerintah Malaysia pun menggelar penyelidikan internal untuk mengetahui kenapa dua orang itu bisa lolos dari pemeriksaan imigrasi di Bandara Internasional Kuala Lumpur.

“Saya bingung, bagaimana mungkin petugas imigrasi tidak bisa berpikir. Berdasarkan paspor, mereka orang Italia dan Austria, tapi wajahnya Asia,” kata Menteri Dalam Negeri Malaysia, Ahmad Zahid Hamidi, dikutip Channel News Asia.

Interpol belum bisa merilis informasi soal identitas asli dua pria tersebut untuk kepentingan penyelidikan. Namun muncul spekulasi bahwa mereka adalah separatis Uighur asal China. Dugaan itu menyeruak karena musibah hilangnya pesawat Malaysia Airlines menuju Beijing terjadi tak lama sesudah aksi teror di stasiun kereta Kunming, Provinsi Yunnan, China, yang menewaskan 33 orang pada 1 Maret 2014.

Malaysia tak mencoret kemungkinan itu. “Dugaan tersebut tidak dikesampingkan. Kami telah memulangkan warga Uighur yang menggunakan paspor palsu sebelumnya. Tapi masih terlalu dini untuk melihat apakah itu ada kaitannya dengan peristiwa ini,” kata seorang pejabat Malaysia dilansir The Star Online.

Malaysia yang memiliki hubungan baik dengan China telah mendeportasi warga Uighur pada tahun 2011 dan 2012. Tahun 2011, ada 11 warga Uighur yang dideportasi karena terlibat sindikat penyelundupan manusia. Tahun 2012, 6 warga Uighur pencari suaka ditahan dan dideportasi karena mencoba meninggalkan Malaysia dengan paspor palsu.

Selama ini militan Uighur yang terletak di Xinjiang dicap teroris separatis oleh pemerintah China karena hendak membentuk negara baru bernama Uighuristan atau Turkistan Timur. Warga Uighur kebanyakan muslim beretnis Turki.

Namun sumber di pemerintahan China menyatakan, belum ada konfirmasi apapun yang bisa menunjukkan keterkaitan antara aktivitas militan Uighur dengan hilangnya pesawat Malaysia Airlines. Gubernur Yunnan, Li Jiheng, juga mengatakan tak ada bukti bahwa aksi teror di stasiun kereta Kunming berhubungan dengan lenyapnya MAS MH-370.

Interpol Berang

Penyelidikan Interpol bahkan mengindikasikan ada lebih banyak lagi penumpang berpaspor palsu dalam pesawat Malaysia Airlines nahas itu. Ini membuat jengkel organisasi polisi internasional itu.

“Masih terlalu dini untuk berspekulasi bahwa ada hubungan antara paspor yang dicuri dengan hilangnya pesawat. Tapi yang jadi keprihatinan besar adalah ada penumpang yang bisa masuk ke penerbangan internasional menggunakan paspor curian yang terdata di database Interpol,” kata Sekretaris Jenderal Interpol, Ronald Noble, seperti dikutip Reuters.

Untuk diketahui, Interpol memiliki data lebih dari 40 juta dokumen perjalanan yang hilang atau dicuri di seluruh dunia. Interpol juga sudah meminta negara-negara anggotanya untuk menggunakan data tersebut guna mencegah pengguna paspor palsu bepergian ke negara lain. Sayangnya hanya sedikit negara anggota Interpol yang memanfaatkan data-data itu.

Interpol menyesalkan masalah paspor palsu baru menjadi perhatian setelah terjadi masalah besar. “Ini situasi yang tidak kami inginkan. Selama bertahun-tahun, Interpol mempertanyakan kenapa negara-negara harus menunggu sampai terjadi tragedi, baru memperketat keamanan di perbatasan atau bandara,” ujar Noble.

Jika Malaysia Airlines dan seluruh maskapai penerbangan di dunia mau mengecek paspor dengan data Interpol, kata Noble, maka tak akan muncul spekulasi apakah paspor palsu itu digunakan teroris untuk membajak MH-370 atau tidak.

Malaysia Airlines terus memantau soal paspor palsu itu. “Sejauh yang kami tahu, setiap orang di pesawat kami punya visa ke China. Memang bukan berarti mereka tidak memakai paspor palsu, tapi itu membuat kemungkinannya menipis,” kata Direktur Operasi Malaysia Airlines, Hugh Dunleavy.

Meski China terkenal ketat dengan pemberian visa dan pemeriksaan di perbatasan, namun aturan itu bisa sedikit longgar untuk pemegang paspor Eropa. Ini karena China memberlakukan 72 jam bebas visa bagi warga negara asal Barat sesaat setelah mereka tiba di Beijing –sepanjang  memegang tiket terusan ke negara lain.

Celah inilah yang biasa digunakan para imigran gelap menuju Eropa: dengan transit di China. Penumpang Malaysia Airlines yang memegang paspor Kozel dan Maraldi pun sudah mengantongi tiket terusan ke Amsterdam dan Frankfurt.

Soal paspor palsu yang dicuri di Thailand ini, Departemen Investigasi Khusus Thailand (DSI) sesungguhnya telah membentuk pusat organisasi intelijen tindak kejahatan transnasional untuk menghadapi masalah itu. Salah satu petugas DSI mengklaim, tingkat pencurian paspor di Thailand termasuk rendah. Namun ia mengakui ada banyak jaringan pemalsu paspor yang beroperasi di Thailand.

Sudah check-in, batal naik

Proses penyelidikan juga menunjukkan, lima orang calon penumpang tak jadi naik pesawat meski telah check-in dan memasukkan bagasi ke dalam pesawat MAS MH-370. Namun Malaysia Airlines tidak menyebut identitas kelima calon penumpang itu maupun alasan mereka membatalkan kepergian.

Mengetahui ada calon penumpang yang batal naik, sesuai prosedur standar, Malaysia Airlines mengeluarkan bagasi kelima orang itu. Awak kapal yang memeriksa bagasi mereka pun tak menemukan hal yang mencurigan. Semua bagasi itu dinyatakan ‘bersih.’

“Kami telah mengeluarkan bagasi-bagasi itu. Setiap bagasinya dicatat dan diberi nomor serial unik, sehingga bagasi yang dikeluarkan dari pesawat benar-benar tepat,” kata Kepala Penerbangan Sipil Malaysia, Azharuddin Abdul Rahman.

Pencarian pesawat Malaysia Airlines kini difokuskan di perairan berjarak sekitar 50 mil dari selatan Pulau Tho Chu, Vietnam. Di tempat itulah ditemukan ceceran minyak yang diduga berasal dari pesawat nahas tersebut.

Untuk menemukan MAS MH-370, digelar operasi pencarian besar-besaran yang melibatkan armada tempur sedikitnya tujuh negara, termasuk Indonesia.

RI mengerahkan lima kapal perangnya untuk menyisir perairan Pulau Penang, Malaysia. Kelima kapal itu adalah KRI Kruit, KRI Mata Cora, KRI Sutanto, KRI Tarihu, dan KRI Siribua. Indonesia juga mengirim pesawat TNI AL Casa-U621 dari Tanjung Pinang untuk membantu pencarian.

Australia mengirim dua pesawat mata-mata, China menurunkan fregat dan kapal amfibi, AS mengirim kapal penghancur kelas Arleigh Burke, sedangkan Singapura menurunkan kapal selamnya.

Total ada 34 pesawat dan 40 kapal yang dikerahkan oleh berbagai negara untuk menyisir Laut China Selatan. Pesawat melakukan pencarian selama 12 jam dari pagi hingga matahari tenggelam, sedangkan kapal melakukan pencarian saat malam. (ren)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Informasi Pemasangan :
Telepon : 021-9126 2125 / Sales
Email : Sales@viva.co.id