TUTUP
TUTUP
FOKUS

Indonesia Jadi 'Medan Perang' Bisnis 4G LTE

Teknologi ini jadi mainan seksi bagi para operator telekomunikasi RI.
Indonesia Jadi 'Medan Perang' Bisnis 4G LTE
Uji coba jaringan 4G LTE di Denpasar, Bali, beberapa waktu lalu.  (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)

VIVA.co.id - Jalan panjang penataan (refarming) 4G Long Term Evolution (LTE) pada frekuensi 1800 MHz akhirnya selesai. Per 16 November 2015, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyatakan penataan frekuensi itu tuntas. Kominfo mengatakan penataan yang dilakukan secara bertahap sejak Mei 2015 relatif berjalan lancar tanpa hambatan.

Penataan blok frekuensi pada 1800 MHz akhirnya membuat blok milik operator di frekuensi ini menjadi rapi, tak terpisah-pisah lagi. Dengan demikian akan memaksimalkan layanan koneksi internet yang lebih cepat.
Sebelumnya dengan posisi blok yang tidak berdampingan, akan rawan dengan gangguan yaitu interferensi, yang mana akhirnya bisa berdampak pada performa layanan.

Dengan posisi blok yang sudah rapi tersebut, juga akan makin mendukung penyediaan layanan 4G LTE bagi pelanggan operator. Rampungnya menataan itu juga menandai operator yang menempati frekuensi ini, yaitu Hutchison 3 Indonesia (Tri), Indosat, Telkomsel dan XL Axiata sudah diperbolehkan untuk mengomersialisasi layanan 4G pada frekuensi 1800 MHz secara nasional.  

"Alhamdulillah, untuk refarming 1.800 MHz sudah beres semua. Tidak ada fallback," ujar Menkominfo Rudiantara.

Bicara penggunaan frekuensi 4G LTE sebenarnya sudah dilakukan sejak pada frekuensi 900 MHz yang mulai resmi komersilkam layanan sejak Oktober tahun lalu. Namun para operator memang mengincar komersialisasi 4G LTE pada frekeunsi 1800 MHz, alasannya frekuensi ini paling seksi.

Misalnya untuk kecepatan akses internetnya, pada frekuensi 900 MHz masih kalah dengan 3G karena lebar pita pada frekuensi 900 MHz hanya 5 MHz. Sementara di 1800 MHz lebar pitanya mencapai 75 MHz, yang mana kecepatan akses internet bisa menembus 100 Mbps.

Dalam ekosistem global, frekuensi 1800 MHz merupakan salah satu frekuensi yang populer digunakan untuk menggelar layanan 4G LTE. Sebab saat ini ketersediaan ponsel pintar dengan antena yang mendukung 4G LTE pada 1800 MHz sudah banyak. Tak hanya itu, dari segi harga, ponsel yang berjalan pada 1800 MHz sudah cukup beragam mulai dari yang terjangkau sampai yang mahal.

Pertimbangan lain frekuensi ini seksi, karena  karena operator seluler di Indonesia memiliki sumber daya frekuensi yang besar di spektrum tersebut. Tercatat XL dan Telkomsel masing-masing mempunyai sumber daya seluas 22,5 MHz, Indosat 20 MHz, sedangkan Tri yang paling kecil, 10 MHz.

"Dengan sumber daya yang cukup besar ini, mereka seharusnya bisa memberikan layanan akses Internet cepat yang baik kepada pelanggan," kata Rudiantara.

Jika menilik sumber daya pada frekuensi 900 MHz yang digelar sebelumnya, terlihat sangat terbatas. Sebab secara alokasi frekuensi, hanya diisi oleh tiga operator yaitu Indosat dengan sumber daya 10 MHz, Telkomsel dan XL masing-masing punya 7,5 MHz.

Babak baru layanan 4G LTE setelah penataan 1800 MHz makin membuka persaingan antaroperator untuk menggaet pelanggan mereka.

Terlebih jika menambah pemain 4G LTE pada frekuensi lain yaitu di 850 MHz yang dihuni oleh Smartfren serta frekuensi 2,3 MHz yang dihuni oleh Smartfren dan Internux dengan brand Bolt-nya.

Jurus operator

Menyambut tuntasnya penataan di 1800 MHz, Telkomsel mengaku akan terus menggenjot jumlah pelanggan 4G-nya. Meski belum mengomersilkan layanan 4G LTE 1800 MHZ di Jakarta, tapi operator seluler anak usaha Telkom ini sudah memiliki 1,8 juta pelanggan yang menggunakan jaringan generasi keempat itu. Memang masih kecil sebab, pelanggan itu berasal dari kota yang sudah rilis layanan 4G LTE di 1800 MHz yaitu Jakarta, Bali, Bandung Medan, Surabaya, Makassar, Lombok, Manado, Batam dan Yogyakarta.

Sementara XL tak mau kalah menggaet pelanggan 4G. Operator ini sudah meninggalkan Telkomsel usai penataan 1800 MHz. XL sudah mengomersilkan layanan generasi keempat itu di ibukota Jakarta.

Untuk posisi pelanggan 4G, operator yang sudah mengakuisisi Axis itu mengklaim punya 3 juta pelanggan, angka itu mencapai target perussahaan pada Maret 2015.

Namun Vice President LTE XL, Pantro Pander Silitonga mengatakan tidak kesemuannya benar-benar menggunakan 4G LTE XL. Disampaikannya, jumlah pelanggan tersebut berhasil dideteksi berdasarkan jumlah handset hingga kartu SIM yang dideteksinya.

Angka tiga juta adalah total dari jumlah handset 4G, kartu SIM 4G dan migrasi. Jika angka pasti pelangganya yang benar-benar 4G, XL mengatakan angkanya di bawah satu juta pelanggan.

Untuk pelanggan 4G, Smartfren menyebutkan saat ini sudah mencapai 400 ribu dari total pelanggan Smartfren 12 juta. Operator ini manargetkan jumlah pelanggan 4G jadi 1,5 juta pada akhir tahun ini.

Sedangkan pelanggan Bolt, ditargetkan akan menjadi 2,5 juta pelanggan, yang mana pada saat ini masih memiliki 1,5 juta pelanggan.

Dengan banyaknya pemain dalam layanan 4G itu, para operator pun sudah memasang 'kuda-kuda' dan siasat agar bisa menggaet pelanggan sesuai target.

Telkomsel mengaku mengiming-imingi pelanggan mereka dengan pengalaman layanan 4G  yang berbeda.

“Yang kami tawarkan pada pelanggan adalah layanan 4G LTE yang cepat, memiliki cakupan jaringan terluas, simpel dan mudah dalam penggunaan, dipercaya oleh 1,8 juta pelanggan, dan memiliki beragam konten atau aplikasi berkualitas,” ujar Senior Vice President LTE Project Telkomsel, Hendri Mulya Sjam dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 17 November 2015.

Saat ini, layanan Telkomsel 4G LTE didukung oleh lebih dari 1300 eNode B (BTS 4G) yang akan memberikan koneksi yang cepat, stabil, merata, dan tidak hanya hadir di hotspot tertentu.

Selain itu Telkomsel juga telah bekerja sama dengan berbagai operator utama dari 30 negara di 5 benua untuk International Roaming 4G LTE. Ini yang pertama dilakukan operator di Indonesia.

Menanggapi persaingan layanan 4G LTE tersebut, PT Smartfren Telecom Tbk (Smartfren) yang sudah terlebih dahulu menggelar layanan 4G LTE di 22 kota di Tanah Air, mengatakan akan siap bersaing dengan keempat operator tersebut.

Anak usaha Sinar Group ini mengandalkan cakupan layanan 4G-nya yang sudah cukup luas, yaitu di 22 kota besar, serta jaringan 4G yang disebutkan sudah mencakup 80 persen total cakupan wilayah Indonesia.

Direktur Smartfren, Roberto Saputra mengatakan perusahaannya akan menambah kapasitas layanan di kota besar agar agar jaringan generasi keempat yang dihadirkan Smartfren berjalan dengan stabil. Penambahan kapasitas ini berlaku untuk satu spektrum dari dua yang dimiliki Smartfren.

"Kami akan tambah kapasitas di 2300 MHz, karena memang frekuensi itu dipakai untuk kebutuhan trafik tinggi, terutama di kota-kota besar, seperti salah satunya di Jakarta. Wilayah Jakarta dan sekitarnya pemakaian datanya mencapai 50 persen," ucapnya.

Siasat lain yang dijalani Smartfren yaitu membuka bundling dengan Open Market Handset (OMH), misalnya menggandeng Samsung, dan tak lagi mengandalkan ponsel buatan Andromax.

Sedangkan XL sudah ambil langkah cepat dengan mengincar blok frekuensi di 2,1 GHz. Seperti diketahui, pada pita frekuensi 2,1 GHz terdapat kanal kosong, yakni di blok 11 dan 12 sepeninggal dari Axis. Lebar pita kedua blok itu sebesar 10 MHz.

"Kalau ditanya soal blok kosong 2,1 GHz, kita pasti tertarik. Tetapi, kita belum tahu blok kosong tersebut apakah akan dilelang atau beauty contest," ujar Presiden Direktur dan CEO XL Dian Siswarini.

ketertarikan pihaknya untuk menguasai kanal 11 dan 12 karena perusahaannya akan mencanangkan metode carrier aggregation dengan menggabungkan tiga spektrum, guna memberikan kualitas layanan akses internet bagi pelanggannya.

"Kalau kita semakin kuat di 2,1 GHz kita ingin carrier aggregation di tiga spektrum berbeda, yakni di 900 MHz, 1800 MHz, dan 2,1 GHz," ucapnya.

Diketahui, pada pita frekuensi 2,1 GHz diisi oleh empat operator, yaitu Hutchinson 3 (Tri), Telkomsel, Indosat, dan XL. Di spektrum tersebut terdapat 12 blok kanal sebesar 60 MHz, yang mana masing-masing blok memiliki lebar pita 5 MHz.

Bila dipaparkan lebih lanjut lagi, Tri menempati blok 1 dan 2 (10 MHz), Telkomsel di blok 3, 4, dan 5 (15 MHz), Indosat di blok 6 dan 7 (10 MHz), serta XL di blok 8, 9 dan 10 (15 MHz). Sementara pada blok kanal 11 dan 12 masih kosong sepeninggalnya Axis yang diakuisi oleh XL pada tahun 2014 lalu. Dua blok tersebut dikembalikan kembali ke pemerintah.

Pola pikir keliru

Saat persaingan di kompetisi 4G LTE sudah digaungkan, namun ada catatan yang bisa dibilang ironis. Pelanggan 4G LTE sejauh ini belum memaksimalkan akses internet yang lebih baik pada jaringan generasi keempat tersebut.

Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) mengatakan teknologi 4G LTE tidak dimanfaatkan dengan baik oleh para penggunanya. ATSI menilai pengguna lebih senang 'bermain' dengan media sosial, ketimbang untuk hal yang bermanfaat.

Pola pikir pengguna mengenai teknologi 4G LTE itu selalu‎ terpaku pada kecepatannya, bukan soal kegiatan yang lebih positif pada hal yang berbau kreatif.

"Sebagian besar pengguna, yang terlintas mengenai 4G, bisa main Facebook lebih cepat, browsing lebih lancar. Miris, kalau mindset itu yang digunakan oleh masyarakat. 4G itu kesempatan luar biasa tinggi dibandingkan 3G," ujar Sekjen ATSI, Merza Fachys, Senin 16 November 2015.

Padahal kemunculan 4G LTE bisa makin bermanfaat dengan dorongan dua sisi. Pertama operator bertugas menghubungkan masyarakat dengan koneksi internet yang lebih baik, sedangkan operator mengharapkan muncul pemain kreatif yang memanfaatkan jaringan gerenasi keempat tersebut.

"Apa saja yang belum tersentuh bisa dilakukan dengan memanfaatkan 4G," ungkap Merza.

Internet, dikatakannya, akan menumbuhkan tren-tren baru di kehidupan masyarakat. Salah satunya yang akan dialami seperti Internet of Things (IoT), yang mana semua perangkat yang digunakan terhubung dengan dunia maya.

IoT, kata dia, memungkinkan pelaku kreatif bisa makin luas memanfaatkan potensi dengan perangkat yang terkoneksi. Sementara menurutnya 4G akan memudahkan kehidupan pelaku kreatif.

"Misalnya, ada pekerjaan yang biasanya dilakukan selama dua‎ jam dengan menggunakan 4G bisa dilakukan 15 menit. Artinya, itu ada value karena menghemat pekerjaan kita hingga satu jam lebih," tuturnya.

Haus data

Sementara pemanfaatan 4G masih hanya untuk 'main-main', ternyata sejak 4G tercatat pengguna makin 'haus' data. Artinya makin banyak pengguna yang memakai data untuk hanya kebutuhan 'mainan' saja.

Senior Vice President LTE Project Telkomsel, Hendri Mulya Sjam, mengungkapkan data pelanggan Telkomsel menunjukkan sejak 4G LTE dibuka pada akhir tahun lalu, terjadi kenaikan penggunaan data. Dari sebelumnya pelanggan 3G konsumsinya rata-rata 1,4 GB per pengguna dalams ebulan menjadi 3,2 GB per pengguna dalam sebulan.

Konsumsi data tersebut, papar Hendri, kebanyakan digunakan untuk menikmati konten video, game online, musik streaming, dan media sosial, hingga aplikasi pesan instan. Hal ini menguatkan temuan ATSI.

Dalam rangka mendukung ekosistem LTE ini, Kominfo bersama kementerian lain yaitu Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan telah menandatangan aturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), sehingga semua handset bisa mencicipi teknologi baru tersebut.

Ia pun berharap dengan aturan TKDN dapat menekan harga jual ponsel 4G yang masih terbilang mahal. Dikatakan Rudiantara, ia ingin harga satu perangkat 4G berkisar pada harga Rp1 jutaan.

Dampak aturan TKDN itu sudah terasa, telah terjadi penurunan impor ponsel berbasis 4G.

Sejauh ini, Indonesia adalah negara dengan populasi pengguna telepon seluler yang sangat besar. Ini terlihat dari tingginya nilai impor telepon seluler yang mencapai 60 Juta unit pada 2014.

“Untuk tahun ini, sampai dengan September 2015 tercatat 26 juta unit. Ini menunjukkan jumlah importasi telepon seluler sudah mulai digantikan dengan hasil produksi dalam negeri,” ujar Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin, I Gusti Putu Suryawirawan. (ren)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP