TUTUP
TUTUP
FOKUS

Membaca Pesan Mundurnya Dirjen Pajak

Sejak awal, Sigit tahu target pajak tahun ini sangat berat.
Membaca Pesan Mundurnya Dirjen Pajak
Sigit Priadi Pramudito (kiri) saat dilantik sebagai dirjen Pajak Kementerian Keuangan.  (Raden Jihad Akbar / VIVA.co.id)

VIVA.co.id -  Awal Desember 2015, publik dikejutkan dengan pengunduran diri Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Sigit Priadi Pramudito. Sigit mundur per Selasa, 1 Desember 2015.

Alasan dia, tidak mampu mencapai target pajak yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015 sebesar Rp1.294 triliun.

Sigit menghitung, penerimaan pajak hanya 80-82 persen dari total target hingga akhir 2015. Hingga 22 November 2015, realisasi pajak Rp828,93 triliun, atau baru 64 persen dari total target yang terpancang pada APBN-P 2015.

Angka ini, kata Sigit, bukanlah penerimaan pajak yang dapat ditolerir.

"Saya memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai dirjen Pajak. Ini semata-mata sebagai bentuk tanggung jawab saya, yang tidak berhasil memimpin Ditjen Pajak dalam mencapai target pajak yang dapat ditolerir," ujar Sigit.

Sigit berharap, dirjen Pajak yang baru nantinya mampu membawa Ditjen Pajak sebagai instansi yang lebih kredibel, akuntabel, dan berjaya.

"Saya mengucapkan terima kasih atas dukungan dan bantuan teman-teman sekalian. Mohon maaf bila ada hal-hal yang tidak berkenan selama ini," kata dia.

Keputusan Sigit ini tentu menjadi tak lumrah. Mengingat, selama ini di Indonesia belum ada pejabat publik yang mengundurkan diri, karena merasa tidak bisa mencapai target yang ditetapkan.

Tak heran, tidak sedikit yang mengapresiasi alasan pengunduran diri Sigit. Wakil Presiden, Jusuf Kalla, mengatakan, mundurnya Sigit adalah sebuah tindakan yang perlu dihargai.

Wapres menilai, tak tercapainya target pajak tidak hanya karena masalah ketidakmampuan, tetapi karena krisis ekonomi global dan Indonesia. "Tentu, kita menghargai suatu upaya dan sportivitas serta kejujuran," ujarnya.

Namun, Kalla membantah bahwa tidak tercapainya target pajak, bukan karena target pajak yang dipasang terlalu tinggi.

"Bukan karena targetnya ketinggian, tetapi karena ekonominya yang menurun, atau melambat. Kalau ekonomi kita sama dengan dua atau tiga tahun lalu, pasti tercapai," kata JK.

Untuk itu, Kalla menyarankan Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro, perlu mempertimbangkan target yang akan dicapai agar tidak terlalu tinggi.

"Masalahnya, pada saat mau diangkat dirjen Pajak, dia (menkeu) memberikan rencana itu. Kinerja pajak dapat dilihat dari indikator yang ada bahwa rencana begini, ya begini. Tetapi, sekali lagi saya menghargai kejujurannya dan tekadnya," kata Wapres.

Menurut Deputi Bidang Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Bobby Hamzar, keputusan Sigit patut diacungi jempol. Sebab, alasan pengunduran diri Sigit dianggap masuk akal.

"Beliau diangkat, dengan janji pencapaian target sekarang. Tapi, sampai bulan lalu sulit mencapai target yang dijanjikan. Saya kira ini sportivitas," ujar Bobby.

Bobby menilai, keputusan Sigit untuk mundur memiliki dasar yang jelas. Padahal, seperti pandangan Kalla, apabila dilihat secara dalam, dengan situasi ekonomi global dan domestik yang tidak menentu, hal ini otomatis akan memengaruhi rencana untuk menggenjot penerimaan pajak yang sudah direncanakan.

"Kita memang dalam situasi yang tidak sederhana. Kami merencanakan target yang optimistis, tapi di sisi lain realitas kondisi ekonomi dunia dan ekonomi kita memang relatif kurang menuju kepada yang sudah direncanakan," kata dia.

Kedua, Bobby melanjutkan, adalah upaya Sigit untuk mendorong penerimaan pajak. Ia merasa, dalam mendorong penerimaan pajak, tidak hanya dibutuhkan perencanaan yang baik, tetapi diperlukan upaya lebih untuk mendorong penerimaan pajak. Sigit merasa telah kehilangan hal tersebut.

"Dalam evaluasi pencapaian, target itu ada faktor yang tidak hanya menyangkut plan tinggi, tapi juga effort yang dilakukan. Mungkin, beliau merasa belum cukup banyak effort yang direncanakan," ungkapnya.

Menurut dia, Sigit mampu dijadikan contoh baik, bagi penerus dirjen Pajak selanjutnya.

"Beliau sudah belajar dari pengalaman tahun ini. Sebagai pejabat, beliau merasa sulit mencapai apa yang diharapkan. Saya kira, kita melihat keputusan Pak Sigit contoh yang baik bagi pejabat publik yang dipilih dengan target jelas," tuturnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, juga memberikan penghormatan khusus kepada Sigit. Darmin menegaskan, pengunduran diri Sigit patut diapresiasi, karena merupakan salah satu bentuk tanggung jawab yang diemban sebagai dirjen Pajak.

"Dia (Sigit) mundur karena merasa tanggung jawab. Bahwa, apa yang direncanakan tidak tercapai. Menurut saya, kita harus hormati itu," ujar Darmin, saat ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu, 2 Desember 2015.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP