TUTUP
TUTUP
MINIMIZE
CLOSE
FOKUS

Trump Menuai 'Badai', Cabut Kehormatan sampai Boikot

Trump melontarkan kata-kata rasis terkait muslim dunia.
Trump Menuai 'Badai', Cabut Kehormatan sampai Boikot
Aksi demonstrasi mengecam Donald Trump yang menyatakan akan melarang Muslim masuk Amerika jika ia terpilih jadi Presiden Amerika. (REUTERS/Carlo Allegri)

VIVA.co.id - "Siapa menabur angin, maka ia akan menuai badai," pameo Indonesia ini mungkin tak pernah dikenal oleh Donald Trump. Ia begitu sembarangan ketika menyampaikan hal yang tak ia sukai.

Sejak awal menyatakan keinginannya untuk maju sebagai kandidat calon presiden AS, Juni 2015, Trump sudah menyerang lawan politiknya. Kalimat-kalimat yang ia lontarkan kerap menimbulkan kemarahan dan reaksi keras.

Sejak awal, Trump berulang kali menyerang dan menyindir lawan politiknya dengan sinis dan melecehkan. Ia memulainya dengan menyindir Barack Obama, dan mengatakan Obama adalah bagian dari Muslim. Komentar Trump ditanggapi tegas oleh Obama. Presiden Amerika itu mengatakan, Trump tak layak menjadi Presiden Amerika. 

Berikutnya, Trump menyerang Meksiko. Saat menyampaikan pidato di hadapan pendukungnya, dikutip dari CNBC, 17 Juni 2015, ia mengatakan, "Ketika Meksiko mengirim orang-orangnya, mereka tidak mengirim orang-orang terbaik. Mereka mengirim orang-orang yang punya banyak masalah, mereka membawa obat terlarang, membawa kejahatan, dan mereka pemerkosa."

Trump berjanji akan membangun dinding besar di sepanjang perbatasan 3.000 kilometer antara AS dan Meksiko untuk mencegah masuknya imigran dari Meksiko.

"Saya akan bangun dinding besar di perbatasan kita di bagian selatan, dan saya akan minta Meksiko membayar untuk dinding itu. Camkan kata-kata saya," katanya menegaskan.

Warga Meksiko bereaksi keras menanggapi ucapan Trump. Pemerintah Meksiko bahkan secara resmi mengecam ucapan Trump dan mengatakan ucapan tersebut rasis dan absurd. Warga Meksiko lalu membuat aneka boneka dan topeng wajah Trump yang mengejek politisi Partai Republik itu. Tapi Trump tak pernah kapok.

Awal pekan ini, Trump kembali mengeluarkan pernyataan yang kontraversial. Insiden penembakan di San Bernardino diakunya sebagai alasan mengapa ia mengeluarkan pernyataan tersebut. Trump berjanji, jika ia terpilih menjadi presiden Amerika Serikat, maka ia akan melarang seluruh Muslim masuk ke Amerika untuk alasan apa pun.

"Sampai kita mampu menemukan dan memahami masalah, dan ancaman berbahaya yang mereka tampakkan, maka negara ini tak boleh menjadi korban dari serangan besar dari orang-orang yang hanya percaya pada jihad, dan tak punya rasa memiliki atau menghargai kehidupan manusia lain," kata miliuner  properti ini, seperti dikutip dari The Guardian, Selasa, 8 Desember 2015.

Pernyataan Trump yang terakhir ini menimbulkan reaksi keras. Tak hanya dari dalam negerinya, namun juga menjalar ke seluruh dunia.

Aksi penolakan terhadap pernyataan Trump terus bermunculan. Nyaris setiap hari terdengar kabar yang merepresentasikan kemarahan dan kekesalan warga dunia pada komentar raja properti itu. Seperi badai, protes bermunculan menyerbu Trump.

Sebuah universitas di Skotlandia mencabut gelar kehormatan yang pernah mereka berikan pada Trump pada tahun 2010. Menurut juru bicara Universitas Robert Gordon, Trump dinilai membuat pernyataan yang tak sesuai dengan etos dan nilai-nilai kampus tersebut.

Sebelumnya, salah satu pemerintah daerah Skotlandia, dimana Trump juga memiliki sejumlah hotel dan properti juga mencabut gelar "Duta Bisnis." Mereka beralasan, taipan properti ini sudah tak layak menyandang gelar tersebut.

Di Inggris, yang bertetangga dengan Skotlandia, lebih dari 350.000 warga menandatangani petisi yang isinya menolak kedatangan Trump ke negara kerajaan tersebut. Angka ini terkumpul hanya dalam hitungan 38 jam sejak petisi pertama kali disampaikan. Perolehan angka sudah lebih dari cukup untuk mengantarkan petisi tersebut ke parlemen dan menjadi pembicaraan, apakah petisi tersebut akan diterima atau ditolak.

Perdana Menteri Inggris David Cameron juga mengutuk pernyataan Trump. Ia mengatakan ucapan Trump sebagai sesuatu yang memecah belah, tidak membantu, dan sangat mudah menyalahkan. '

Sekjen PBB, Ban ki Moon, melalui juru bicaranya Farhan Haq, juga menyesalkan ucapan Trump. Ban mengatakan ucapan Trump sebagai sesuatu yang rasis, islamophobia, xenophobia dan sesuatu yang bisa menimbulkan kebencian.

Boikot Produk

Sedangkan miliarder Turki, Aydin Dogan, yang membangun sebuah pusat belanja mewah, Trumps Tower Mall, dan komplek pemukiman mahal dengan meminjam nama Trump sebagai merk dagang, mengaku telah mempertimbangkan untuk membatalkan kontrak penggunaan nama mantan bintang televisi itu. Trumps Tower Mall memiliki 175 toko yang menjual barang dari Turki dan merek internasional.

Sejumlah negara di Timur Tengah memutuskan menarik produk rumah tangga Trump Home dari pusat belanja mereka. The Landmark, salah satu grup ritel terbesar yang memiliki 190 pusat belanja di Timur Tengah, Afrika dan Afghanistan mengatakan telah menarik semua produk Trump dari rak pajang mereka.

Lebih mengejutkan adalah pernyataan dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Israel yang terkenal sebagai negara yang selalu berseteru dengan Palestina yang mayoritas Muslim  justru ikut mengecam Trump.

Sejumlah anggota parlemen Israel juga menandatangani petisi dan meminta agar PM menolak kedatangan Trump. Netanyahu, memberi jawaban diplomatis. Melalui pernyataan yang disampaikan juru bicaranya, Netanyahu mengaku tak setuju dengan pernyataan Trump. Ia juga meminta politisi berambut blonde itu untuk menghargai Muslim. Namun Netanyahu akan tetap menerima Trump dalam kapasitas kunjungan tamu negara.

Trump tak terima. Melalui akun Twitternya, @realDonaldTrump, ia menyampaikan pembatalan rencana kunjungan ke Israel. Ia berjanji akan mengagendakan kunjungan setelah resmi terpilih jadi Presiden AS. Belum ada pernyataan resmi dari PM Israel soal keputusan Trump, namun mantan konsultan PM mengatakan, Perdana Menteri bisa jadi malah senang dengan keputusan tersebut.

Sementara itu dari dalam negeri Paman Sam, wali kota St.Petersburg, Florida, Rick Kriseman mengatakan akan menolak Trump datang ke wilayahnya. "Saya akan melarang Donald Trump memasuki St.Petersburg, sampai kami benar-benar mengerti, ancaman bahaya yang dibawa oleh seluruh Trump," katanya melalui akun Twitter @Kriseman.

Gedung Putih juga ikut mengeluarkan pernyataan yang mengecam usulan Trump.  Josh Earnest, juru bicara Gedung Putih mengatakan, pernyataan Trump harusnya sudah membuat ia terdiskualifikasi dari pencalonan. Menurut Earnest, Trump tak memenuhi kualifikasi untuk melayani, melindungi, dan menjaga amanah konstitusi Amerika Serikat.

Komentar pedas juga datang dari penulis buku Harry Potter, JK Rowling. Melalui akun Twitternya @jk_rowling, Rowling menulis, "Sangat mengerikan. Lord Voldemort tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Donald Trump." Sontak ribuan orang mencuitkan kembali pernyataan Rowling.

Meski kecaman dan sindiran melalui kalimat dan sikap langsung telah menghujani Trump, namun laki-laki gaek itu 'terlihat' anteng. Ia malah mengaku mendapat dukungan dari kawannya yang Muslim.

"Saya adalah orang yang paling tidak rasis yang pernah Anda temui. Saya melakukan hal yang baik untuk Muslim. Banyak teman saya beragama Islam setuju dengan pendapat saya. Mereka bilang, Donald, Anda membawa sesuatu yang brilian dan fantastis," ujarnya.

Ia mengabaikan kritik yang disampaikan pemimpin dunia dan mengklaim mendapat  dukungan dari publik Amerika.

"Publik setuju dengan apa yang saya katakan. Mereka melihat pelaku penembakan di San Bernardino pekan lalu, yang membunuh orang-orang," katanya seperti dikutip dari Independent, 10 Desember 2015.

Trump mungkin belum akan berhenti. Ia tetap percaya diri untuk melaju menuju kursi utama pemerintahan negeri Paman Sam. Karena meski terus mengeluarkan kalimat yang bernada kontraversial dan  melecehkan, posisi Trump masih terus berada di posisi teratas sebagai kandidat utama Partai Republik untuk menjadi calon Presiden AS. Pada survey nasional yang diadakan oleh ABC News dan The Washington Post, pada awal Desember 2015, Trump memimpin dengan perolehan suara 32 persen, setelah Trump adalah Ben Carson yang memperoleh 22 persen.

Pemilihan Presiden di AS akan berlangsung pada 2016 mendatang. Semoga publik AS tak salah langkah untuk menentukan pemimpinnya.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP