TUTUP
TUTUP
FOKUS

Asap Kebakaran Hutan Mampir ke Jakarta, Perlukah Khawatir?

DKI seharusnya lebih khawatir pada kepungan asap kendaraan bermotor.
Asap Kebakaran Hutan Mampir ke Jakarta, Perlukah Khawatir?
Ilustrasi: Seorang warga Jakarta kenakan masker (VIVAnews/Fernando Randy)

VIVA.co.id - Beberapa hari belakangan ini, warna langit Jakarta agak sedikit berbeda dengan hari-hari biasanya. Langit ibu kota seperti agak tertutup oleh kabut halus, terutama di pagi hari.

Kondisi ini, terjadi akibat adanya kiriman asap dari lokasi kebakaran lahan di Pulau Sumatera dan Kalimantan.

Hal itu dibuktikan dengan hasil pencitraan satelit cuaca Himawari, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, asap mengepung sebagian wilayah di Pulau Jawa dalam ketinggian dari 3.000 meter hingga 5.000 meter dari permukaan laut.

Menurut Kepala Bidang Informasi Meteorologi Publik, Fachri Radjab, asap kiriman yang kini menyelimuti Jakarta masih sangat tipis. Karena, asap tebal terpantau saat ini hanya terkonsentrasi dan terfokus di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan lokasi kebakaran lahan.

"Update terakhir, asap yang tebal masih terfokus di sekitar wilayah Riau, Jambi dan sekitarnya," kata Fachri.

Penyebab asap kepung Jakarta


Fachri menjelaskan, asap dari kebakaran lahan sampai di wilayah Jakarta yang jaraknya ratusan kilometer bukan hal yang mengejutkan.

Karena, kondisi ini sudah terprediksi seiring dengan perubahan arah angin yang terjadi di langit Indonesia.

Jakarta masih beruntung, karena, asap justru telah menutup beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, jauh sebelum asap sampai ke jantung Pemerintahan Indonesia.

BMKG menyebutkan, asap sampai di Jakarta karena dalam beberapa waktu terakhir ini, arah angin dari wilayah Sumatera dan Kalimantan mengarah ke Pulau Jawa.

"Arah angin timur menuju barat, angin yang dari barat timur dan selatan membawa asap masuk ke Pulau Jawa,"katanya.

Dampak Asap

Sejauh ini, BMKG dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan, asap kiriman itu belum berdampak apa-apa.

Semua penerbangan dari dan menuju Jakarta dari bandar udara yang ada masih berjalan normal. Asap juga belum membahayakan kesehatan warga.

Bahkan, selimut asap di langit Jakarta belum cukup untuk mempengaruhi kondisi cuaca Jakarta.

"Hingga saat ini tidak mempengaruhi cuaca di permukaan," kata Fachri, Senin, 26 Oktober 2015.

Hal senada diutarakan, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Basuki atau akrab dipanggil Ahok itu mengatakan, mengatakan kabut asap yang tiba di Jakarta sifatnya hanya sisa-sisa dan tidak sampai ke taraf yang membahayakan kesehatan warga.

"Tingkatan kabut asapnya di sini masih sedang," ujar Ahok.

Karena bersumber dari kebakaran hutan di provinsi lain, Ahok mengatakan, untuk sementara, belum ada tindakan yang bisa diambil Pemerintah Provinsi DKI untuk menanggulangi hal tersebut.

Ahok hanya berharap upaya pemadaman yang kini tengah dilakukan pemerintah pusat lewat jalur darat dan udara bisa memberikan dampak maksimal sehingga asap bisa padam dan tidak sampai menyebar ke daerah lain.

"Kita berdoa saja supaya pesawat-pesawat bisa cepat padamkan, dan mudah-mudahan angin juga bisa bantu dorong cepat," ujar Ahok.

Antisipasi dampak asap


Maski asap kiriman itu belum berbahaya bagi warga ibu kota. Namun, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta cukup khawatir. Pasalnya, Pemprov DKI belum memiliki cara dan rencana penanggulangan dampak asap kiriman itu.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Denny Wahyu Haryanto mengatakan, Pemprov DKI baru menggelar rapat pembahasan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BMKG tentang penanggulangan dampak asap setelah asap terdeteksi masuk ke wilayah langit Jakarta.

Dari hasil pertemuan, bila keberadaan kabut asap diputuskan dapat memberi dampak langsung kepada masyarakat, barulah Pemerintah Provinsi DKI akan segera menyusun rencana penanggulangan.

"Kita akan berkoordinasi untuk menentukan kondisi asap di Jakarta. BPLHD (Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah) DKI juga akan menyampaikan datanya," ujar Denny.

Meski demikian, Denny dengan tegas mengimbau warga Jakarta tidak panik, cemas dan khawatir. "Asap masih bisa bergerak tergantung arah angin," ujar Denny.

Hal senada disampaikan Kepala Sub Bidang Informasi BMKG, Hary Tirto Djatmiko. Menurut Hary, asap tipis yang berada di ketinggian 3.000 meter di atas permukaan laut wilayah Jakarta sudah bergerak menjauhi Pulau Jawa.

"Yang hari ini dari pantauan terbaru tidak ada yang ke arah Jakarta, adanya di laut Jawa sebelah utara, tidak mengganggu aktifitas masyarakat, asap tipispun sudah bergerak ke Sumatera di bawa oleh angin," kata Hary.

Hary menuturkan, jika pun ada fenomena kabut di pagi di daratan Jakarta, dipastikan itu bukan dampak dari asap kiriman.

"Kabut kemarin fenomena biasa. Jika di bawah dingin di atas panas, harus bawah panas di atas dingin, lalu menguap," ujar dia. (ren)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP