TUTUP
TUTUP
FOKUS

Berperang Melawan Nyamuk Pembunuh

DBD kembali merebak. Bukan penyakit baru tapi butuh penanganan serius.
Berperang Melawan Nyamuk Pembunuh
Petugas melakukan pengasapan di daerah endemik nyamuk penyebab penyakit (REUTERS / Oswaldo Rivas)

VIVA.co.id – Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali merebak di sejumlah wilayah Indonesia. Ribuan orang sudah dilaporkan terjangkit dan puluhan lainnya dinyatakan meninggal dunia akibat penyakit yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti ini.

Catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 50 tahun silam sesungguhnya demam berdarah hanya ada di sembilan negara. Namun kini sebarannya meluas dengan cepat. Setidaknya ada 100 negara yang sudah dilingkupi.http://media.viva.co.id/thumbs2/2008/11/19/59075_nyamuk_dbd_663_382.jpg

FOTO: Ilustrasi/Nyamuk Demam Berdarah

 

Dengan kata lain, ada 40 persen populasi global terjangkit penyakit ini atau setara 50 hingga 400 juta orang yang terinfeksi demam berdarah setiap tahunnya.

Angka tersebut jelas membantah teori bahwa demam berdarah hanya endemik di wilayah tropis. Perubahan iklim telah mengubah segalanya.

Sasaran Empuk
Kementerian Kesehatan mencatat wabah demam berdarah di Indonesia muncul pertama kalinya di Surabaya, Jawa Timur, pada tahun 1968. Kala itu sebanyak 58 orang terinfeksi dan 24 orang meninggal dunia.

Jumlah orang yang terjangkit virus ini pun terus berkembang fluktuatif hingga akhirnya merambah seluruh wilayah Indonesia, khususnya bagi wilayah yang berada di ketinggian di bawah 1.000 meter dari atas permukaan laut.

Demam Berdarah Dengue (DBD), merupakan penyakit disebabkan virus Dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes. Nyamuk penular Dengue terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia.

Sebab itu juga, Indonesia menjadi salah satu sasaran empuk ketika nyamuk ini menyebar. Terutama bagi masyarakat yang rendah status kekebalannya dan daerah yang padat populasi nyamuk penularnya.

 

Riset peneliti, Indonesia diprediksi sedang memasuki siklus lima tahunan serangan demam berdarah. Diduga ini ditengarai oleh perubahan iklim yang menerpa Indonesia selama beberapa waktu ini.

Sejak pertengahan tahun 1970-an, menurut peneliti, episode El Nino di Indonesia memang relatif lebih sering, menetap, dan intensif. Efeknya, perubahan ini memperpanjang masa penularan penyakit yang ditularkan melalui vektornya.

"Di Indonesia, DBD umumnya muncul pada musim pancaroba. Umumnya pada awal tahun pasti muncul kejadiannya," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI Profesor Tjandra Yoga Aditama.http://media.viva.co.id/thumbs2/2015/02/02/292949_petugas-saat-melakukan-pengasapan--fogging--di-surabaya--jatim--jumat--30-1-_663_382.jpg

FOTO: Petugas kesehatan melakukan fogging (pengasapan) di sejumlah wilayah yang rawan sebaran nyamuk demam berdarah

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP