TUTUP
TUTUP
FOKUS

Cara Brutal Presiden Filipina Berantas Mafia

Baru sebulan 400 nyawa melayang di jalanan. Tak semua setuju.
Cara Brutal Presiden Filipina Berantas Mafia
Seorang pria mengenakan gelang tangan dan bersumpah tak lagi gunakan narkoba. (Reuters/Romeo Ranoco)

VIVA.co.id - Presiden Filipina Rodrigo Duterte terus memperlihatkan keganasannya memberantas perdagangan dan peredaran narkoba di negaranya. Baru satu bulan menjabat jadi Presiden, lebih dari 400 nyawa melayang di jalanan.

Aksi terbaru yang disampaikan Duterte adalah, ia akan segera mengumumkan belasan pejabat pemerintah yang diduga terlibat dalam perdagangan ilegal narkotika. Pengumuman itu disampaikan pada Kamis, 5 Agustus 2016, selang sehari setelah terjadi aksi adu tembak dengan pengawal wali kota Albuera, Rolando Espinosa, dirumah Espinosa.

Enam orang pengawal wali kota tewas. Espinosa sendiri sudah lebih dulu menyerahkan diri setelah Duterte mengancam akan memburu Erwin, anak laki-laki Espinosa yang berada dalam jaringan pengedar narkotika. Polisi Filipina masih terus mencari keberadaan Erwin.

Penasihat hukum Duterte Salvador Panelo mengatakan, Presiden Filipina yang baru satu bulan lalu dilantik itu sudah menyimpan 27 nama politisi, dan akan segera mengumumkannya.

Tindakan Duterte hari ini mengikuti aksi-aksi sebelumnya. Sejak menjadi wali kota Davao, Duterte terkenal keras pada pengedar narkoba, perampok dan pemerkosa. Dan itu pula yang ia janjikan semasa kampanye, bahwa ia akan membersihkan Filipina dari perdagangan narkoba. Saat terpilih menjadi Presiden Filipina, 100 nyawa orang yang diduga penjahat sudah melayang. Padahal saat itu ia belum dilantik.

Angka kematian di jalanan meningkat terus setelah Duterte dilantik menjadi Presiden Filipina. Ia berjanji akan menindak tegas siapa saja yang terkait dengan perdagangan narkotika. Ia bahkan mengizinkan warga Filipina menembak langsung jika mereka mengetahui ada seseorang di lingkungan terdekat mereka yang terlibat dalam perdagangan narkoba.

"Jika seorang pelaku kriminal melawan, dan ia melawan sampai mati, Anda bisa membunuhnya. Silakan kontak kami, kepolisian, atau jika Anda memiliki senapan, silakan lakukan sendiri. Saya mendukung Anda," ujarnya seperti dikutip dari CNN, Juni 2016.

402 Nyawa Melayang

Dikutip dari Al Jazeera, Kepolisian Nasional Filipina mengatakan, satu bulan setelah mantan wali kota Davao itu menjabat sebagai Presiden Filipina, 402 orang sudah tewas terbunuh. Lebih dari 5.400 orang ditangkap, dan sekitar 565.805 orang menyerahkan diri. Angka itu belum termasuk puluhan lainnya yang tewas dan tak teridentifikasi.

Presiden Duterte juga menyebutkan, ada lima jenderal di kepolisian yang terlibat dalam aktivitas perdagangan ilegal narkotika, tiga di antaranya masih bertugas aktif.

Seorang pengacara HAM  yang juga pengamat, Azadeh Shahshahani, mengatakan pada Al Jazeera, pembunuhan tersebut tren yang mengkhawatirkan dalam isu mengenai Duterte.

"Presiden dan jajarannya harus mengingat bahwa tuduhan seharusnya terjadi setelah melalui proses yang adil melalui pengadilan independen, terlepas dari beratnya pelanggaran, hukum internasonal yang sudah berlaku harusnya juga dipatuhi," ujarnya.

Pernyataan Shahshahani juga didukung Edre Olalia, Sekjen Persatuan Nasional Pengacara Publik Filipina. Ia mengatakan, pembunuhan itu juga harus dihentikan. "Ancaman narkotika harus dihentikan. Namun serial pembunuhan yang digelar dijalanan pada pedagang narkotika di jalanan atau pengedar kelas kakap juga harus dihentikan," ujarnya, seperti dikutip dari Reuters, Juli 2016.

Proses pembersihan pengedar dan bandar narkoba yang terjadi di Filipina memang mengerikan. Nyaris setiap malam ditemukan mayat-mayat bersimbah darah yang bergelimpangan di jalanan. Jika dalam satu bulan Duterte menjabat sudah 400 orang yang tewas, maka secara hitungan kasar dalam satu hari, sekitar 11 orang yang menjadi korban pengadilan jalanan. Mereka ditemukan di bawah jembatan, di gang-gang sempit, di jalan raya, di samping toko, dan tempat-tempat lain.

Penolakan terhadap cara Duterte juga datang dari negara lain. Diberitakan Daily Mail, Rabu, 4 Agustus 2016, Kelompok HAM dan anti-narkotika dari berbagai negara memohon pada United Nations Office on Drugs and Crima (UNODC) dan International Narcotics Control Board (INCB) untuk mengutuk cara Duterte memerangi peredaran narkotika. Australian Drug Foundation dan Canadian Drug Policy meminta Duterte menghentikan pembunuhan dan menghormati perlindungan hukum dan hak setiap orang, termasuk pengguna narkoba.

Tanpa proses pengadilan yang jelas dan adil, ratusan nyawa melayang di jalanan di berbagai kota di Filipina, nyaris setiap malam. Salah satu penembakan yang menjadi viral adalah penembakan yang terjadi pada Michael Siaron, seorang pria penarik pedicab, kendaraan roda tiga yang biasa mengangkut penumpang. Jennilyn Olaires, istri Siaron mengakui suaminya adalah seorang pengguna narkoba, namun ia sangat tak yakin suaminya adalah pengedar. "Kami terlalu miskin dan harus bekerja sangat keras untuk mendapatkan makanan berikutnya," ujar Olaires, perempuan berusia 26 tahun yang juga berjualan kaki lima, seperti dikutip dari Reuters.

Foto Olaires yang sedang menangis memeluk suaminya lalu meluas. Apalagi Olaires berulangkali mengatakan, suaminya bukan pengedar. Michael bahkan memilih Duterte untuk menjadi Presiden Filipina saat pemilu lalu. Olaires merasa suaminya tak seharusnya dibunuh. "Mereka seharusnya membunuh orang-orang yang sudah tak layak untuk hidup. Mereka yang mengancam masyarakat. Karena orang-orang seperti itu menakutkan bagi orang lain. Namun bukan membunuh orang-orang tak bersalah," ujarnya.

Tapi Duterte membatu. Ia bergeming dari celotehan dan kecaman orang-orang yang memintanya menghentikan aksi pembunuhan jalanan tersebut. Ia bahkan menyebut foto-foto Olaires yang menangis sambil terus memeluk suaminya yang terbujur kaku sebagai sebuah hal yang melodrama.

Olaires memilih tak peduli. "Saya tak butuh perhatian presiden," ujarnya. "Saya tahu ia tak menyukai orang-orang ini. Tapi bagi saya, saya hanya berharap mereka (pemerintah) bisa menemukan tersangka yang tepat."

Belum ada data apakah aksi Duterte mampu meredam angka kejahatan dan perdagangan narkoba di Filipina. Namun yang pasti, sejak ia resmi menjabat sebagai Presiden Filipina, jumlah mereka yang tewas dijalan mengalami peningkatan signifikan.

Duterte bisa jadi benar dengan keinginannya memberantas kejahatan narkoba dengan kekerasan. Namun siapa yang bisa menjamin tak ada kesalahan saat memilih terduga yang layak dihabiskan nyawanya. Dan itulah jawaban Olaires saat ditanya Reuters, apakah ada pesan yang ingin ia sampaikan pada Duterte, Olaires berkata singkat, "bunuh narkobanya, bukan bunuh orang-orangnya."

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP