TUTUP
TUTUP
FOKUS

'Iron Man' dari Bali, Dipuji dan Diragukan

Tangan robot Tawan diragukan, penuh kejanggalan.
'Iron Man' dari Bali, Dipuji dan Diragukan
I Wayan Sumardana alias Tawan memperbaiki alat sepeda motor pelanggan dengan lengan robot buatannya di bengkel kerjanya di Desa Nyuh Tebel, Karangasem, Bali, Kamis (21/1/2016) (VIVA.co.id/Bobby Andalan)

VIVA.co.id – Wayan Sumardana (31) mendadak menjadi perbincangan usai kreasinya menyematkan sejumlah besi rakitan dilengkapi sensor di kepala dan tangannya.

Pria yang akrab disapa Tawan ini pun mengaku, 'robot' rakitan itu telah memberi berkah baginya. Maklum, tujuh bulan sebelumnya warga Desa Nyuhtubel Kecamatan Manggis Kabupaten karangasem Bali ini mengaku mengalami kelumpuhan.

Namun kini berkat ikat kepala besi yang disebutnya berhubungan dengan otaknya serta lengan besi lengkap dengan piston serta sejumlah kabel itu pun, menjadi tumpuannya mengais rezeki.

Dalam waktu singkat sebutan seperti Iron Man, Mc Gyver hingga pun Cyborg pun akhirnya melekat kepada pria yang berprofesi sebagai tukang las di bengkel sederhana di Karangasem Bali ini.

Popularitas Tawan, berawal dari niatnya untuk melawan takdirnya yang terkena stroke pada pertengahan tahun 2015 silam di lengan kirinya.

Sebab, 'kelumpuhan' itu praktis mengancam mata pencahariannya. Bapak beranak tiga ini pun berpikir keras. "Anak masih kecil, masih sekolah, makan gimana? stress saya," kenang Tawan.

Dua bulan berjalan, upayanya berobat ke dokter ataupun dukun kampung tetap tak membuahkan hasil. Bengkel yang dikelolanya pun semakin sepi. Satu persatu karyawannya undur diri.

http://media.viva.co.id/thumbs2/2016/01/20/360802_sumardana-merasa-belum-sempurna-jadi-manusia-robot_663_382.jpg

I Wayan Sumardana, pekerja las di Bali yang memodifikasi tangannya yang lumpuh dengan perangkat robot hingga menyerupai Iron Man, sedang bekerja di bengkelnya pada Rabu, 20 Januari 2016.

 

Tawan semakin tertekan. Lalu di saat itu, secara spontan pria lulusan Sekolah Menengah Kejuruan Elektro di Denpasar ini tiba-tiba teringat dengan pelajarannya.

Akhirnya, mengulik buku elektronik ditambah panduan dari internet menjadi fokus Tawan. Mimpinya sederhana, ia ingin tangan kirinya berfungsi kembali dan bisa membantunya bekerja di bengkel lagi.

Beragam cara pun dilakukan. Bahan bekas di sekelilingnya pun jadi bahan praktik. Setidaknya pengakuan Tawan, sudah tujuh kali percobaan dilakukannya.

Mulai dari remote control pemancar, bluetooth telepon seluler hingga pun ke aplikasi telepon berbasis android pun dilakukannya. Maksudnya cuma satu, rangkaian besi yang telah dirakitnya harus sinkron dengan perintah otaknya.

Hingga akhirnya Tawan pun mengulik sebuah alat yang dibuat dari Amerika. Alat itu dinamai Electroencephalography atau EEG. Konon alat ini bisa menangkap aktivitas elektrik dari otak.

Mimpi Tawan pun menjadi kenyataan. Ia pun nekat merogoh kocek jutaan rupiah demi alat tersebut. Ia optimistis, besi yang dirakitnya dan dilekatkan di tubuhnya itu bisa bekerja tanpa harus diperintah lewat tombol atau pesan khusus.

"(Karena itu) Saya beli seharga Rp4,7 juta dari Amerika," kata Tawan, Selasa 19 Januari 2016.

Alhasil, dengan sentuhan rangkaian bekas dan sejumlah kabel penghubung., Tawan pun sepertinya meyakini besi rangkaian itu seperti hidup. Berbekal sensor penangkap pesan otak Tawan pun mewujudkan lengan robotnya.

"Sebenarnya pengendalinya bukan otak. Cuma kita berpikir saja lalu bereaksi apa. Tak mungkin otak (sepenuhnya), bisa sakit kepala," katanya.

Terlepas dari itu, Tawan tak menampik rakitannya yang berbobot 9 kilogram tersebutmemang masih jauh dari sempurna. Namun lengan robot bersensor mesin Amerika itu, diakuinya cukup membantu. Setidaknya, rangkaian besi itu bisa meringankan kerjanya saat mengangkat barang berat.

"Kekurangannya di jari saja. Masih kurang alatnya, jadi belum sepenuhnya sempurna. Terus, saya jadi gampang lelah, karena harus fokus dan konsentrasi agar sensor membaca perintah otak," tutur Tawan.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP