TUTUP
TUTUP
MINIMIZE
CLOSE
FOKUS

Britain Exit dan Efek Dominonya

Tahun 1975, Inggris pernah melakukan referendum serupa.
Britain Exit dan Efek Dominonya
Dukungan "Leave Euro" sekelompok warga Inggris di Ibu kota London. (Reuters/Neil Hall)

VIVA.co.id – Kamis, 23 Juni 2016 akan menjadi hari bersejarah bagi Inggris. Hari itu rakyat Inggris di seluruh dunia akan menentukan masa depan negaranya melalui gelaran jajak pendapat atau referendum.

Di mana mereka harus memilih, apakah Inggris tetap bergabung atau ke luar dari Uni Eropa (Brexit atau Britain Exit). Bukan perkara mudah untuk memutuskan.

Komisi Pemilihan Inggris memberikan tiga opsi dalam memberikan hak suara bagi warganya. Yaitu “direct” (langsung), “proxy vote” (diwakilkan) dan “postal vote” (berkirim surat).

Sementara, menurut polling dari beberapa media Inggris menyebut kekuatan suara dukungan antara pro dan kontra berimbang. Kalau pun satu diantaranya unggul itu hanya tipis.

Menurut catatan VIVA.co.id, peristiwa ini bukanlah kali pertama terjadi bagi Inggris dan Uni Eropa. Pada 1975, Inggris juga pernah mengadakan referendum serupa.

Namun, pada waktu itu diputuskan Inggris tetap berada di dalam Uni Eropa. Sehingga, dapat dikatakan bahwa peristiwa bersejarah saat ini seperti deja vu (mengingat kembali kejadian serupa).

Kala berbincang dengan VIVA.co.id, Kamis, 23 Juni 2016, pakar Hubungan Internasional, Anak Agung Banyu Perwita menuturkan, jika Inggris ke luar dari Uni Eropa  akan berdampak besar. Baik dari sisi ekonomi maupun politik.

Selain itu, tidak hanya blok 28 negara saja yang merasakan dampaknya, tetapi juga Amerika Serikat. "Ini seperti efek domino. Bila sebuah negara di suatu kawasan terkena masalah, maka dampak atau efeknya, negara-negara sekitar akan ikut terpengaruh juga," kata Banyu.

Artinya, ia melanjutkan, jika Inggris ke luar maka berdampak ke negara-negara seperti Jerman, Prancis, dan Belanda. Bahkan, imbasnya pun ke negara yang masih terdampak krisis seperti Yunani, Portugal dan Italia.

Baca: Proses Inggris Ke luar dari Uni Eropa Makan Waktu Tujuh Tahun

Perdagangan terganggu

"Krisis ekonomi yang belum pulih sejak tahun 2008 serta krisis migran, adalah diantara penyebab Inggris ingin pisah dari Uni Eropa," kata Banyu.

Dari aspek ekonomi. Menurut dia, para pendukung yang ingin tetap menyatakan Inggris akan menjadi lebih kuat di dalam blok Benua Biru. Mereka menyatakan Uni Eropa akan mendorong ekonomi Inggris, dan ke luar adalah sebuah kesalahan.

"Sentimen Brexit lebih banyak pengaruhnya pada kondisi perekonomian di zona Eropa. Ini langsung bersentuhan dengan mata uang Inggris, poundsterling yang melemah dan penguatan euro," ungkapnya.

Sementara, Kementerian Keuangan Inggris belum lama ini mengatakan jika Brexit terjadi maka setiap rumah tangga akan menanggung beban setara 4.300 poundsterling dan Bank Sentral Inggris (Bank of England) juga menyebut bakal terjadi resesi ekonomi.

Sedangkan, pendukung Brexit mengklaim ongkos tetap bergabung dengan Uni Eropa memakan biaya sebesar 350 juta poundsterling tiap pekan, atau hampir 20 miliar poundsterling setiap tahunnya.

Banyu juga mengungkapkan, dari sektor perdagangan, ke luarnya Inggris akan mengganggu kerja sama perdagangan. Sebab, sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua di Eropa, membuat blok itu membutuhkan pasar Inggris.

"Khususnya soal tarif barrier maupun nontarif barrier. Tapi menurut saya, dampaknya akan lebih besar ke nontarif barrier. Ini menjelaskan kenapa bergabung dengan Uni Eropa bisa meningkatkan ekspor Inggris," ujar dia.

Efek Domino andaikata Inggris keluar dari Uni Eropa.

Uni Eropa runtuh?

Dari aspek politik. Doktor lulusan Flinders University, Adelaide, Australia itu menjabarkan, AS akan lebih merasakan dampaknya ketimbang ekonomi. Karena akan mengubah alur politik luar negeri Paman Sam.

Adalah keanggotaan Inggris di NATO akan menjadi "duri dalam daging". Pasalnya, kata Banyu, bakal terjadi gesekan kepentingan yang merembet ke semua sektor.

"Saya melihat keberpihakan Amerika akan terbelah. NATO dan Inggris. Tak hanya politik tapi gesekan akan menular ke sektor keamanan dan ekonomi juga," paparnya.

Ia pun secara tegas mendukung remain atau Inggris agar tetap berada di Uni Eropa untuk menghindari pergolakan ekonomi dan politik panjang. Kendati demikian, akankah Uni Eropa bubar?

Banyu memprediksi hal tersebut bisa saja terjadi. Mengingat, Inggris merupakan negara dengan ekonomi terbesar setelah Jerman di Eropa.

Meski tidak menyebut jangka waktunya, tapi Brexit akan menjadi pil pahit untuk mengobati penyakit demi terwujudnya mimpi kesatuan politik Uni Eropa yang kokoh.

Bagi Inggris sendiri, jika Brexit benar-benar terjadi secara ekonomi para pakar memperkirakan bahwa akan ada masa ketidakpastian paling tidak untuk dua tahun selagi Inggris menegosiasikan perjanjian barunya dengan Uni Eropa.

Banyu melanjutkan, dampaknya ke Asia, khususnya Indonesia, bersifat temporer atau sementara. Namun, Indonesia tentu akan mengkaji dampak dan manfaatnya, terutama dalam status dan kebebasan Inggris dari regulasi yang diterapkan Uni Eropa.

"Walau tidak berdampak langsung, Indonesia harus belajar dari kasus ini. Di mana sebuah entitas kuat ternyata memiliki kelemahan," kata Banyu, memperingatkan.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP