TUTUP
TUTUP
FOKUS

Sengkarut 1MDB dan Nasib Pak Tun

”Diserang” dari berbagai arah, namun keukeh tak bersalah.
Sengkarut 1MDB dan Nasib Pak Tun
PM Malaysia Najib Tun Razak (tengah) bersama Partai UMNO. (REUTERS/Bazuki Muhammad)

VIVA.co.id – Penyelidikan kasus megakorupsi perusahaan investasi negara, 1 Malaysia Development Berhad (1MDB) memasuki babak baru. Kali ini trio lembaga Amerika Serikat, Departemen Kehakiman, Biro Investigasi Federal (FBI) dan Lembaga Pajak (Internal Revenue Service) melakukan investigasi mendalam sekitar satu tahun.

Menurut Jaksa Agung Federal AS, Loretta Lynch, hasil investigasi menunjukkan bahwa uang US$3,5 miliar (Rp46,2 triliun) milik rakyat Malaysia telah dialihkan dari 1MDB selama periode 2009-2015. Tak pelak, nama Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak terbawa. Sebab, dia adalah pendiri perusahaan tersebut pada 2009.

Sebelumnya, Pak Tun, panggilan akrab Najib, pernah digoyang isu serupa yang merugikan negara sebesar US$681 juta (Rp8,42 triliun) pada 2014. Aliran dana itu tidak transparan dan terkesan ditutup-tutupi Pemerintah Malaysia.

Hal ini yang menyebabkan Pak Tun dituding melakukan korupsi dalam kasus 1MDB. Ditambah lagi laporan dari sumber yang dekat dengan lingkaran Najib bahwa dia dituding menerima uang sebesar US$1 miliar (Rp13,2 triliun), bukan angka yang disebutkan sebelumnya.

Uang sebesar itu adalah sah milik negara, yang harusnya diinvestasikan untuk proyek-proyek pembangunan Malaysia melalui 1MDB. Namun, disimpan di rekening pribadi Najib pada periode 2011-2013. Setidaknya tiga negara “penasaran” turun tangan menyelidiki skandal korupsi ini.

Baca: Nasib UMNO Setelah Mundurnya 'Dr. M'

Lynch pun gerah dan berencana menyita aset-aset 1MDB. "Kita semua tahu Perdana Menteri Malaysia Najib Razak yang membentuk dan memimpin 1MDB. Ia kami duga bekerja di belakang layar bersama taipan flamboyan bernama Low Taek Jho, juga dikenal sebagai Jho Low, dalam melakukan aksinya," kata Lynch, seperti dikutip dari situs Malaysiakini, Jumat, 22 Juli 2016.

Selain menyebut nama PM Razak dan Low, Lynch juga menyebutkan nama "Aziz" berkali-kali. Mereka mengatakan bahwa "Aziz" adalah salah satu orang yang diduga terlibat dalam pengalihan dana dari 1MDB. "Aziz" merujuk pada anak tiri PM Razak, Riza Aziz. Ia pun diberi label "Malaysia Official 1".

“Layering”

"Ini bukanlah akhir. Saya yakin bahwa akan ada dakwaan pidana terhadap individu tertentu. Dimulai dari Riza Aziz dan Jho Low. Kami pun siap kalau penyelidikan ini akan berdampak signifikan pada hubungan AS dan Malaysia," ungkap Lynch.

Saat ini, "Malaysia Official 1" atau Riza Aziz merupakan sosok "penyambung konspirasi yang belum didakwa (unindicted co-conspirator). Kendati demikian, Lynch optimistis bila Aziz akan tertangkap dan kemungkinan besar akan diadili di AS.

Selanjutnya Singapura. Mereka akan mengambil tindakan tegas terhadap empat bank besar karena mereka diduga terlibat dalam skandal megakorupsi 1MDB.

Melansir situs BBC, Jumat, 22 Juli 2016, keempat bank besar tersebut yakni Standard Chartered (Stanchart) Bank, UBS, DBS, dan Falcon Bank.

Monetary Authority of Singapore (MAS) atau Otoritas Moneter Singapura, selaku regulator keuangan dan makro, menemukan adanya penyimpangan serta kelemahan dalam pengawasan soal pencucian uang di empat bank tersebut.

Kini, 1MDB menjadi pusat penyelidikan korupsi global, setelah Kejaksaan Agung Federal Amerika Serikat mengumumkan akan menyita aset-aset perusahaan asal Malaysia itu.

Singapura mengikuti jejak AS dan Swiss yang menyelidiki dugaan penggelapan dana di 1MDB. MAS, dalam sebuah pernyataan, menyebut sudah menyelidikinya sejak Maret 2015.

Penyelidikan dilakukan setelah Kejaksaan Agung Singapura menyita aset senilai US$177 juta (Rp2,34 triliun/£134 juta) yang terkait dengan 1MDB.

MAS mengungkapkan transfer harta kekayaan yang ditempatkan di empat bank besar yang sumbernya berasal dari pencucian uang (money laundering) atau biasa dikenal layering.

“La Maison de Vincent a Arles”

Biasanya, MAS melanjutkan, layering dilakukan dengan tujuan menyamarkan asal aliran dana dari kegiatan tertentu.

"Dalam beberapa kasus, Shell atau perusahaan pihak ketiga tidak sah yang berdomisili di berbagai yurisdiksi dipakai untuk menyembunyikan asal uang yang sebenarnya," bunyi pernyataan MAS.

Baca juga: Ke Mana Duit 1MDB Mengalir?

Sementara itu, Kepolisian Swiss menyita tiga lukisan ternama yang diduga terkait dengan korupsi 1MDB. "Penyitaan itu dilakukan atas permintaan dari pihak berwenang AS," kata Juru Bicara Kementerian Kehakiman Swiss, seperti dikutip situs BBC.
 
Adapun karya seni yang disita ini teridentifikasi sebagai lukisan sketsa dari pelukis Vincent van Gogh berjudul 'La Maison de Vincent a Arles'. Kemudian, ada pula lukisan karya Claude Monet berjudul 'Nympheas avec Reflets de Haute Herbe' dan 'Sainte-Georges Majeur'.
 
Pihak berwenang Swiss menolak untuk mengatakan di mana lukisan itu disita, karena operasi tengah berlangsung. Kendati mendapat “serangan bertubi-tubi dari berbagai arah”, 1MDB bersikukuh tidak memiliki aset apa pun di Amerika Serikat.

"Kami menyoroti (rencana penyitaan aset oleh AS) bahwa itu bukan pihak gugatan perdata. Kami tidak memiliki aset di AS, dan tidak memiliki manfaat atas berbagai transaksi yang dijelaskan dalam gugatan perdata," bunyi pernyataan resmi 1MDB, seperti dikutip situs Channel News Asia.

Selain itu, pihak 1MDB mengklaim belum dihubungi oleh Depkeh AS atau lembaga asing lainnya dalam kaitannya dengan penyelidikan dugaan mega korupsi tersebut.

Kendati demikian, 1MDB akan sepenuhnya bekerja sama dengan otoritas asing yang sah, dan mengikuti protokol internasional yang berlaku.

Antara mundur dan bantahan

Menolak tuduhan dan bersedia kooperatif, toh, tidak membuat pimpinan partai oposisi Malaysia, Wan Azizah Wan Ismail tinggal diam. Ia dengan lantang menyerukan Perdana Menteri Najib Razak mundur setelah Kejaksaan Agung Federal Amerika Serikat mengajukan tuntutan hukum.

Wan Azizah juga mendorong sebuah komisi independen untuk menyelidiki klaim korupsi adanya gugatan perdata yang diajukan di California, AS, pada Rabu.

"Saya percaya kalau masyarakat Malaysia ingin Dato' Sri Najib mundur sebagai perdana menteri agar tidak membuat persepsi negatif terhadap penyalahgunaan kekuasaan," kata Wan Azizah, seperti dikutip dari situs Channel News Asia.

Mundurnya Najib, ia melanjutkan, memudahkan aparat hukum melakukan proses penyelidikan supaya transparan dan bebas tendensi tentang masalah yang sangat serius ini.

Baca: Gedung Putih Angkat Bicara soal Korupsi 1MDB

Tak hanya itu, permintaan diusutnya Pak Tun dikeluarkan setelah laporan dari Komite Keuangan Negara (PAC) bentukan dari anggota Parlemen Malaysia.

Di mana 14 anggota parlemen berisi sembilan dari partai koalisi Barisan Nasional dan lima dari partai oposisi menyerahkan laporan dan rekomendasi terhadap 1MDB yang berada di berada di bawah Kementerian Keuangan.

Melihat banyaknya tekanan, akhirnya Pak Tun angkat suara. Seperti sudah ditebak, ia membantah keras memperoleh dana tersebut. Tuduhan korupsi yang diarahkan kepadanya, bahkan memicu aksi unjuk rasa agar dia mundur dari jabatan.

Aksi itu juga didukung oleh mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad yang menilai Pak Tun berada di balik hilangnya dana 42 miliar ringgit milik 1MDB.

Pak Tun menambahkan, setelah mengkaji isi laporan dari PAC, dia melihat bahwa tidak ada uang sebesar 42 miliar ringgit hilang dari 1MDB seperti yang sudah dituduhkan oleh Mahathir. Tetapi laporan itu jelas memperlihatkan kelemahan struktur dan manajemen dari 1MDB.

"Kami akan mempelajari laporan ini dan melakukan tindakan. Harus dipastikan bahwa ada bukti pelanggaran maka tindakan akan diambil," tuturnya.

Sengkarut 1MDB memang membuat runyam dan merujuk pada satu orang, Pak Tun.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP