TUTUP
TUTUP
FOKUS

Mewaspadai Virus Zika di Tanah Air

Kemenkes RI telah keluarkan travel advisory. Pencegahan dini Zika.
Mewaspadai Virus Zika di Tanah Air
Menteri Kesehatan Kolombia Alejandro Gaviria (kanan) saat menjelaskan grafis gejala virus Zika di Bogota, Kolombia.. (REUTERS/John Vizcaino)

VIVA.co.id - Dunia kini dalam kewaspadaan tinggi. Puluhan negara terindikasi terjangkit virus Zika. Virus yang ditularkan lewat gigitan nyamuk aedes aegypti itu dikaitkan dengan ribuan kasus mikrosefali.

Suatu kondisi medis di mana lingkar kepala bayi lebih kecil dari ukuran normal. Otak tidak berkembang sempurna atau bahkan berhenti berkembang.

Mikrosefali dapat terjadi sejak lahir atau pada beberapa awal tahun kelahiran anak. Kasus yang bermula di Amerika Latin tersebut sempat memicu sejumlah negara kawasan itu mengeluarkan peringatan kepada warganya.

Kaum hawa untuk sementara diimbau menunda kehamilan, hingga nyamuk penyebab virus Zika bisa teratasi. (Baca juga: Dunia Melawan Virus Zika)

Merebaknya virus Zika itu membuat Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) bereaksi dengan mengeluarkan status darurat kesehatan internasional.

Direktur Jenderal WHO, Margaret Chan, mengatakan, lonjakan kasus mikrosefali itu seakan menjadi peringatan bagi badan kesehatan PBB itu, lantaran lamban dalam merespons penyebaran virus Zika.

Virus ini telah menyebar secara eksplosif di wilayah Amerika di mana diperkirakan jumlah penderitanya bisa mencapai 4 juta jiwa pada tahun 2016.

Brasil merupakan negara pertama yang mengalami kasus mikrosefali. Kejadian itu berlangsung pada Oktober 2015 di wilayah timur laut negeri itu. Sejak itu, korban terus bertambah hingga 4 ribu kasus akibat mikrosefali di mana 270 orang positif terjangkit.

Bahkan, di Kolombia korbannya mencapai 20 ribu orang yang terinfeksi virus Zika, termasuk 2.100 orang di antaranya wanita hamil. 

Sementara itu, di Panama baru sekitar 50 orang terkena Zika, dan akibat "invasi" Zika, membuat para wisatawan, terutama yang berasal dari Eropa dan Amerika Utara merasa khawatir terjangkit Zika setelah pulang dari berlibur dari daerah yang terjangkit. 

Di Indonesia

Virus Zika yang menyebar di Amerika Selatan terutama Brasil, ternyata sudah pernah ditemukan di Indonesia puluhan tahun silam. Hal itu diungkapkan Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek.

"Dari tahun 1977 hingga 1981 ditemukan di Klaten dan NTB," ujar Menteri Kesehatan Nila, dalam keterangan pers usai rapat kabinet terbatas, di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Rabu 3 Februari 2016.

Nila menjelaskan, pemeriksaannya saat itu dilakukan secara sirologis dengan menggunakan serum sebagai sampel. "Melakukan pemeriksaan 105 darah penderita yang demam dan ditemukan satu virus Zika," katanya. 

Menkes menjelaskan, virus Zika dengan Demam Berdarah Dengue (DBD) tidak jauh berbeda. Hanya memang, gejala virus Zika ini lebih ringan dan akan sembuh dalam dua hingga tujuh hari.

"Zika tidak menyebabkan kematian seperti demam berdarah. Untuk itu, perlu kerja sama dari masyarakat untuk membantu menjaga kebersihan lingkungan," kata Menteri Kesehatan Nila.

Upaya yang dilakukan, menurut dia, tidak jauh beda dengan penanggulangan DBD, yakni dengan cara kebersihan lingkungan dan tidak membiarkan air menimbun, sehingga menjadi hidup bintik nyamuk.

Nila melanjutkan, untuk mengantisipasi warga terkena virus ini, pemerintah juga sudah mengeluarkan travel advisory atau peringatan bepergian ke luar negeri.

"Memberikan peringatan kepada masyarakat yang ingin keluar negeri ke daerah Amerika Latin atau daerah endemik terutama ibu yang sedang hamil semester pertama," ujar dia.

Bahkan, Presiden Joko Widodo pun memerintahkan jajarannya memperketat deteksi di pintu-pintu masuk wilayah Indonesia usai kemunculan virus Zika itu di sejumlah negara.

Jokowi juga meminta warga negara agar tidak bepergian ke wilayah negara dengan endemik virus tersebut. 

"Berikan peringatan pada yang ingin berkunjung ke negara yang sudah tersebar virus Zika dan pengawasan di pintu masuk. Siapkan respons cepat," kata Presiden Jokowi dalam rapat Kabinet Terbatas di kantornya, Jakarta, Rabu, 3 Februari 2016.

Langkah-langkah antisipasi, kata Presiden, harus disiapkan agar wabah itu tak sampai masuk ke Indonesia. Apalagi, WHO sudah menyatakan bahwa virus ini berpotensi tersebar ke Asia bahkan seluruh dunia, meskipun saat ini baru ditemukan di sejumlah kawasan di Amerika.

"Untuk mengantisipasi, saya minta langkahnya sinergi dan lintas sektor, lakukan segera deteksi untuk ketahui seawal mungkin penyebaran virus ini. Mudah-mudahan enggak ada," Jokowi menambahkan.

Presiden juga meminta agar warga negara Indonesia (WNI) memperoleh informasi yang relevan terkait virus Zika, pencegahan, dan penanganannya sejak dini. "Lakukan terus edukasi pada masyarakat dalam mencegah virus ini," tutur Presiden.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP