TUTUP
TUTUP
FOKUS

Bersama Melawan Bencana Global

Tapi menghadapi perubahan iklim jangan lagi sekadar janji-janji kosong
Bersama Melawan Bencana Global
Presiden Joko Widodo dan para pemimpin dunia hadir dalam KTT Perubahan Iklim di Paris, Prancis. (REUTERS/Ian Langsdon/Pool)

VIVA.co.id - Pekan ini, hingga 11 Desember 2015, sebuah agenda sangat penting terkait masa depan dunia digelar di Paris, Prancis. Konferensi Perubahan Iklim 2015 atau disebut juga  Conferences of Parties (COP) ke-21  mengundang 147 pemimpin negara dan pemerintahan dari seluruh dunia untuk duduk bersama dan menyatakan komitmennya untuk mengatasi perubahan iklim global.

Dimulai dari gagalnya Protokol Kyoto yang berakhir tahun 2012, COP-21 ini akan menjadi titik kesepakatan baru bagi negara-negara di seluruh dunia untuk memenuhi komitmennya menurunkan emisi gas rumah kaca. Pembahasan ini sudah dimulai sejak terbentuknya tim Ad Hoc Working Group on Durban Platform for Enhanced Action (ADP) tahun 2011 di Durban, Afrika Selatan.

Sejak terjadinya Revolusi Industri di abad ke 18, emisi gas rumah kaca mulai mencemari iklim global. Gas tersebut menyebabkan terjadinya pemanasan global yang berdampak pada meningkatnya bencana  alam dan iklim yang tak stabil. Kekeringan panjang, meningkatnya curah hujan, hingga menyebabkan banjir besar terjadi merata di seluruh dunia. Indonesia sudah merasakan dampak tersebut ketika bencana El Nino memperpanjang masa kemarau di negeri yang ijo royo-royo ini.

Bagi negara yang masih mengandalkan iklim untuk melaut dan bertani, tak stabilnya iklim semakin berdampak pada hasil pertanian dan hasil laut yang menjadi tak jelas. Negara tak bisa lagi memprediksi, kapan waktu tanam dan waktu panen yang bisa memberikan hasil maksimal, karena kearifan lokal tergerus iklim yang tak stabil.

Nelayan juga kesulitan memprediksi kondisi laut untuk mencari ikan. Sementara itu, negara miskin menjadi kelompok yang paling rentan terdampak bencana alam yang intensitasnya terus meningkat melalui tingginya curah hujan yang menimbulkan banjir, longsor, juga kemarau panjang yang menimbulkan kekeringan.

COP ke-17 di Durban lalu menyepakati penyusunan kesepakatan dunia untuk menangani pemanasan global paska 2020. Kesepakatan ini akan berlaku bagi semua negara sesuai dengan prinsip Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCC), yaitu berlaku umum, namun sesuai dengan tanggung jawab dan kemampuan masing-masing negara (Common but Differentiated Responsibility and Respective Capability (CBDR-RC).

Saat menyampaikan pidatonya, Presiden Prancis, Francois Hollande meminta agar seluruh pemimpin negara memunculkan rasa memiliki terhadap krisis dan siap menolong negara-negara yang terancam akibat perubahan pola cuaca. "Saya membayangkan pada pulau-pulau yang perlahan-lahan menghilang. Negara berkembang juga harus mengambil tanggung jawab. Mereka adalah salah satu korban setelah bertahun-tahun emisi rumah kaca terjadi," kata Hollande.

Ancaman Serius dan Nyata

Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, juga meminta seluruh pemimpin negara untuk memiliki rasa keterdesakan, dan mengingatkan betapa ancaman pemanasan global adalah hal yang serius dan nyata. "Negara meminta kita berbagi rasa keterdesakan untuk mengatasi tantangan ini, dan menumbuhkan kekuatan dari dalam diri kita untuk melakukan sesuatu," katanya seperti dikutip dari Aljazeera.com.

Indonesia termasuk negara yang merasakan dampak perubahan iklim secara nyata. Bencana El Nino melanda Indonesia sepanjang 2015, dan menyebabkan masa musim kemarau menjadi lebih panjang dari biasanya. Kondisi diperparah dengan terjadinya pembakaran lahan gambut dan kebakaran hutan sehingga menimbulkan kabut asap.

Lebih dari tiga bulan polusi asap pekat menyelimuti Sumatera dan Kalimantan, bahkan menjalar hingga ke Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand.

Korban berjatuhan karena mengalami sesak nafas, bahkan hingga jatuh korban jiwa. Bantuan internasional yang turun tangan juga tak berhasil memadamkan api dan mengurangi asap. Hanya musim hujan yang berhasil meredakannya.

Presiden Jokowi, melalui pidatonya di Paris, berjanji Indonesia akan menjadi bagian dari solusi untuk perubahan iklim dunia.  Mantan Gubernur Solo itu  menyampaikan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi hingga 29 persen sampai 2030 mendatang. Jokowi menyampaikan sejumlah strategi yang akan dilakukan dengan melakukan efisiensi pada bidang energi, tata kelola hutan dan lahan, serta maritim.

"Untuk bidang energi, Indonesia akan melakukan pengalihan subsidi BBM ke sektor produktif, juga peningkatan penggunaan sumber energi terbarukan hingga 23 persen konsumsi energi nasional tahun 2025. Indonesia juga akan mengolah sampah menjadi energi," kata Jokowi, seperti dikutip dari siaran pers yang disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri RI, Selasa, 1 Desember 2015.

Sementara untuk pengelolaan hutan dan lahan, Indonesia berkomitmen untuk membentuk Badan Restorasi Gambut. Berkaca dari masalah kebakaran hutan yang terjadi selama tahun 2015, Jokowi berjanji akan melakukan restorasi ekosistem gambut dan menegakkan hukum secara tegas. 

"Indonesia akan memberlakukan one map policy, menetapkan moratorium dan  meninjau kembali ijin pemanfaatan lahan gambut, dan pengelolaan lahan maupun hutan produksi lestari," kata Jokowi menegaskan. Sedangkan di bidang maritim, Presiden RI berjanji akan mengatasi perikanan ilegal (ilegal fishing) dan melindungi keanekaragaman hayati laut.

Konferensi Perubahan Iklim di Paris masih akan berjalan hingga 11 Desember mendatang. Setiap negara masih akan mempresentasikan rencana kerja mereka untuk menentukan strategi besar, membantu mengurangi pemanasan global dengan mengurangi emisi gas rumah kaca. Konferensi Perubahan Iklim 2015 ini ditargetkan dapat menghasilkan kesepakatan untuk menangani perubahan iklim global yang  berlaku bagi seluruh negara dengan mengedepankan prinsip CBDR-RC.

Obama berusaha meyakinkan seluruh negara yang hadir, meski tak menampik ada yang akan berusaha menghentikan aksi menyelamatkan bumi melalui konferensi di Paris itu.

"Salah satu musuh kita yang berjuang pada konferensi ini adalah sinisme, kemajuan yang akan kita capai masa mendatang harusnya memberi kita harapan selama dua pekan ke depan," kata Obama. "Sinisme adalah penolakan terbesar dari mereka yang berharap akan membuat kita menangisi dunia ini  dan meruntuhkan semangat terbaik kita untuk menjaganya," katanya menegaskan.

Seluruh mata dunia kini tertuju ke Paris, Prancis. Harapan besar demi keselamatan bumi disandarkan pada COP ke 21 yang baru berjalan. Seperti permintaan Obama, semoga dua pekan ke depan mampu memberi harapan. (ren)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP