TUTUP
TUTUP
FOKUS

Seribu Satu Jalan Melawan Kanker

Ilmuwan RI klaim punya formula baru. Tapi, pemerintah belum yakin.
Seribu Satu Jalan Melawan Kanker
Sel kanker. (U-Report)

VIVA.co.id –  Penyakit kanker sudah menjadi momok bagi dunia. Jutaan penduduk dunia telah meninggal akibat penyakit ini setiap tahun.  Penyakit ini sudah dilabeli sebagai salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia.

Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang dikutip Kementerian Kesehatan RI menunjukkan pada 2012, ada sekitar 8,2 kematian yang disebabkan oleh kanker. WHO bahkan menyebutkan tiap tahun setidaknya 8 juta warga dunia meninggal akibat kanker, 70 persen diantaranya meninggal setahun setelah didiagnosa. 

Dengan demikian ada 20 sampai 25 ribu orang per hari yang meninggal akibat kanker. Untuk di Indonesia, menurut Warsito Purwo Taruno, penemu teknologi antikanker Electro-Capacitive Cancer Therapy (ECCT) dan Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT), setidaknya satu juta orang meninggal setahun akibat kanker, setiap hari bisa seribu orang yang meninggal karena penyakit tersebut. 

Gambaran statistik itu sudah mewakili bagaimana penyakit kanker memang menjadi momok mengerikan bagi dunia. Maka tak heran, beberapa ilmuwan, peneliti, institusi kesehatan sampai lembaga pemerintah menaruh perhatian untuk menemukan obat melawan penyakit tersebut. 

Sejauh ini ada beberapa opsi dilakukan untuk mengobati kanker. Ada kemoterapi, terapi kanker, imunoterapi, virus antikanker dan kombinasi antara mereka. Tapi itu belum cukup, ilmuwan dan peneliti terus berupaya mencari cara dan metode yang ampuh untuk melawan penyakit tersebut.

Belum lama ini, peneliti Tuft University, Amerika Serikat, telah menemukan terobosan baru dalam membunuh kanker. Dengan memanfaatkan cahaya untuk menghentikan pertumbuhan sel tumor, metode ini dikenal dengan nama optogenetik. Metode ini memanfaatkan cahaya untuk dan kemudian memanipulasi sinyal listrik di dalam sel. 

Dalam pratiknya, peneliti universitas itu menyuntikkan dua gen kepada embrio katak. Gen pertama, onkogen yang membuat embrio terpengaruh kanker dan satu jenis gen lainnya membantu menghasilkan cahaya sensitif 'saluran ion' pada sel tumor. Cahaya yang dipakai peneliti dalam eksperimen itu adalah cahaya biru. 

Bicara soal ‘saluran ion’, ini merupakan lorong masuk dan keluar dari sel yang terbuka menerima sinyal tertentu. Saat saluran terbuka, gerakan ion ke dalam maupun keluar dari sel akan menciptakan sel listrik. Untuk mengaktifkan saluran dalam sel tumor, peneliti memaparkan embrio katak ke cahaya. 

Penggunaan metode optogenetik untuk mengendalikan saluran ion telah menjadi alat penting riset bagi para pakar saraf saat mempelajari otak dan sistem saraf. Peneliti Tufts University menyebutkan metode yang mereka jalani mirip dengan apa yang dilakukan ahli saraf tersebut. Jika di tangan ahli saraf, metode optogenetik memanfaatkan cahaya untuk menemukan keadaan listrik di otak, maka di tangan peneliti Tufts University, pola itu dipakai untuk menentukan keadaan listrik di dalam tubuh. 

Dikatakan penggunaan optonegetik ini baru pertama kali dilakukan untuk riset kanker. Peneliti mengklaim, dengan metode ini, mereka bisa mencegah dan melawan pembentukan tumor dalam 30 persen kasus. Meski klaim mereka berhasil, peran optogenetik dalam pengobatan kanker belum teruji pada manusia. Peneliti masih bereskperimen pada embrio katak. 

Terlepas masih jauh bisa diterapkan pada manusia, tapi setidaknya dengan percobaan tersebut, peneliti bisa lebih dalam mempelajari pola dan perilaku sel untuk bisa mendapatkan terapi sinyal listrik. 

Seribu satu cara

Penggunaan cahaya untuk membunuh kanker adalah salah satu dari sekian upaya, ‘seribu satu’ cara dan jalan. Ada juga temuan dalam bidang medis yang untuk pengobatan kanker, yaitu inumoterapi. Metode ini melawan kanker dengan memanfaatkan sistem kekebalan tubuh indivdu. 

Sel kanker diketahui punya kemampuan menyamarkan diri sedemikian rupa. Hal ini membuat sistem kekebalan tubuh tiap orang tak akan mendeteksi sel jahat tersebut, apalagi menghancurkannya. 

Nah dalam metode imunoterapi ini, sistem kekebalan ditingkatkan guna mendeteksi sel kanker dengan lebih efektif. Pengobatan ini diyakini membantu menghentikan atau memperlambat pertumbuhan sel kanker, mencegah kanker menyebar ke bagian tubuh lain dan membantu sistem kekebalan tubuh bekerja lebih baik melawan kanker.

Sama seperti metode pengobatan kanker lainnya, imunoterapi menjadi harapan bagi penderita kanker. Negara yang mengadopsi metode ini adalah Polandia. 

"Pengobatan kanker telah berkembang selama bertahun-tahun. Banyak sudah pengobatan untuk melawan kanker, seperti radioterapi, kemoterapi, terapi terarah dan adanya imunoterapi ini menandai tonggak sejarah dalam onkologi," ujar Ang Peng Tiam, Direktur Medis dan Konsultan Senior Onkologi Medis di Parkway Cancer Centre kepada VIVA.co.id beberapa waktu lalu. 

Jalan lain melawan kanker juga dilakukan peneliti lain dengan memanfaatkan virus. Ya melawan ganasnya kanker dengan virus, sudah umum dilakukan. 

Peraih Nobel Kesehatan, Barry James Marshall, yang membidangi penyakit kanker perut berpandangan, cara yang efektif melawan kanker yaitu membuat vaksin kanker. Cara ini dilakukan dengan mengambil sedikit sampel kanker, kemudian gen dari sampel diteliti dan diukur 'tingkat kadar' kankernya. Usai itu, kata James, baru dicari protein yang bisa mengaktifkan sel yang melawan kanker. 

“Seperti menciptakan vaksin khusus untuk kanker ditubuh pasien,” jelasnya kepada VIVA.co.id beberapa waktu lalu. 

Sementara metode penyembuhan kanker yang populer, kemoterapi juga banyak dijalani penderita kanker di seluruh dunia. Kemoterapi melibatkan penggunaan zak kimia untuk melawan kanker. 

Tujuan kemoterapi pada penyembuhan kanker adalah menghambat atau menghentikan pertumbuhan sel-sel onkogen (kanker) pada tubuh pasien. Prinsip kerja obat-obatan kemoterapi adalah menyerang fase tertentu atau seluruh fase pada pembelahan mitosis pada sel-sel yang bereplikasi atau berkembang dengan cepat, yang diharapkan adalah sel onkogen yang bereplikasi. 

Namun belakangan metode ini telah memberikan efek buruk bagi tubuh sang penderita, salah satunya rambut rontok, kulit mengelupas dan lainnya. Makanya, kemoterapi meskipun dibilang efektif, tapi kini sedang ditinjau kembali di dunia internasional. 

Selain soal dampak buruk bagi penderita, kemoterapi juga terbilang malah biayanya. Warsito mengatakan pasien yang jalani terapi ini harus merogoh duitnya sampai US$120 ribu per tahun (Rp1,58 miliar) atau US$10 ribu per bulan (Rp132 juta). 

Penyembuh kanker dari Tanah Air?

Saat seluruh dunia berpadu berusaha menemukan metode efektif membunuh kanker, peneliti dari dalam negeri, Warsito P Taruno tak tinggal diam. Dia telah menemukan teknologi antikaker, yaitu ECCT dan ECVT. 

Bicara soal temuan Warsito, intinya yaitu penggunaan medan listrik untuk menghambat dan membunuh sel kanker. Cara ini dianggap lebih aman dibanding terapi kanker dengan metode kemoterapi.

Warsito mengatakan, ECCT dan ECVT merupakan setara dengan radioterapi untuk terapi serta CT scan untuk pemindai dengan sumber gelombang elektromagnet pengion. Bedanya ECVT dan ECCT memanfaatkan sifat dasar biofisika sel dan jaringan.

Doktor Teknik Elektro di Shizouka University Jepang itu mengatakan ECVT dan ECCT bisa dikatakan tak ada referensinya di dunia luar, karena keduanya lahir di Indonesia, pertama di dunia. ECVT dan ECCT, kata dia, telah jelas memberikan harapan besar untuk terapi kanker berbasis gelombang energi non-radiasi.

Dengan ECCT, misalnya, kasus yang sudah tidak ada jalan keluar sebelumnya seperti kanker di tengah batang otak atau kanker yang sudah menyebar ke seluruh tubuh masih mungkin dibersihkan dengan ECCT.

Terapi antikanker Warsito ini sudah menyedot ribuan pasien di dalam negeri. Saat ini Warsito mengatakan ada 6 ribu pasien yang aktif, namun yang terpantau aktif mencapai 3 ribu pasien. 

Bicara soal efektivitas terapinya, Warsito tak mau jumawa. Tapi dia mengatakan faktanya pasien yang sembuh dengan ECCT tak sampai enam bulan. Pasien yang sembuh kurang dari setengah tahun ini mencapai ratusan. Tapi rata-rata pasien yang sembuh dengan terapinya itu rentang dua sampai tiga tahun. 

"Biasanya benar-benar hilang itu minimal 2.5 tahun. Tinggal pemantauan, kontrol," kata dia kepada VIVA.co.id.

Namun efektivitas teknologi antikanker Warsito itu mendapat ujian dari dalam negeri. Dua kementerian, yaitu Kementerian Kesehatan dan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, meminta evaluasi teknologi tersebut. Alasannya, ingin memastikan teknologi antikanker itu bisa aman diterapkan dalam manusia, nanti kelak jika sudah lulus evaluasi. 

Kanker bisa dicegah

Meski sangat ganas dan menjadi momok, tapi ada secercah harapan bagi warga dunia. WHO menyatakan 43 persen kanker bisa dicegah, dengan menjalani gaya hidup sehat dan menjauhkan diri dari faktor risiko terserang kanker. 

Terjadinya penyakit kanker, mengutip keterangan di laman Kementerian Kesehatan, terkait dengan beberapa faktor risiko, seperti kebiasaan merokok, menjadi perokok pasif, kebiasaan minum alkohol, kegemukan, pola makan yang tidak sehat, perempuan yang tidak menyusui, dan perempuan melahirkan di atas usia 35 tahun. 

"Jika kita menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) maka risiko atau kemungkinan untuk terserang kanker akan berkurang," kata Menteri Kesehatan, Nila Farid Moeloek dalam peringatan Hari Kanker Se-dunia tahun ini.

Perilaku yang perlu diterapkan yaitu: pertama, melakukan aktifitas fisik secara benar, teratur dan terukur; kedua, makan makanan bergizi dengan pola seimbang, cukup buah dan sayur; serta ketiga, mengelola stres dengan tepat dan benar. 

Menkes menerangkan permasalahan kanker di Indonesia cukup besar. Setiap tahun diperkirakan 12 juta orang di dunia menderita kanker dan 7,6 juta diantaranya meninggal dunia. Diperkirakan pada tahun 2030 kejadian tersebut dapat mencapai hingga 26 juta orang dan 17 juta, di antaranya meninggal akibat kanker, dan peningkatan lebih cepat terjadi di negara miskin dan berkembang. 

Laporan Global Burden Cancer (Globocan, 2012) memperkirakan insiden kanker di Indonesia sebesar 134 per 100.000 penduduk. Estimasi ini tidak jauh berbeda dengan  hasil  Riset Kesehatan Dasar Kemenkes pada 2013 yang mendapatkan prevalensi kanker di Indonesia sebesar 1,4 per 1000 penduduk.

"Meningkatnya mortalitas dan morbiditas penyakit tidak menular, termasuk kanker membawa tantangan berupa pembiayaan yang besar," ujar Menkes. 

Bicara soal pengendalian kanker di Indonesia, Menkes mengatakan  hal itu ditentukan oleh keberhasilan penerapan strategi penanganan yang komprehensif, terorganisir, terkoordinasi dan berkesinambungan dan dilaksanakan oleh seluruh jajaran Pemerintah bersama segenap lapisan masyarakat.

Pemerintah saat ini telah melaksanakan beberapa program dalam pengendalian kanker yaitu upaya promotif dengan mengeluarkan regulasi antara lain kawasan tanpa rokok (KTR), diet sehat dan kalori seimbang. Selain itu, dalam upaya pencegahan, Kemenkes dengan dukungan organisasi profesi,  Yayasan Kanker Indonesia dan masyarakat telah mengembangkan program deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara di Puskesmas. 

(ren)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP