TUTUP
TUTUP
FOKUS

Saat Tepat Beli Emas

Harga emas dunia anjlok ke titik terendah.
Saat Tepat Beli Emas
Ilustrasi Emas Batangan (VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar)
VIVA.co.id - Emas kembali diperdagangkan melemah. Harga emas acuan dunia ditutup anjlok pada penutupan perdagangan Senin waktu New York.

Hal itu, dikutip pada laman CNBC, Selasa, 24 November 2015, dipicu oleh menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap mata uang mitra dagang utamanya yang terdorong oleh optimisme pasar bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunganya pada Desember tahun ini. 

Harga emas di pasar spot anjlok 0,7 persen ke level US$1.069,61 per ons, ke level terendah sejak Februari 2010. Sementara itu, harga emas berjangka untuk pengiriman Desember di Divisi COMEX New York Mercantile Exchange juga melemah 0,9 persen ke level US$1.066,8 per ons.

Tak hanya harga emas global, di dalam negeri, Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia PT Antam Tbk juga melaporkan harga emas batangan pada transaksi kemarin, Selasa, 24 November 2015, bergerak turun.

Harga emas batangan Antam dijual Rp548 ribu untuk ukuran satu gram, atau turun Rp1.000 dibandingkan level Rp549 ribu per gram pada perdagangan Senin kemarin.

Sedangkan emas ukuran lima gram dilepas dengan harga Rp2,59 juta, ukuran 10 gram Rp5,14 juta, ukuran 25 gram Rp12,77 juta, ukuran 50 gram Rp25,5 juta, dan ukuran 100 gram dijual Rp50,9 juta. Adapun harga beli kembali (buyback) emas Antam hari ini dipatok pada level Rp472 ribu per gram atau turun Rp2.000 dibanding perdagangan sebelumnya.

"Pasar emas saat ini hanya menyoroti pergerakan kurs dolar AS dan rencana kenaikan suku bunga AS," kata Chintan Karnani, Analis Pasar Insignia Consultants, seperti dikutip di laman Marketwatch.

Harga emas, kata Karnani, seharusnya bisa saja bergerak melonjak jika ada investor yang melakukan profit-taking dalam jangka pendek. Sayangnya, saat ini sebagian investor kurang tertarik membeli emas, sehingga harganya pun melemah.

Pernyataan Presiden Federal Reserve San Francisco, John Williams, pada akhir pekan lalu memudarkan kilau emas. Dia menegaskan, bank sentral AS akan menaikkan suku bunganya pada Desember.

Pembahasan kenaikan suku bunga The Fed untuk pertama kalinya sejak pergulatan krisis keuangan pada 2008, akan dilakukan pada pertemuan kebijakan pada awal Desember.

The Fed berencana akan menaikkan suku bunganya secara bertahap, sembari melihat dampak ekonomi dan antisipasi apa yang dilakukan dari kenaikan suku bunga tahap pertama ke tahap selanjutnya. 

Pernyataan itu langsung mendorong kurs dolar AS menghijau terhadap mata uang sejumlah mitra dagang utamanya. Menguatnya dolar AS pun langsung membebani harga komoditas berdenominasi dolar AS, seperti logam mulia.

"Pernyataan petinggi The Fed itu menjadi pemicu utama kurs dolar AS langsung lebih tinggi," kata Valentin Marionov, Kepala Strategi Mata Uang Credit Agricole.

Menurutnya, kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve bisa membuat kurs dolar AS semakin perkasa ke level tertinggi baru. Hal itu dipastikan membuat harga komoditas langsung memudar.

ICE dolar AS indeks pada Senin kemarin menyentuh level 100, level tertinggi sejak Maret 2015. Pernyataan Gubernur Bank Sentral Eropa, Mario Draghi, yang memberikan isyarat adanya stimulus moneter di zona euro juga mendukung penguatan kurs dolar AS.

Aset safe haven

Seperti diketahui, emas sejak dahulu kala memang begitu dibanggakan dan dianggap berharga. Seiring perkembangan zaman, emas kemudian dijadikan sebagai salah satu alat investasi yang digemari banyak masyarakat.

Logam mulia ini dipercaya investor sebagai aset yang memiliki harga tinggi. Emas juga dianggap sebagai safe haven, yakni aset yang mampu menjaga nilainya atau bahkan menguat meskipun kondisi ekonomi tidak stabil.

Kepercayaan itu tentu tak lepas dari kinerja emas yang dari tahun ke tahun menunjukkan kenaikan. Emas dinilai menjadi investasi yang aman dan tidak tergerus inflasi. 

Namun, Direktur Eksekutif Institute National Development and Financial (Indef), Enny Sri Hartati, mengatakan sayangnya saat ini harga emas tersandera rencana kenaikan suku bunga AS. Kilaunya jadi semakin memudar. Emas seolah sudah kekenyangan dianggap sebagai investasi yang memberikan keuntungan menggiurkan.

“Saat ini, tren harga komoditas memang sedang menurun, seperti emas dan minyak. Kecenderungannya memang permintaan emas global turun. Tak seperti komoditas yang lainnya, pemicu naik turunnya harga emas itu spesifik. Salah satunya, karena emas juga digunakan sebagai cadangan devisa setiap negara,” ujar Enny, saat dihubungi VIVA.co.id, Selasa, 24 November 2015.

Emas dan dolar AS selama ini memainkan peran sebagai substitusi, meskipun tidak sempurna. Harga emas akan selalu berkaitan dengan nilai tukar dolar AS. Satu menguat, lainnya akan melemah. Begitu sebaliknya.

Ketika nilai tukar dolar AS menguat, investor akan langsung beralih ke pasar mata uang karena dianggap lebih menguntungkan. Begitu sebaliknya, saat pasar mata uang terlihat suram, investor beralih membidik pasar emas.

Karena itu, ketidakpastian rencana kenaikan suku bunga AS menjadi pemicu utama fluktuasi harga emas. Sebab, jika Federal Reserve akhirnya meninggalkan tren suku bunga mendekati nol persen, maka akan meningkatkan prospek kenaikan permintaan untuk mata uang AS.

Selama ini memang ada berbagai hal yang menghambat rencana kenaikan suku bunga. Yang utama, adalah perlambatan ekonomi China, negara dengan tingkat ekonomi terbesar kedua di dunia.

Karena itu, Gubernur The Fed, Janet Yellen, mengharapkan pertumbuhan ekonomi AS terus positif, perbaikan pada pasar tenaga kerja terus terjadi dan inflasi sesuai dengan target.

“Pertimbangan Yellen selama ini menunda kenaikan suku bunga itu banyak. Dari dalam AS sendiri, ekonomi belum sepenuhnya pulih, tingkat pengangguran masih lumayan tinggi. Sehingga, jika suku bunga dinaikkan, dikhawatirkan akan membuat daya saing industri AS akan menurun. Dampaknya produksi AS akan jadi kurang diminati konsumen dan bisa menyebabkan defisit neraca perdagangan. Hal itu akan menambah tingkat pengangguran,” ungkapnya.

Namun, jika suku bunga tidak dinaikkan, maka ditakutkan akan lebih banyak uang Negara yang digunakan untuk melakukan subsidi. “Pada akhirnya The Fed seperti makan buah simalakama, antara menaikkan suku bunga dan tidak. Makanya, dipastikan The Fed pasti berhitung,” ungkapnya.

Peluang beli

Dia menambahkan, rendahnya harga emas saat ini justru menjadi peluang bagi investor jangka panjang, yakni antara tiga hingga empat tahun, untuk memborong emas.

“Yang sudah terjadi, tren pembalikan harga komoditas adalah tiga hingga empat tahun. Satu hingga dua tahun ke depan memang diperkirakan ketidakpastian perekonomian global masih terus akan terjadi. Belum bagus untuk harga emas. Terutama di 2016, jika The Fed menaikkan suku bunganya di Desember nanti,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Antam Tbk, Tri Hartono, menolak anggapan bahwa anjloknya harga emas dunia akan menyebabkan minat investasi di sektor emas akan menurun.

Menurutnya, yang terjadi justru sebaliknya. Meskipun kondisi global telah menyebabkan harga emas dunia anjlok, tetapi animo masyarakat dalam negeri untuk berinvestasi emas semakin meningkat.

"Kami jualnya per batang dalam bentuk rupiah, bukan dolar AS. Animo masyarakat untuk investasi emas lebih tinggi dibandingkan tahun lalu," kata dia saat dihubungi VIVA.co.id.
KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP