TUTUP
TUTUP
FOKUS

Selamatkan Warga Korban Asap, Siapkan Skenario Evakuasi

Kabut asap meluas. Bayi, anak-anak, dan lanjut usia prioritas evakuasi
Selamatkan Warga Korban Asap, Siapkan Skenario Evakuasi
Pemerintah menyiapkan enam kapal perang untuk evakuasi warga korban kabut asap (Pusat Penerangan TNI)

VIVA.co.id - Kunjungan Presiden Joko Widodo ke Amerika Serikat dikritik kalangan warga yang terdampak bencana asap. Jokowi pergi di saat Indonesia dihadapkan dengan persoalan meluasnya kebakaran hutan dan lahan yang mengakibatkan bencana kabut asap.

Jokowi akan berada di AS selama lima hari, dalam rangka memenuhi undangan Presiden Barack Obama. [Baca: Warga Riau Minta Obama Nasihati Jokowi]

Untuk penanganan kabut asap, Jokowi melimpahkan kendali penanganan kabut asap kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Luhut Binsar Pandjaitan. Jokowi janji, selama di AS, dia akan tetap memantau perkembangan penanganan kabut asap.

"Saya akan terus memantau detik demi detik, menit demi menit, terutama dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan serta penanganan korban bencana kabut asap," kata Jokowi sebelum bertolak ke AS, Sabtu, 24 Oktober 2015.

Sebelum pamit ke AS, Jokowi lebih dulu mengumpulkan para menteri kabinetnya, menggelar rapat terbatas pada Jumat, 23 Oktober 2015, terkait penanganan kabut asap. Jokowi menginstruksikan jajarannya untuk mengevakuasi warga yang terkena dampak asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan.

Instruksi evakuasi itu karena bencana asap di sejumlah daerah di Tanah Air, kondisinya saat ini sangat tidak sehat. Jokowi menyebut titik-titik api di semua lokasi cenderung masih sangat banyak. Di Pulau Sumatera masih ada 826 titik api, di Sumatera Selatan 703 titik api, Kalimantan 974 titik api, dan lain-lain.

"Saya kira proses itu (evakuasi) segera dilaksanakan," ujar Jokowi di Kantor Kepresidenan, Jakarta.

Presiden juga menginstruksikan, agar penanganan ini dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh kementerian dan pemerintah daerah. Sementara itu, yang paling penting segera dievakuasi adalah bayi-bayi yang paling rentan terkena dampak asap. Presiden mengutus menteri kesehatan untuk mengurus itu.

"Mungkin bisa saja di kantor bupati atau kantor yang lainnya yang dipakai khusus untuk bayi dan anak," tutur Jokowi.

Jokowi minta pelaksanaan evakuasi tidak perlu dilakukan sampai ke luar kota. Evakuasi, lanjut mantan gubernur DKI Jakarta itu, sebaiknya dilakukan di dalam kota, atau tempat-tempat yang steril, asalkan di lokasi itu disediakan pendingin ruangan dan air purifier atau penyedot asap. "Kalau dievakuasi keluar kota juga akan menyulitkan," paparnya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Willem Rampangilei, mengakui opsi evakuasi korban kabut asap bisa diambil pemerintah, mengingat kabut asap yang semakin tebal dan membahayakan kesehatan masih terjadi di banyak daerah. Willem mengaku belum bisa memaparkan, bagaimana proses evakuasi nantinya.

Termasuk berapa jumlah warga yang akan dievakuasi. Namun, kata dia, tidak semua warga akan dievakuasi.

"Terutama kepada kelompok rentan. Kalau saya katakan rentan, itu orang hamil, anak-anak, orang-orang senior. Begitu," kata Willem.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP