TUTUP
TUTUP
FOKUS

Hentikan Segera Tikus-tikus Penjarah Tas Penumpang Pesawat

Sudah sistematis. Otoritas bandara dan maskapai harus tanggung jawab.
Hentikan Segera Tikus-tikus Penjarah Tas Penumpang Pesawat
Rekaman CCTV menunjukkan seorang porter bobol tas penumpang pesawat di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, November 2015. (ANTARA FOTO/Lucky R.)

VIVA.co.id - Kasus kehilangan barang berharga milik penumpang pesawat kembali muncul. Diketahui, jika pelakunya merupakan orang dalam maskapai, yang bukan lain adalah salah satu kru maskapai atau disebut porter. Ini terjadi setelah salah satu penumpang pesawat di Bandara Soekarno Hatta melaporkan ke polisi.

Dalam rekaman CCTV milik PT Angkasa Pura II bulan November 2015 terlihat oknum porter tanpa kendala langsung membuka tas dan koper penumpang sembari mencari barang berharga.

Dari rekaman itu pula, pihak bandara bersama kepolisian mengusut hal tersebut hingga didapati empat tersangka berinisial A dua orang, M, dan S.

Direktur ‎Angkasa Pura II, Budi Karya Sumadi, berjanji terus berupaya memecahkan secara tuntas masalah ini.

"Ini yang harus saya klarifikasi, karena itu memang tanggung jawab dari airlines. Tapi kami sebagai pengelola bandara tidak ingin melepaskan tanggung jawab begitu saja ke airlines," kata Budi ditemui di rumah dinas Menteri Perhubungan Ignasius Jonan di Kompleks Widya Chandra, Jakarta, Minggu 3 Januari 2015.

Dia mengatakan, tidak bisa dipungkiri kejahatan bisa terjadi di mana pun, tidak terkecuali di bandara. Karena itu, tidak memutup kemungkinan ada sindikat yang beroperasi dan bekerjasama dengan oknum bandara. 

"Jadi gini, kalau namanya oknum memang selalu ada. Kami memang akan intensif lakukan pengamatan sindikat nya seperti apa. Sindikat itu bisa petugas kemanan, ditambah porter, mungkin juga orang saya, tapi mungkin, saya enggak tau, jadi gitu loh," kata dia.

Namun demikian, di dalam sistem pengamanan bandara, tidak semuannya merupakan karyawan AP II, karena  petugas keamanan direkrut melalui skema outsour‎cing atau pihak ketiga.

"Sindikat yang sudah lama terjadi. Dan dari kelompok satu ke kelompok lain. Walau sindikat, kalau kita niat pasti selesai lah. Taksi gelap aja selesai kok, kami niat arus balik ini bisa lebih baik," tambah dia.

Terlepas dari segala kecurigaan itu, dia menegaskan, hal ini merupakan masalah bersama. Sebab, keamanan dan kondusifitas bandara hatus dijaga oleh setiap otoritas yang berkepentingan di dalamnya.

"Jadi tanggung jawab sama-sama. hanya saja saya akan sedikit tegas dengan airlines, kalau punya aturan jangan sembarangan. Kalau punya ground handling harus serius, harus mengelola secara baik,secara dalam, harus selektif memilih orangnya. Kalau tanggung jawab, kita sama-sama," kata dia.

Terorganisir

Dari pengakuan pelaku yang ditangkap berinisial S, pembobolan tas ini sudah berlangsung sejak lama. "Awalnya saya dipaksa sama senior saya yang kerja jadi porter. Saya cuma ikut-ikutan saja, lama-kelamaan jadi biasa," ujar S saat ditanya penyidik Polres Bandara Soekarno Hatta.

S mengaku selalu mengincar tas atau koper yang mudah dibuka. Dia juga mencari barang-barang seperti ponsel, jam tangan yang sengaja diletakkan di dalam tas penumpang.

"Saya juga enggak tahu bagaimana caranya, cuma kan diajarin. Caranya diputer-puter resleting tas akhirnya bisa dan kebiasaan," kata S.

Kapolres Bandara Soetta, Komisaris Polisi Roycke Langgie, meminta kepada pihak maskapai untuk selalu memperhatikan kerja para kru pesawat.

"Kami dapat laporan dari masyarakat, kalau banyak barang berharga mereka hilang pasca naik pesawat. Setelah diselidiki ternyata pelakunya porter maskapai," ucap Roycke.

Sementara itu, salah satu traveller, Gemala Hanafiha, menyampaikan, pembobolan tas penumpang pesawat bisa berdampak pada citra dan kenyamanan pelancong yang berkunjung ke Indonesia.

"Ini jadi (bikin) kapok wisatawan luar negeri, jangan ke Indonesia karena ada yang seperti ini," kata Gemala.

Gemala mengaku menjadi 'langganan' pembobolan tas. Sejauh ini, dia sudah tiga kali menjadi korban pembobolan tas saat menggunakan pesawat. Tiga kali tasnya dibobol, barang yang diambil pelaku yaitu kacamata, MP3 player dan lainnya.

"Teman saya juga pernah (korban). Hal-hal ini bikin kapok, nanti turis datang cerita (soal dibobol), jadi sayang juga (pariwisata Indonesia)," kata dia.

Meski sudah kerap menjadi korban, Gemala mengaku belum pernah sekalipun melaporkan hal ini ke petugas di bandara. Alasannya, ia mengetahui telah menjadi korban pembobolan saat sudah keluar dan jauh dari bandara.

Modus pembobolan

Kriminolog Universitas Indonesia, Erlangga Masdiana, menilai, pembobolan tas penumpang pesawat sudah menjadi kejahatan yang sistematis.

Kejahatan itu, menurutnya, sudah melibatkan tingkatan petugas bandara paling bawah sampai pegawat tingkat di atasnya. Para pelaku, kata dia, juga memiliki keahlian khusus dalam membobol tas milik penumpang.

"Kejahatan ini punya kemampuan terbatas di bidangnya. Bisa diperkirakan mana yang mengandung barang berharga tertentu," kata Erlangga dalam program "Apa Kabar Indonesia" di tvOne.

Dia mangatakan, modus yang dilakukan pembobol tas dilakukan bukan hanya untuk mencuri barang di bagasi saja, tapi juga tas di kabin.

"Cermati kepadatan di bagasi dan kabin. Biasanya dalam perjalanan jauh di atas empat jam, [bisa terjadi] kejahatan di kabin. Pelaku (modusnya) pindahkan tas di kabin," kata dia.

Erlangga mengatakan, pembobol seakan begitu mudahnya bisa mengambil barang dari berbagai macam tas dan koper. Sebab, mereka punya alat khusus.

"Mereka punya master key untuk bisa buka jenis koper apa saja. Bisa buka sesulit apapun koper yang dimiliki penumpang," ucap dia.

Dia mengatakan, terkait pelaku yang ditangkap mengaku tekanan dari senior tersebut, dalam teori disebut sebagai transformasi kejahatan. Dalam teori ini bagaimana seorang pelaku kejahatan mentransfer nilai dan keahlian kejahatan tertentu yang dimilikinya untuk orang lain.

"Kalau pertama, first offender, biasanya pertama merasa ragu-ragu. Kalau pertama, kedua (kejahatan dilakukan) tak terjadi apa-apa maka jadi habit," kata dia.

Untuk itu, ia meminta pengelola bandara agar tidak memberi ampun kepada pelaku. Sebab, kejahatan tersebut telah merusak citra bandara dan pariwisata Indonesia.

"Kutil kecil itu awalnya terpaksa (tapi kemudian) jadi karakter, kan jadi bahaya, jangan beri kesempatan," katanya.

Seleksi karyawan

Erlangga menambahkan, kejahatan tersebut sudah berjalan sistematis dengan melibatkan atasan para pelaku. Untuk itu, ia meminta pengelola Bandara Soekarno-Hatta harus mengambil tindakan tegas.

"Ini sebenarnya sudah sistematis dan harus diperhatikan betul. Ambil tim itu (yang terlibat) dan keluarkan saja. Itu merusak," kata Erlangga.

Erlangga mengatakan, tekanan dari senior tersebut dalam teori disebut sebagai transformasi kejahatan. Dalam teori ini bagaimana seorang pelaku kejahatan mentransfer nilai dan keahlian kejahatan tertentu yang dimilikinya untuk orang lain.

"Kalau pertama, first offender, biasanya merasa ragu-ragu. Kalau pertama, kedua (kejahatan dilakukan) tak terjadi apa-apa maka jadi habit," ucap dia.

Untuk itu, dia berpendapat, manajemen bandara harus melakukan perubahan menyusul pengungkapan kasus ini. Jika tidak mau berubah, maka sudah semestinya struktur manajemen bandara harus diubah.

"Harus ada screening pegawai yang menjaga citra layanan, mulai dari porter sampai manajemen yang lebih tinggi," kata dia.

Sebagai langkah perbaikan, kriminolog tersebut juga mendesak pengelola bandara untuk memastikan sistem yang bisa mengawasi dan merekam semua aktivitas petugas bandara mulai dari manajemen, pegawai sampai porter di sudut lapangan.

"Pak Jonan (Menteri Perhubungan) mestinya fokus juga dengan sistem pelayanan di bandara, pelayanan secara umum ya. Kalau ada keluhan harus ditindaklanjuti," kata dia. (ren)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP