TUTUP
TUTUP
FOKUS

Teknologi Canggih, Teroris Makin Gigih

Banyak platform teknologi digunakan untuk teror terkoordinasi.
Teknologi Canggih, Teroris Makin Gigih
Ilustrasi penggunaan platform teknologi. (allpinoynews)

VIVA.co.id - Usai serangkaian serangan ISIS di Paris, yang mengakibatkan 129 orang tewas dan 300 lainnya luka-luka, membuat banyak pihak meyakini jika ISIS menggunakan koordinasi yang canggih untuk bisa merencanakan itu semua.

Namun, teknologi bagaimana dan apa yang digunakan masih menjadi tanda tanya hingga saat ini. Yang jelas, para ahli keamanan siber yakin jika ISIS menggunakan banyak platform teknologi untuk merencanakan teror yang terkoordinasi ke negara-negara yang dituju di seluruh dunia.

Salah satu yang paling meyakinkan adalah penggunaan platform komunikasi yang terenkripsi. Ini merupakan hal yang sangat mungkin digunakan, mengingat sangat sulit untuk melacak ataupun bekerja sama dengan pemilik platform karena tak adanya kunci pembuka enkripsi.

Tidak heran jika kemudian perdebatan mengenai enkripsi platform komunikasi kembali menggema. Di satu sisi, enkripsi komunikasi bisa mencegah tragedi seperti ini. Namun, di sisi lain akan mengganggu privasi pengguna dan melanggar netralitas internet.

Yang terbaru, mantan Direktur CIA, James Woolsey, menumpahkan kesalahan pada mantan kontraktor NASA yang juga menjadi whistleblower, Edward Snowden. Dilansir melalui Arstechnica, Kamis, 19 November 2015, Woolsey menganggap Snowden telah membocorkan kepada publik, termasuk kepada teroris, cara-cara dan kemampuan mata-mata yang dimiliki badan intelijen Amerika dan dunia.

Tidak heran jika kini kemampuan komunikasi dan perencanaan yang dilakukan teroris sulit untuk dilacak oleh badan intelijen tersebut.

“Edward Snowden ‘memiliki darah di tangannya’.  Dia yang ‘membuka pintu’ bagi para teroris untuk mengetahui cara kerja badan intelijen dunia. Salah satu risiko yang ditimbulkan Snowden, Amerika dan Prancis tidak bisa melacak perencanaan teror dan menghentikan tragedi di Paris,” ujar Woolsey.

Namun, tuduhan ini sepertinya berlebihan. Sebab, penggunaan komunikasi yang terenkripsi sudah lama dilakukan oleh para teroris, tidak hanya ISIS. Kebanyakan mereka menggunakan berbagai macam kriptografi.

Misalnya pada 1990an, Al Qaeda diduga menggunakan berbagai macam bentuk enkripsi untuk menyembunyikan file untuk menyebar informasi di berbagai situs, termasuk penggunaan file terenkripsi yang dibawa melalui CD dan USB oleh para kurir.

Untuk membuka dokumen tersembunyi, mereka menggunakan steganografi, atau seni penyembunyian pesan ke dalam pesan lainnya yang dilakukan sedemikian rupa, sehingga orang lain tidak menyadari. Organisasi teroris itu biasanya meletakkan pesan tersembunyi pada video porno di situs, ketimbang harus menggunakan email.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP