TUTUP
TUTUP
FOKUS

Melacak Target Baru Teror ISIS

Benua Eropa tetap menjadi target empuk.
Melacak Target Baru Teror ISIS
Menara Eiffel menyala dengan warna biru, putih dan merah yang melambangkan bendera Perancis di Paris, Prancis, 16 November, 2015. (Reuters/Benoit Tessier)
VIVA.co.id - Paris telah diguncang tragedi berdarah tepat pada satu pekan lalu. Pada Jumat, 13 November malam, kota dengan ikon Menara Eiffel itu diterjang teror di empat lokasi berbeda dan menyebabkan 129 orang tewas. 

Kendati peristiwa tersebut sudah sepekan berlalu, namun ancaman akan adanya teror serupa di negara lain, termasuk di Prancis sendiri, belum hilang. Bahkan, usai serangan itu berhasil menimbulkan ketakutan, kelompok Islamic State of Iraq and al Sham (ISIS) yang mengklaim sebagai dalang, kian semangat menyebar teror. Setidaknya empat negara terbukti masuk dalam daftar yang akan disasar ISIS usai Paris. 

Laman Express, Kamis, 19 November 2015 melansir kelompok pimpinan Abu Bakr al-Baghdadi itu sempat sesumbar melalui akun Twitter, London akan menjadi target teror selanjutnya. Ibukota Inggris itu diketahui juga pernah menjadi target serangan terorisme pada Juli 2005 lalu. Saat itu, sebanyak 52 pengguna kereta bawah tanah tewas dalam serangan bom yang dilakukan oleh kelompok ekstrimis dan terkait Al-Qaeda. 

Tetapi, pejabat berwenang di Inggris mengaku telah bekerja tanpa kenal lelah untuk mencegah ISIS melakukan aksi serupa. Pada bulan lalu, Kepala Badan Intelijen Inggris, MI5, Andrew Parker, mengakui petugas keamanan memang tidak yakin mampu menghentikan semua rencana teror di Negeri Ratu Elizabeth II itu. 

Namun, dalam cuitan lainnya, kelompok tersebut turut menyebut adanya dua ibu kota lainnya yang akan mereka serang, yakni Roma dan Washington DC. 

Soal ancaman untuk menyerang Washington DC, bahkan telah disampaikan ISIS melalui pesan video. Stasiun berita Channel News Asia, Selasa, 17 November 2015 melaporkan dalam video yang diunggah ISIS ke dunia maya diberi judul "kampanye perang suci". 


Pria yang bernama Al Ghareeb dan berasal dari Aljazair bertindak sebagai pembawa pesan. 

"Kami mengatakan, negara-negara yang ikut serta dalam kampanye perang suci, maka oleh Tuhan, kalian akan memiliki satu hari, dengan restu Tuhan, seperti yang terjadi di Prancis dan oleh Tuhan, ketika kami menghancurkan Prancis di pusat kota seperti Paris, maka kami bersumpah akan menyerang Amerika di pusat kotanya di Washington DC," kata pria itu. 

Al Ghareeb memperingatkan pemerintah negara barat, termasuk Amerika Serikat, mereka sudah sangat siap untuk melancarkan serangan lain ke sana. 

"Saya katakan negara-negara Eropa, kami datang, datang dengan sejumlah jebakan dan alat peledak. Kami datang dengan ikat pinggang peledak, peredam senapan dan kalian tidak akan sanggup menghentikan kami hari ini, karena kami jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya," kata dia.

Rencana lain yang sudah dieksekusi namun gagal menebar teror yakni di Jerman. Laman Mirror, Kamis, 18 November 2015 melansir kelompok teroris dari sel Afrika Utara berencana menyerang kota Hanover dengan menggunakan senjata penyerang dan rompi bom bunuh diri. Metode tersebut juga digunakan oleh teroris dalam serangan di Paris.

Informasi itu disampaikan oleh pejabat intelijen Prancis kepada mitra mereka, Jerman sebelum serangan terjadi. Berdasarkan bocoran informasi yang diterima Jerman, para teroris kemungkinan akan menyerang stadion sepak bola HDI Arena, di mana akan digelar pertandingan persahabatan antara tim Jerman dan Belanda. 

Harian Jerman, Bild, menyebut para teroris akan menggunakan kendaraan dengan akses resmi untuk masuk ke stadion seperti mobil ambulans, mobil van kru televisi atau kendaraan patroli keamanan, agar bisa menyelundupkan alat peledak. Rencana akhir mereka, bom akan diledakan tepat di tengah pertandingan persahabatan itu. 

Terlebih banyak pejabat tinggi Jerman, termasuk Kanselir Angela Merkel yang telah memastikan diri untuk ikut menonton pertandingan itu. Usai melakukan pemeriksaan, menurut laporan harian lokal, Kreiszeitung, petugas keamanan menemukan mobil ambulans yang telah dipenuhi alat peledak dan diparkir di luar stadion. 

Polisi pun langsung mengambil langkah pencegahan. Mereka langsung mengosongkan stadion HDI Arena yang sanggup menampung 49 ribu penonton. Kendaraan yang seolah-olah menyerupai ambulans dan penuh dengan alat peledak itu pun dibawa menjauhi stadion. 

Peringatan akan adanya teror di Hannover disebarluaskan polisi. Saat proses evakuasi berlangsung, sebuah jalan terpaksa diblokir polisi. 

Pertandingan persahabatan yang semula digelar Kamis malam kemarin akhirnya batal. Polisi lokal meminta kepada para fans untuk secepatnya pulang tanpa merasa panik. Tetapi, mereka meminta agar para fans berjalan kaki pulang ke rumah dan tidak menggunakan kereta. Sebab, jalur utama kereta api ditutup untuk kepentingan penyelidikan. 

Kanselir Merkel yang semula berniat menonton, membatalkan niatnya usai dikabari otoritas berwenang. Kelompok musik, Soehne Mannheims yang semula dijadwalkan mengisi konser usai pertandingan juga diminta meninggalkan stadion. 

Para staf yang membawa makanan diminta untuk meninggalkan mantel mereka dan keluar stadion, sedangkan jurnalis dilarang masuk. Walikota Hannover, Stefan Schostok, mengatakan kepada harian Bild, upaya tersebut diperlukan, sebab keselamatan menjadi prioritas utama mereka. 

Sementara, Menteri Dalam Negeri Jerman, Thomas de Meizere menolak untuk memberikan jawaban soal adanya teror di Hannover. 

"Jawaban dari pertanyaan ini malah akan menimbulkan keresahan di muka publik," kata de Meizere. 

Selain ancaman teror ke tempat umum, para teroris juga kerap menyasar pesawat penumpang sipil sebagai target. Sebelumnya, mereka berhasil melakukan teror serupa ke pesawat Airbus A321 maskapai Metrojet 9268 yang terbang dari Mesir menuju ke St. Petersburg, Rusia. ISIS mengklaim ada sebuah bom yang ditanam di bawah kursi penumpang. 

Alhasil, baru saja mengudara selama 23 menit, pesawat meledak dan menewaskan 224 penumpang. 

Setidaknya ancaman serupa terjadi pada tiga pesawat penumpang. Dua pesawat pertama merupakan maskapai Prancis, Air France, yang terpaksa mendarat darurat Rabu malam kemarin di Salt Lake City, Amerika Serikat dan Halifax, Kanada, karena adanya ancaman bom di pesawat.  Namun, usai kedua pesawat diperiksa oleh otoritas berwenang, tidak ditemukan bom di sana. 

Sehari sesudahnya, ancaman serupa menghampiri pesawat penumpang yang lepas landas dari Warsawa, Polandia. Pesawat tujuan resor Hurghada, Mesir, terpaksa mendarat darurat di kota di tepi Laut Hitam, Burgas, Bulgaria. Tetapi, usai dilakukan pemeriksaan, lagi-lagi ancaman itu hanya pepesan kosong. Namun, di satu sisi berhasil menciptakan kepanikan di diri penumpang. 

Selanjutnya mengapa Eropa?...

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP