TUTUP
TUTUP
FOKUS

Drone Amfibi, Pengawal Pertahanan RI

Bisa lepas landas dan mendarat di air maupun darat.
Drone Amfibi, Pengawal Pertahanan RI
Drone OS Wifanusa (VIVA.co.id/Agus Tri Haryanto)

VIVA.co.id – Ruang sidang paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada 20 Oktober 2014 bergemuruh. Semua hadirin bertepuk tangan.

Di sebuah mimbar, Joko Widodo, yang saat itu baru saja diambil sumpahnya sebagai Presiden ke-7 RI, menyampaikan pidato singkatnya. Salah satu isinya menyinggung tekad untuk mengembalikan Indonesia sebagai negara maritim.

"Samudera, laut, selat, dan teluk adalah masa depan peradaban kita. Kita telah terlalu lama memunggungi laut, memunggungi samudera, memunggungi selat dan teluk," kata Jokowi, saat itu yang disambut tepuk tangan hadirin.  

Sebagai negara dengan belasan ribu pulau, kekuatan maritim di Tanah Air belum optimal tergarap. Riset kelautan pun masih sangat minim.

Indonesia masih membutuhkan banyak teknologi untuk mewujudkan tekad Jokowi itu. Merealisasikan semboyan nenek moyang di masa lalu kembali membahana di seantero negeri. "Jalesveva Jayamahe, di laut justru kita jaya".

Untuk memanfaatkan potensi maritim itu, pertahanan di laut tak boleh abai. Pemanfaatan teknologi untuk pertahanan menjadi salah satu solusi.

Dan, sebentar lagi, Kementerian Pertahanan akan menerbangkan dua unit burung besi Unmanned Aerial Vehichle (UAV) atau pesawat tanpa awak bernama OS Wifanusa.

UAV tersebut merupakan salah satu karya anak bangsa melalui produksi oleh PT Trimitra Wisesa Abadi.

Menariknya, UAV yang digarap oleh Trimitra Wisesa Abadi ini merupakan pesawat tanpa awak tipe amfibi pertama di Tanah Air. Konsep awalnya, bagaimana drone bisa terbang dan mendarat, bukan hanya di landasan, tetapi juga di air.
 
"Pertama bukan satu-satunya, tetapi untuk UAV kelas tinggi dan itu amfibi baru," ujar ujar Yosa Rosario, Electrical and Programmer System Trimitra Wisesa Abadi ditemui VIVA.co.id di Topad Mabes AD, Jalan Kali Baru Timur, Jakarta, Selasa 26 April 2016.

Yosa melanjutkan, daya jelajah UAV yang terbatas membuat drone tersebut kesulitan untuk menemukan landasan yang tepat untuk di darat. Terlebih, UAV berbeda dengan pesawat awak yang daya jelajahnya luas hingga menggapai landasan yang diinginkan.

"Untuk UAV terbaik di Indonesia itu jangkauannya sekitar 100-200 kilometer. Kalau sekitar itu akan kesulitan menemukan landasan, terutama drone untuk pemantauan daerah terluar Indonesia,” ujarnya.

Dia mengatakan, dengan profil Indonesia yang dikenal sebagai negara maritim dengan wilayah yang lebih banyak airnya, Wifanusa tidak perlu mencari landasan. Tapi, di air sudah bisa mendarat atau terbang.

Drone berwarna hijau dan tampak menyerupai helikopter versi mini ini, dapat lepas landas pada ketinggian 5.000 meter atau 15.000 kaki di atas permukaan.

Pesawat tanpa awak yang akan diserahkan ke Kementerian Pertahanan pada Juni 2016 ini, dapat mengangkasa 8-10 jam dengan bahan bakar Pertamax.

"Daya jelajahnya sampai 500 kilometer. Wifanusa dapat mendarat atau terbang di atas lautan yang tenang, bukan kondisi badai," ucapnya.

Proses pembuatan Wifanusa ini menghabiskan waktu riset sekitar tiga tahun. Namun, terkait biaya, Yosa menolak untuk membeberkannya. Tapi pastinya, Kementerian Pertahanan memesan drone amfibi itu sebanyak dua unit.

"Bulan Mei akan selesai masa uji cobanya dan pada Juni kami akan serah terima dengan Kementerian Pertahanan," kata dia.

Selanjutnya...Pantau Wilayah Terluar

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP