TUTUP
TUTUP
FOKUS

Ekonomi Lagi Sulit, Pantaskah Tarif Tol Naik Lagi?

Tarif tol naik selalu beralasan demi patuhi amanah peraturan atau UU.
Ekonomi Lagi Sulit, Pantaskah Tarif Tol Naik Lagi?
Sejumlah kendaraan melintas di Tol Dalam Kota Jakarta. (VIVAnews/Muhamad Solihin)
VIVA.co.id - PT Jasa Marga Tbk, mengumumkan penyesuaian tarif di sejumlah ruas tol di Indonesia. Penyesuaian tarif ini diberlakukan mulai 1 November 2015 pukul 00.00 dan berlaku di 15 ruas jalan tol di Indonesia.

Ruas Tol tersebut adalah Ruas Tol Jakarta-Bogor-Ciawi (Jagorawi), Jakarta-Tangerang, Jalan Tol Dalam Kota Jakarta, Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta, Padalarang-Cileunyi (Padaleunyi), Semarang Seksi A-B-C, Surabaya-Gempol, Palimanan-Plumbon-Kanci (Palikanci), Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang), Belawan-Medan-Tanjung Morawa (Belmera), Serpong-Pondok Aren, Tangerang-Merak, Ujung Pandang Tahap 1 dan Tahap 2, Pondok Aren-Bintaro Viaduct-Ulujami, dan Bali Mandara.

Direktur Operasi Jasa Marga, Kristanto, Jumat, 30 Oktober 2015, mengatakan penyesuaian tarif ini adalah rutin dilakukan setiap dua tahun sekali. Menurutnya, hal ini didasari oleh Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 507/KPTS/M/2015 tentang Penyesuaian Tarif Tol pada beberapa Ruas Jalan Tol.

"Jadi, kami telah menerima surat keputusan dari Menteri PUPR. Ditandatangani menteri pada 28 Oktober 2015 lalu, tentang penyesuaian pada beberapa ruas tol, karena juga ada pasalnya di UU yang menyebutkan bahwa setiap dua tahun sekali dilakukan penyesuain tarif tol oleh BPJT (Badan Pengelola Jalan Tol)," ujar Kristanto di Kantor Pusat Jasamarga.

Dia mengatakan, penyesuaian tarif yang dilakukan berdasarkan inflasi selama dua tahun terakhir. Diperuntukkan agar Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) dapat melakukan pengembalian investasi sesuai dengan rencana bisnisnya.

Perhitungan kenaikan

Kristanto menjelaskan, inflasi yang digunakan sebagai dasar besaran kenaikan jalan tol, bukan inflasi secara nasional tapi inflasi per daerah.

"Misalnya pada tahun ini, inflasi berkisaran di sembilan sampai 15 persen. Jadi, dihitung berdasarkan itu. Jadi, sepanjang ruasnya itu ada pertimbangannnya, misalnya inflasi 14  persen, ya 14 persen (kenaikannya)," tambahnya.

Kristanto menuturkan, dari data inflasi yang dihimpun oleh pihaknya dari Badan Pusat Statistik (BPS) melalui surat No.B.153/BPS/6230/SHK/9/2015, inflasi yang menjadi patokan kenaikan tarif tol di berbagai daerah itu berbeda.

Di DKI Jakarta, misalnya, inflasi mencapai sebesar 12,51 persen. Diikuti, Bandung 10,39 persen, Cirebon 8,35 persen, Bogor 9,57 persen, Surabaya 11,35 persen, Medan 12,34 persen, Semarang 10,53 persen, Tangerang 12,89 persen, Makassar 11,89 persen, Serang 14,78 persen, Cilegon 13,02 persen, dan Bali 10,72 persen.

"BPJT sudah memproyeksikan kenaikannya sembilan sampai 14 persen," kata dia.

Jika melihat inflasi wilayah dalam 15 ruas tol tersebut, ternyata Jalan Tol Tangerang-Merak menempati peringkat inflasi tertinggi dibanding wilayah lainnya.

"Tol Tangerang-Merak, memang tol yang berada di wilayah yang laju inflasinya tertinggi," kata Direktur Operasi PT Jasa Marga Tbk, Kristanto Priambodo di Kantor Pusat Jasa Marga, Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2015.

Di temui di tempat yang sama, Direktur PT Marga Mandalasakti, Wiwiek D. Santoso, sebagai pengelola ruas tol Tangerang-Merak, mengatakan penghitungan penetapan tarif dihitung sesuai tiga wilayah yang dilewati. Ada pun yang dilewati adalah Tangerang (inflasi 12,89 persen), Cilegon (inflasi 13,02 persen), dan Serang (inflasi 14,78 persen).

"Artinya, jika dirata-rata, Tangerang-Merak inflasi yang digunakan 14,64 persen. Kemudian, disesuaikan dengan jarak panjang tol Tangerang-Merak. Perhitungannya seperti itu," kata dia.

Dari data yang dirangkum, besaran tarif tol pada jalan tol Tangerang-Merak berdasarkan jarak terjauh, untuk Golongan I Rp41.500, Golongan II Rp.57.500, Golongan III Rp.68.000, Golongan IV Rp89.500, dan Golongan V Rp108.000.
KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP