TUTUP
TUTUP
FOKUS

Dihantam Rudal Rusia, Siapa Dalang Penembak MH17?

Temuan tim, rudal jenis BUK ini terakhir dipakai Rusia tahun 2011.
Dihantam Rudal Rusia, Siapa Dalang Penembak MH17?
Ketua Dewan Keselamatan Belanda, Tjibbe Joustra tengah memaparkan hasil akhir penyelidikan jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 pada Juli 2014 lalu. (13/10/2015) (REUTERS/Michael Kooren)
VIVA.co.id - Dewan Keselamatan Penerbangan Belanda (OvV) pada Selasa kemarin memaparkan hasil penyelidikan yang telah mereka lakukan selama 15 bulan. Digelar di pangkalan militer Gilze-Rijen, Belanda, sang ketua, Tjibbe Joustra, menyimpulkan pesawat tujuan Amsterdam menuju ke Kuala Lumpur itu jatuh akibat ditembak rudal jarak menengah yakni BUK buatan Rusia. 

Kesimpulan itu bukan sesuatu yang mengejutkan, mengingat hal tersebut telah diprediksi sebelumnya. Keterlibatan Rusia sudah disebut oleh negara-negara barat, karena diduga memasok senjata BUK tersebut ke kelompok pemberontak di wilayah Ukraina Timur. 

Joustra menjelaskan di depan bagian kokpit pesawat yang telah dirakit ulang. Walaupun tidak secara utuh, tetapi media yang hadir dalam pemaparan tersebut bisa mendapatkan gambaran jelas kondisi pesawat usai dihantam rudal BUK.

Dia mengatakan, rudal BUK tidak langsung mengenai badan pesawat, melainkan meledak dengan jarak satu meter dari bagian depan kokpit pesawat. Terdapat dua versi kemungkinan ledakan, yakni di bagian atas atau sebelah kiri hidung pesawat. 

"Hulu ledak rudal 9N314M meledak di bagian luar dan sisi sebelah kiri kokpit. Hulu ledak ini cocok dengan yang digunakan di sistem rudal udara," ujar Joustra seperti dikutip kantor berita Reuters, Selasa.

Ledakan rudal langsung menyebarkan fragmen di seluruh bagian kokpit. Alhasil, tiga orang kru termasuk pilot yang ketika itu berada di kokpit langsung tewas seketika. Ledakan rudal juga mengakibatkan kerusakan struktural pesawat sehingga badan pesawat ikut meledak. 


Yang lebih mengejutkan, laman Mirror menyebut usai meledak, para penumpang diketahui masih hidup. Rata-rata para penumpang MH17 masih bisa bernafas hingga 90 detik. 

Temuan ini diketahui, setelah ada satu mayat yang masih mengenakan masker oksigen. Mayat tersebut ditemukan oleh tim evakuasi ketika menyisir lokasi jatuhnya pesawat. 

Temuan lain yang berhasil diungkap yaitu, penumpang MH17 meninggal karena dekompresi, kurangnya kadar oksigen, suhu dingin yang ekstrem di ketinggian dan aliran udara yang kuat. 

"Ini tidak dapat dikesampingkan, bahwa beberapa penumpang tetap sadar selama 60 hingga 90 detik sebelum pesawat jatuh," tulis laporan yang dibuat Dewan Keselamatan Penerbangan Belanda.

Kendati berhasil menemukan penyebab jatuhnya pesawat, tetapi OvV tidak memiliki kewenangan untuk menuding pihak yang diduga telah menembak rudal BUK itu. Mereka juga tidak menyebut dari area mana rudal tersebut ditembakkan. 

Usai memberikan keterangan pers, Joustra hanya menyebut kelompok pemberontak berada di area di mana rudal BUK ditembakkan. Kendati tidak disebut oleh OvV, pemerintah di Ukraina dan beberapa negara barat langsung menunjuk hidung Rusia sebagai dalang dari insiden itu. Negeri Beruang Merah disebut-sebut memasok senjata bagi kelompok pemberontak. 

Dalam kesempatan itu, Joustra turut menyayangkan kebijakan yang diterapkan oleh Pemerintah Ukraina. Sebab, kendati mereka menyadari adanya konflik di wilayahnya, tetapi zona udara bagi penerbangan komersial tetap dibuka.

Reuters mencatat 61 maskapai tetap melanjutkan penerbangan di atas wilayah konflik Ukraina. Oleh sebab itu, Joustra merekomendasikan aturan penerbangan diubah dan memaksa operator agar lebih transparan mengenai pilihan rute mereka.

Sikap Ukraina pun tidak konsisten. Saat ditegur OvV, Kepala Penyelidikan MH17 yang dibentuk Ukraina, Hennadiy Zubko, mengatakan otoritas Ukraina telah mengikuti semua prosedur yang telah ditetapkan. 

"Semua rekomendasi dari Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) telah diterapkan. Ukraina telah menutup zona udara yang berada di bawah 32 ribu kaki," kata Zubko kepada para jurnalis di Kiev. 

Namun, pernyataan itu diubah oleh Menteri Luar Negeri Pavlo Klimkin. Berbicara dari New York, Amerika Serikat di markas PBB, Klimkin mengaku Ukraina tidak menutup zona udara mereka. Dia mengaku saat itu tidak ada pihak yang menduga akan ada ancaman yang sedemikian besar. 

"Semua orang pasti yakin senjata yang disiagakan di sana adalah jenis konvensional. Tidak ada satu pun orang saat ini yang bahkan menyadari kehadiran peralatan senjata modern yang bisa ditembakkan ke udara," kata Klimkin.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP