TUTUP
TUTUP
MINIMIZE
CLOSE
FOKUS

Jurus Gampang Cabut Subsidi Listrik Ala Pemerintah

Subsidi dicabut untuk pelanggan 1.300 VA dan 2.200 VA.
Jurus Gampang Cabut Subsidi Listrik Ala Pemerintah
Instalasi listrik (VIVAnews/Muhamad Solihin)

VIVA.co.id - Pemerintah, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), telah mengeluarkan peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 09/2015 tentang penyesuaian tarif listrik (tariff adjustment) mulai hari ini, 1 Desember 2015. Ini adalah cara paling gampang untuk menekan beban APBN di saat penerimaan lainnya tidak mencapai target.

Penyesuaian tarif ini akan diberlakukan bagi pelanggan rumah tangga daya 1.300 Volt Ampere (VA) dan 2.200 VA. Artinya, pemerintah tidak akan lagi mensubsidi atau mengatur tarif listrik dua pelanggan rumah tangga ini. 

Sementara tarif listrik golongan 450 VA dan 900 VA masih akan disubsidi, dan tidak diberlakukan penyesuaian tarif. Demikian juga dengan pelanggan listrik industri kecil dan bisnis, serta pelanggan sosial tidak akan mengalami perubahan tarif pada Desember ini.  

"Mulai bulan Desember 2015, pelanggan PLN golongan tarif rumah tangga daya 1.300 VA dan 2.200 VA diberlakukan mekasme tariff adjustment," kata
Pelaksana Tugas Kepala Satuan Komunikasi Korporat  PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), Bambang Dwiyanto.

Penyesuaian tarif listrik untuk pelanggan rumah tangga 1.300 VA dan 2.200 VA mulai hari ini akan berfluktuatif setiap bulan sesuai mekanisme pasar. Penyesuaian tarif akan menyesuaikan perubahan nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat (AS) terhadap mata uang rupiah, harga minyak, dan inflasi bulanan.

Dengan mekanisme penyesuaian tarif ini, tarif listrik bisa naik, tetap atau turun berdasarkan ketiga indikator tersebut.

Sebenarnya, pencabutan subsidi listrik bagi pelanggan rumah tangga golongan 1.300 VA dan 2.200 VA sudah direncanakan pemerintah sejak Januari 2015, bersama dengan 10 golongan tarif lainnya. Namun, ketika itu Pemerintah dan PLN memilih untuk menundanya.

Dikarenakan kedua pelanggan itu sudah mengalami kenaikkan tarif secara bertahap sejak Juli 2014 hingga November 2014. Selain itu penundaan juga untuk meringankan beban ekonomi pelanggan.

Secara umum, tarif listrik bagi pelanggan non disubsidi sudah mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya. Hal itu dipengaruhi oleh tingkat inflasi rendah dan nilai tukar rupiah yang menguat beberapa waktu terakhir.

Akan tetapi, pada 1 Desember ini tarif pelanggan golongan 1.300 VA dan 2.200 VA tidak mengalami penurunan, malah akan naik 11 persen dibanding tarif sebelumnya.

Tarif dasar listrik bagi pelanggan golongan daya 1.300 VA dan 2.200 VA naik menjadi Rp1.509,38 per kilo watt hour (kWh), naik Rp157,38 dibanding dengan tarif sebelumnya Rp1.352 per kWh.

Sedangkan golongan tarif rumah tangga sedang (R-2) daya 3.500 VA–5.500 VA dan  rumah tangga besar (R-3) daya 6.600 VA ke atas turun dari Rp. 1.533 per kilo Watt hour (kWh) pada bulan November 2015 menjadi Rp. 1.509 per kWh pada bulan Desember 2015.

Sementara untuk pelanggan bisnis, tarif listrik golongan bisnis sedang, 6.600 VA-200 kilo VA (kVA), turun dari Rp1.533 per kWh pada November 2015 menjadi Rp1509 per kWh pada Desember 2015. Tarif bisnis sedang, yaitu di atas 200 kVA, tarifnya turun dari Rp1.122 per kWh menjadi Rp1.105 per kWh (tarifnya di luar waktu puncak).

Sementara itu, industri yang ada di termasuk golongan 200 kVA, tarifnya turun dari Rp1.122 per kWh menjadi Rp1.105 per kWh (tarifnya di luar beban puncak), sedangkan industri besar, yaitu di atas 30 ribu kVA, tarif listriknya turun dari Rp1.706 per kWh menjadi Rp1.060 per kWh (tarif di luar beban puncak).

Sementara itu, tarif listrik untuk golongan kantor pemerintah yang berdaya 6.600 VA-200 kVA, tarifnya turun dari Rp1.533 per kWh menjadi Rp1.509 per kWh.

Sementara itu, listrik untuk kantor pemerintah dengan daya di atas 200 kVA tarifnya turun dari Rp1.122 per kWh menjadi Rp1.105 per kWh.

"(Tarif listrik) penerangan jalan umum turun dari Rp1.533 per kWh menjadi Rp1.509 per kWh dan tarif listrik layanan multiguna turun dari Rp1.670 per kWh menjadi Rp1645 per kWh," kata Bambang.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP