TUTUP
TUTUP
FOKUS

Fenomena Cinta Sejenis di Kota Penyangga Jakarta

Perubahan perilaku tidak terlepas dari gaya hidup.
Fenomena Cinta Sejenis di Kota Penyangga Jakarta
Ilustrasi (Mirror.co.uk)

VIVA.co.id - Baru-baru ini Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Depok melansir data terbaru terkait peningkatan perilaku seks menyimpang di kota penyangga ibu kota itu.

Data terbaru yang dimiliki KPA Kota Depok menyebutkan, khusus untuk pelaku cinta sesama jenis atau lelaki suka lelaki (LSL) jumlahnya diperkirakan sudah mencapai 5.791 orang.

"Angka ini cenderung meningkat dari jumlah sebelumnya sebanyak 4.932 LSL pada tahun 2014 lalu. Meningkatnya angka ini tidak terlepas dari posisi Depok sebagai penyanggah ibu kota. Untuk tahun ini sampai dengan bulan Agustus, estimasi angkanya sekitar 5.791," kata Sekretaris KPA Kota Depok, Herry Kuntowo, Senin lalu.

Ironinya, dari ribuan LSL yang terdeteksi, tak sedikit dari mereka yang masih berusia pelajar.

Uniknya, pelaku perilaku seks menyimpang kaum lelaki ini, dapat dengan mudah ditemukan di pusat keramaian kota seperti mal. Karena, selama ini mal dianggap sebagai salah satu tempat yang nyaman bagi mereka untuk berinteraksi.

Seiring meningkatnya perilaku seks yang menyimpang, angka ODHA di Kota Depok pun ikut merangkak naik. Tahun 2014 tercatat, ada sekitar 426 ODHA, dan di tahun ini mencapai 488 kasus dengan 27 orang di antaranya meninggal dunia.

Namun, sebenarnya, menurut Sosiolog Universitas Indonesia, Devi Rahmawati, pelaku seks sesama jenis itu tak hanya ada dan terus berkembang di perkotaan seperti Depok saja.

Jumlah pelaku seks menyimpang itu, juga telah menjangkit hingga ke masyarakat di wilayah nan jauh dari perkotaan. Karena bagi mereka, perilaku itu adalah bagian dari gaya hidup yang mudah ditiru dan diperkenalkan secara meluas.

"Dengan banyaknya teknologi, potensi orang mengikuti gaya hidup demikian meluas, bukan berarti di kota. Teknologi yang telah membuat marketing idelogi menjadi masif," ujar Devi kepada VIVA.co.id, Selasa 17 November 2015.

Menurut Devi, banyak hal yang menyebabkan jumlah LSL di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Terutama karena semakin banyak gaya hidup menyimpang itu yang diperlihatkan di media. "Dulu didiskriminasi, kalau sekarang sudah dipamerkan di media, jadi mereka meniru," ujar Devi.

Faktor Pemicu 

Devi mengatakan, sudah banyak dan cukup panjang riset dilakukan untuk mengetahui faktor penyebab seseorang mengikuti gaya hidup seks menyimpang itu.

Seperti faktor genetika, karena ada bagian fisik tertentu pada seseorang membuat orang tersebut memiliki kecenderungan orientasi seks yang berbeda.

"Ada juga yang menemukan, tumbuh kembang seseorang mempengaruhi seksual mendatang. Misalnya, jika berada di kondisi mencekam," ujar Devi.
 
Selanjutnya, faktor sosial juga bisa mendorong seseorang yang tadinya normal menjadi ikut atau terlibat langsung dalam gaya hidup kaum LSL.

Menurut Devi, ketika semua orang merasa biasa saja, maka orang biasanya lebih maklum. Tapi, kalau di masa lalu, karena memang secara sosial tidak memperkenankan kehadirannya karena perbedaan tertentu, orang tersebut cenderung akan menekan untuk tampil di masa mendatang.

Dan, beberapa tahun belakangan ini, semangat untuk tampil itu semakin menguat seiring dengan gencarnya produksi budaya barat yang memarketingkan ideologi baru.

"Apa yang ditampilkan di televisi itu menjadi kebenaran. Jika ada yang mengkonsumsi jadi bukan hal yang memalukan lagi," katanya.

Faktor pemicu meningkatnya kaum gay lainnya ialah gaya hidup. Menurut Devi, ada profesi tertentu yang menerimajenis kelamin atau orientasi tertentu. Jika pun tidak memiliki orientasi tersebut, maka secara otomatis dia akan beradaptasi dengan kebiasan di profesi itu.

"Ketika sudah menjadi bagian hidupnya, tidak membuat terpinggirkan, akhirnya dia lakoni untuk kehidupan masa akan datangnya," ujar Devi.

Kenali untuk Mencegah

Kehadiran perilaku seks sesama jenis ini tak hanya amat ditentang di Indonesia saja, di negara maju yang memiliki tingkat kemajemukan masyarakat cukup tinggi seperti Amerika pun, kaum atau kelompok berperilaku seks menyimpang ini menuai pro dan kontra.

"Di Amerika masih terbelah tidak semua menerima kelompok-kelompok yang pernikahan sesama jenis, kalau di Indonesia, gejalanya sama, ada yang menerima dan tidak. Tapi kelompok yang pro dan kontra, tetap harus menjalin harmonisasi," kata Devi.

Devi mengatakan, untuk menghindari perilaku menyimpang itu, sudah sebaiknya para orang tua mulai menanamkan ideologi seks normal kepada anak sedari kecil.

Namun, para orang tua diharapkan untuk tidak menanamkan ideologi itu kepada anak secara ekstrem. "Ideologi jangan diajarkan secara ekstrem sewaktu kecil, itu membuat ideologi anak hanya imitasi," kata Devi.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP