TUTUP
TUTUP
FOKUS

Nasib Sedan di Ujung Tanduk

Pabrikan hanya sediakan produk sesuai permintaan pasar.
Nasib Sedan di Ujung Tanduk
Model dan mobil di sedan di GIIAS 2015, Jakarta. (Foto: VIVA.co.id/Herdi Muhardi)

VIVA.co.id - Nasib sedan di Indonesia makin tak meyakinkan. Penjualan terus merosot dalam beberapa tahun terakhir, tak seperti mobil-mobil yang lain.

Lihat saja, sepanjang Januari-September 2015, sedan hanya terjual 15.469 unit, jauh dibandingkan 764.683 unit. Itu saja 4.952 unit di antaranya taksi. Artinya, segmen sedan penumpang tak lebih dari 2 persen dari total pasar kendaraan.

Hingga akhir tahun, pasar sedan juga diperkirakan tak bakal melampaui penjualan tahun lalu yang mencapai 22.197 unit. Padahal, tahun lalu juga pasar sedan sudah turun dibandingkan penjualan 2013 yang mencapai 34.639 unit.

Pabrikan juga sudah "putus asa" dengan penjualan sedan yang terus tersingkir ini. Mitsubishi, misalnya, dia kembali menegaskan ogah masuk lagi ke pasar sedan.

"Kami belum konsen ke situ, pasar sedan sangat kecil sekali," kata Kepala Penjualan Grup PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors Imam Choeru Cahya, Senin 2 November 2015.

Mitsubishi memilih mematikan Lancer, beberapa bulan lalu. Padahal, sedan yang kali meluncur pada 1973 ini sempat menjadi idola di Indonesia pada era 1990-an. Maklum, saat itu Lancer termasuk mobil yang cukup andal untuk balapan.

Direktur Marketing dan Layanan Purnajual Honda Prospect Motor, Jonfis Fandy, juga pernah mengatakan, tak banyak menggenjot produk sedan. Saat ini, Honda hanya menyediakan produk-produk sesuai permintaan pasar. "Kami tak punya target penjualan sedan," katanya.

Pabrikan Korea Selatan, KIA, juga mengaku menjual sedan hanya sesuai pesanan. Jika tidak ada pesanan sedan, ya jualan produk lain. "Soal harga, sedan kalah bersaing dengan yang lain," kata Direktur Marketing KIA Mobil Indonesia, Hartanto Sukmono, pada Juli.

Bahkan, pabrikan terlaris kedua, Daihatsu, juga tak mau membikin sedan. Pasar yang sepi ini lah yang jadi penyebabnya. "Kami akan membuat mobil jika penjualan bisa di atas 2.000 unit," kata Direktur Marketing Astra Daihatsu Motor Amelia Tjandara, September lalu.

Demi prestisius

Memang, sedan di Indonesia kalah pamor dibandingkan segmen mobil keluarga (MPV) atau mobil sport serbaguna (SUV). Daya tampung penumpang lah yang jadi salah satu alasan sedan tak begitu diminati.

Kondisi macam itu diperparah dengan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan produk lain. Ini lantaran dalam Peraturan Pemerintah No. 41/2013 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor, sedan masuk kategori kendaraan bermotor yang dikenai PPnBM terendah sebesar 30 persen untuk kelas mesin 1.500 cc ke bawah.

Kondisi ini jauh dibandingkan mobil-mobil biasa. Segmen lain, mobil keluarga misalnya, baru dikenai PPnBM 30 persen bila memiliki dapur pacu 3.000 cc. Pemerintah masih mempertahankan sedan sebagai lambang prestisius.

"Ini hanya terjadi di Indonesia," kata Managing Director Ford Motor Indonesia Bagus Susanto, beberapa waktu lalu. "Jadi jika Anda beli Fiesta sedan itu akan jauh lebih mahal dibandingkan Fiesta hatchback."

Memang, jika kembali melihat data yang dipaparkan Gaikindo, sumbangsih terbesar penjualan mobil di Tanah Air datang dari mobil keluarga di kelas bawah. Namun, yang memiliki tren penjualan positif justru mobil murah ramah lingkungan (LCGC).

Pengamat Otomotif Soehari Sargo yakin LCGC kian diminati, karena mobil ini menawarkan harga yang murah. Tak hanya itu, LCGC juga terkenal irit dalam hal konsumsi bahan bakar. Mobil itu kemudian dipilih sebagian masyarakat di tengah kondisi perkonomian yang melambat.

"Masyarakat Indonesia itu masih melihat mobil itu sebagai barang yang mahal. Jadi, pas ada mobil dengan harga terjangkau tentu menjadi alternatif bagi mereka," kata Soehari.

Meski penjualannya tengah naik daun, tetapi MPV dianggap masih akan terus bersinar beberapa tahun ke depan. Setidaknya, popularitas tersebut akan berlangsung hingga tahun depan.

Soehari menambahkan, selain mobil-mobil yang dirilis saat ini masih stylish, alasan ekonomis turut memengaruhi tren model mobil MPV tahun depan. "Jadi, 60 persennya masih MPV. Sisanya, diperebutkan yang lainnya," kata dia.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP