TUTUP
TUTUP
FOKUS

Teror Berdarah Paris, Peringatan bagi Dunia

Lebih dari 125 orang tewas. Pemimpin dunia pun mengecam.
Teror Berdarah Paris, Peringatan bagi Dunia
Suasana usai terjadi penyerangan di Kota Paris, Prancis, Sabtu 14 November 2015. (Reuters)

VIVA.co.id - Serangkaian serangan kelompok bersenjata disertai penyanderaan dan teror bom bunuh diri mengguncang Kota Paris, Prancis, Jumat malam, 13 November 2015. Rangkaian teror di kota mode itu terjadi di enam lokasi, yakni gedung konser Bataclan, restoran Le Pitet Cambodge, bar Le Carillon, bar La Belle Equipe, dan area sekitar Stadion Stade de France.

Berdasarkan data otoritas berwenang Prancis, korban tewas dalam insiden berdarah itu berjumlah 129 orang. Sementara itu, 352 orang luka-luka, 99 di antaranya kritis.

Rangkaian serangan itu muncul setelah pukul 21.00 waktu setempat. Diawali suara tembakan dari bar Le Carillon, di Jalan Alibert 18. Sejumlah saksi mata menyaksikan seorang pria keluar dari mobil dengan membawa senjata berat jenis Kalashnikov, dan menembakannya ke arah bar. Seketika itu, para pengunjung bar tiarap.

Pria yang menenteng senjata itu kemudian menyeberang jalan dan mengumbar tembakan secara brutal ke sebuah restoran bernama Le Petit Cambodge. Sekitar 20 orang tewas dalam aksi penyerangan orang bersenjata di wilayah ini. Polisi yang datang langsung melakukan penjagaan.

Aksi teror berlanjut sekitar pukul 21.30 waktu setempat, di wilayah utara Paris atau tepatnya area stadion utama Stadion Stade de France. Saat itu, ribuan orang tengah menyaksikan pertandingan persahabatan antara Timnas Prancis melawan Timnas Jerman. Baru 15 menit laga berjalan, terdengar suara ledakan pertama, disusul tiga menit kemudian terdengar ledakan kedua.

Presiden Prancis, Francois Hollande, yang ikut menyaksikan pertandingan tersebut, langsung dievakuasi oleh aparat keamanan keluar dari stadion. Menteri luar negeri Prancis yang ikut menyaksikan pertandingan bersama Hollande juga turut dievakuasi dan dalam kondisi aman.

Di wilayah selatan Paris, juga dilaporkan terjadi aksi penyerangan orang bersenjata di sebuah bar La Belle Equipe di Jalan de Charonne di Distrik 11, sekitar pukul 21.50 waktu setempat. Dua orang terlihat melepaskan tembakan secara brutal ke arah bar. Aksi tersebut berlangsung hanya beberapa menit, dua orang tersebut terlihat pergi menuju arah stasiun Charonne.

Aksi penyerangan paling mencekam malam itu terjadi di gedung konser Bataclan yang terjadi di Distrik 11 di Boulevard Voltaire sekira pukul 22.00. Gedung konser berdekatan dengan kantor Charlie Hebdo, yang dulu pernah diserang oleh kelompok militan.

Tiga orang bersenjata dan mengenakan jaket antipeluru melakukan penembakan di tengah-tengah konser grup musik terkenal asal California, Amerika Serikat, Eagles of Death Metal di gedung Bataclan.

Saksi mata mengatakan, orang-orang bersenjata menyandera belasan orang di gedung konser Bataclan (serangan tembakan kedua). Seorang pria bersenjata berteriak, “Ini untuk Suriah, Allahu Akbar.”

Situasi krisis ini langsung direspons cepat Presiden Hollande. Menjelang tengah malam, Hollande mengumumkan melalui televisi dan radio bahwa keadaan darurat untuk Prancis segera ditetapkan. Dia meminta kepada otoritas keamanan untuk menutup perbatasan. Selain itu, Hollande memerintahkan pasukan elitenya untuk membebaskan sandera di Gedung Bataclan.

"Prancis harus kuat melawan terorisme. Penyerang berada di Paris, ini mengkhawatirkan. Kami mengerahkan seluruh tenaga keamanan, pertemuan Kabinet akan dilakukan, militer sudah dikerahkan," kata Presiden Hollande dilansir Telegraph.

Lebih dari 100 korban tewas atas penembakan di Bataclan dan puluhan orang lainnya di lokasi berbeda di sekitar Prancis. Tiga pelaku berhasil ditembak oleh polisi di lokasi kejadian. Situasi di Kota Paris menjelang Sabtu dini hari, 14 November 2015, masih mencekam. Beberapa tembakan masih terdengar sekitar pukul 00.30.

Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mengaku bertanggung jawab atas tragedi berdarah yang terjadi di Paris. Mereka menyatakan telah membuat badai di negara tersebut. Mereka menyatakan melakukan serangan dan teror di enam titik terkoordinasi yang mengguncang ibu kota Prancis tersebut. Pernyataan itu dikeluarkan ISIS pada Sabtu, 14 November 2015.

Mereka menegaskan, penyerangan tersebut sebagai reaksi keras dari serangan udara yang dilakukan Prancis terhadap kelompok militan tersebut. Dalam pernyataan itu, ISIS juga memperingati Prancis bahwa negara tersebut tetap menjadi target utama mereka.

"Kami mengirim mereka (pelaku) dengan dibekali rompi peledak dan membawa senjata untuk melakukan serangan," ujar pernyataan ISIS seperti dilansir dari Express.co.uk, Sabtu 14 November 2015. [Baca: ISIS: Serangan di Paris untuk Ajari Prancis]


Siap Perang


KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP